PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU– Kabar tentang partai politik nasional yang memiliki klub Liga 2 berbasis di Surabaya kembali memunculkan satu pertanyaan menarik: sejauh mana politik boleh masuk ke sepak bola?
Fenomena partai politik yang bersinggungan dengan kepemilikan atau pengelolaan klub sepak bola sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Di berbagai negara, sepak bola tak hanya menjadi urusan 90 menit di lapangan. Klub bisa berkembang menjadi simbol identitas, alat membangun citra, bahkan bagian dari strategi politik.
Garis antara olahraga dan kepentingan politik pun terkadang menjadi sangat tipis.
Salah satu contoh paling menarik bisa ditemukan di Istanbul, Turki, melalui Istanbul Basaksehir.
Istanbul Basaksehir lahir dari perubahan besar terhadap sebuah klub yang sebelumnya dimiliki pemerintah kota Istanbul. Pada 2014, klub tersebut direbranding dan kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan baru di kompetisi kasta tertinggi Turki.
Namun, Basaksehir tidak sekadar menarik perhatian karena prestasinya di lapangan.
Klub ini juga kerap dikaitkan dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Salah satu hal yang paling mudah terlihat adalah identitas warna klub. Kombinasi oranye dan biru yang digunakan Basaksehir disebut memiliki kemiripan dengan warna khas AKP.
Kedekatan tersebut juga memiliki sejarah personal dengan Erdogan.
Erdogan pernah hadir dalam peresmian Fatih Terim Stadium, stadion yang menjadi markas Basaksehir. Dalam laga pembuka stadion tersebut, Erdogan bahkan sempat bermain dan mencetak tiga gol.
Nomor punggung 12 yang dikenakannya kemudian dipensiunkan oleh klub sebagai bentuk penghormatan.
Bagi sebagian pihak, rangkaian fakta tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan antara klub, sepak bola, dan lingkar kekuasaan politik Turki.
Yang menarik, Basaksehir bukan klub tradisional yang selama puluhan tahun mendominasi sepak bola Turki.
Namun, dukungan finansial dari sejumlah pengusaha yang memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan membuat klub tersebut mampu berkembang pesat.
Puncaknya terjadi pada 2020.
Basaksehir berhasil merebut gelar juara Liga Turki dan memutus dominasi tiga klub besar Istanbul Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas.
Prestasi tersebut sekaligus membuat Basaksehir semakin sering dibicarakan bukan hanya sebagai klub sepak bola, tetapi juga sebagai fenomena yang berada di persimpangan antara olahraga, bisnis, dan politik.
Fenomena Ini Ternyata Mendunia, Basaksehir bukan satu-satunya contoh.
Di Siprus, Omonia Nicosia memiliki sejarah panjang dengan gerakan politik sayap kiri dan Partai AKEL.
Sementara di Rusia, FC Akhmat Grozny kerap dikaitkan dengan pemerintahan lokal Chechnya di bawah Ramzan Kadyrov. Klub tersebut bahkan menjadi salah satu simbol yang menampilkan pengaruh politik dan kekuasaan lokal melalui olahraga.
Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam berbagai bentuk di sejumlah negara.
Mengapa sepak bola begitu dekat dengan politik?
Jawabannya mungkin sederhana.
Karena sepak bola memiliki massa, emosi, identitas, dan perhatian publik yang luar biasa besar.
Sebuah klub bukan hanya sebelas pemain yang berlari mengejar bola.
Di baliknya ada jutaan penggemar, komunitas, stadion, media, sponsor, serta identitas daerah yang bisa menjadi modal sosial dan politik yang sangat kuat.
Karena itu, ketika kepentingan politik mulai masuk ke dalam pengelolaan klub, pertanyaan mengenai independensi olahraga, transparansi kepemilikan, tata kelola, dan potensi konflik kepentingan menjadi penting untuk dibicarakan.
Kabar mengenai parpol yang memiliki klub Liga 2 berbasis di Surabaya tentu menarik untuk dilihat lebih jauh.
Jika benar terjadi, publik tentu akan menunggu bagaimana struktur kepemilikannya, bagaimana tata kelolanya, serta sejauh mana klub tersebut tetap menjaga profesionalisme sebagai institusi olahraga.
Sebab, sepak bola Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi.
Sepak bola juga membutuhkan tata kelola yang sehat, transparan, profesional, dan bebas dari konflik kepentingan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang memiliki klub.
Tetapi:
Untuk apa klub itu dibangun?
Apakah untuk prestasi olahraga, investasi bisnis, membangun identitas daerah, atau sekaligus menjadi kendaraan kepentingan politik?
Fenomena Basaksehir menunjukkan bahwa hubungan sepak bola dan politik bukan cerita baru.
Dan mungkin, Indonesia sedang memasuki babak baru dalam cerita yang sama.
Menurut kalian, selain Istanbul Basaksehir, klub sepak bola mana lagi yang punya kedekatan dengan institusi atau kekuatan politik?
#SepakBola #Liga2Indonesia #PolitikDanSepakBola #IstanbulBasaksehir #Erdogan #PartaiPolitik #SepakBolaIndonesia #Liga2 #BeritaSepakBola #IsuTerkini

