Close Menu
Publika Indonesia
    What's Hot

    Konsumen Punya Hak, Tapi Seberapa Kuat Posisi Tawarnya?

    05/10/2026

    Bukan Cuma Nakhoda! Polisi Tetapkan 4 Tersangka Kasus KM Virgo Transport 8, Tiga dari Pihak Perusahaan

    05/10/2026

    OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia

    05/10/2026

    Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Banjar: Yudi Andrea Tekankan Pentingnya Persatuan

    02/10/2026

    Ekosistem Perlindungan Konsumen di Bumi Etam: Menguatkan Literasi, Independensi, dan Partisipasi Publik

    01/10/2026
    Publika Indonesia
    • Home
    • Hukum
    • Kriminal
    • pemilu
    • Ekonomi
      1. Wisata
      2. Health
      3. View All

      Sport Tourism di Banjarbaru Makin Hidup, Aeris Boxing Buka Arena untuk Lahirkan Petinju Hebat

      05/06/2026

      “2gether We Grow”, Aeris Hotel Buktikan Bisnis Bisa Tumbuh Sambil Peduli

      30/04/2026

      Dispar Kalsel Gandeng 50 Influencer Promosikan Wisata

      28/04/2026

      Seru dan Menantang, Event Lari Pantai-Gunung Biome Trail Run Mapala Piranha Siap Jadi Ikon Baru Kalsel

      28/04/2026

      Rayakan HUT ke-76 Kalsel, RSGM Gusti Hasan Aman Perkuat Edukasi Kesehatan Gigi Lewat Baksos hingga Lomba Kreatif

      20/07/2026

      Kalteng Tancap Gas Kembangkan Industri Obat Herbal, Bajakah hingga Pasak Bumi Disiapkan Tembus Pasar Nasional

      16/07/2026

      Donor Darah Berbonus Beras, Pakar Perlindungan Konsumen Ingatkan Potensi Celah Tata Kelola

      27/06/2026

      Senyum Ceria Anak Panti Jadi Bukti Kepedulian RSGM Gusti Hasan Aman

      30/04/2026

      Teknologi Hidrogen Mulai Diuji di Indonesia, ESDM : Emisi Bus Bakalan Turun Drastis

      16/08/2026

      Bibit Tanaman dari Taniran Kubah HSS Tembus Kaltim dan Kalteng, Dewan Dorong Pemasaran Lewat Digital

      14/08/2026

      WhatsApp Rilis 3 Fitur Baru untuk Grup, Ada @All hingga Polling Bisa Disembunyikan

      09/08/2026

      Berani Lawan Perusahaan Prancis, Burkina Faso Jatuhkan Denda Rp5 Miliar ke Canal+

      08/08/2026
    • Nusantara
      • Banjarbaru
      • Banjarmasin
      • Kabupaten Banjar
      • Kalimantan Selatan
      • Tanah Bumbu
    • Olahraga
    Subscribe
    Trending Topics:
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Publika Indonesia
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Beranda » Beranda » OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia

    OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia

    Tim PublikaTim Publika05/10/2026

    Oleh: Rihan Pratama

    Ketika John Herdman berbicara soal tekanan suporter Timnas Indonesia, ada satu hal yang tampaknya belum sepenuhnya ia pahami: suporter Indonesia bukan tidak mengerti proses. Justru mereka sudah terlalu lama menunggu proses itu benar-benar dijalankan.

    Menjelang laga kedua fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Malaysia, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengatakan dirinya belum pernah merasakan ekspektasi setinggi yang dihadapinya saat ini. Ia membandingkannya dengan pengalamannya ketika menangani Timnas Kanada.

    Menurut Herdman, suporter Kanada memahami bahwa kemenangan membutuhkan waktu. Membangun sebuah tim, katanya, merupakan proses bertahap.

    Secara teori, tidak ada yang keliru dari pernyataan tersebut.

    Sepak bola memang tidak mengenal sulap. Tim yang kuat tidak lahir dalam semalam. Pembinaan pemain, kualitas pelatih, infrastruktur, kompetisi, hingga budaya sepak bola membutuhkan waktu untuk dibangun.

    Masalahnya, konteks Indonesia berbeda.

    Kalau ucapan tentang “proses” itu diarahkan kepada suporter Timnas Indonesia, rasanya kurang tepat. Sebab, kata “proses” justru sudah terlalu sering terdengar di telinga mereka.

    Ibarat mengajari ikan berenang atau monyet memanjat pohon, suporter Indonesia sebenarnya sudah tahu bahwa sepak bola membutuhkan proses.

    Yang mereka pertanyakan adalah: prosesnya ke mana?

    Setiap kali performa Timnas Indonesia dikritik, kata “proses” hampir selalu muncul.

    Federasi mengatakannya. Pelatih mengatakannya. Bahkan sebagian suporter juga menggunakannya.

    Namun persoalannya bukan pada kata tersebut.

    Persoalannya adalah ketika “proses” hanya menjadi kalimat pembelaan tanpa dibarengi pembenahan fundamental.

    Kalau benar ingin membangun Timnas Indonesia dalam jangka panjang, maka perhatian tidak cukup hanya diarahkan kepada hasil pertandingan tim senior.

    Ada pekerjaan jauh lebih besar yang harus dikerjakan dari akar: pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, kompetisi usia muda, serta ketersediaan infrastruktur sepak bola.

    Lihat negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat seperti Argentina, Spanyol, dan Prancis.

    Mereka tidak membangun tim nasional hanya dengan mencari pemain bagus untuk tim senior.

    Mereka membangun ekosistem.

    Spanyol, misalnya, memiliki tradisi pembinaan pemain muda yang kuat melalui akademi klub-klub seperti Barcelona dan Real Madrid. Kualitas pelatihnya juga terus berkembang hingga banyak pelatih asal Spanyol mampu berkiprah di kompetisi elite Eropa.

    Infrastruktur pun menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.

    Jadi, kalau ingin hasilnya seperti negara sepak bola maju, jangan hanya melihat produknya. Lihat bagaimana mereka membangun pabriknya.

    Indonesia memang mendapatkan tambahan kualitas melalui pemain diaspora.

    Dari perspektif peningkatan kualitas tim nasional dalam jangka pendek, kebijakan tersebut tentu memiliki manfaat.

    Namun, persoalannya muncul ketika pemain diaspora seolah menjadi solusi utama untuk menutupi persoalan pembinaan domestik yang belum selesai.

    Sebab, pemain diaspora tidak boleh menjadi pengganti pembangunan sepak bola dari bawah.

    Federasi memang telah menjalankan sejumlah kompetisi usia muda, seperti Piala Soeratin dan Elite Pro Academy (EPA). Bahkan format EPA juga terus dikembangkan dengan memberikan kesempatan bermain yang lebih reguler kepada pemain muda.

    Ini merupakan langkah positif.

    Tetapi pembinaan pemain tidak berhenti di sana.

    Ada satu fondasi yang jauh lebih bawah dan sering kali luput dari perhatian: grassroots football.

    Dalam pembinaan sepak bola usia dini, setidaknya ada tiga tahapan yang perlu diperhatikan: grassroots, Youth Formative Phase, dan Youth Final Phase.

    Grassroots berada pada tahap awal, ketika anak-anak mulai mengenal sepak bola.

    Di sinilah fondasi karakter dan kecintaan terhadap permainan dibangun.

    Seperti yang pernah disampaikan Indra Sjafri, grassroots merupakan tahap awal anak belajar sepak bola sehingga prosesnya harus dilakukan dengan gembira dan menyenangkan.

    Masalahnya, realitas di lapangan sering kali berbeda.

    Anak-anak yang seharusnya belajar menikmati permainan justru sudah dibebani target kemenangan.

    Orang tua ingin anaknya menjadi juara.

    Pelatih ingin timnya menang.

    Penonton menuntut hasil.

    Bahkan dalam turnamen usia dini, bukan sesuatu yang asing mendengar teriakan seperti, “Patahin aja kakinya!”

    Pertanyaannya sederhana: apakah anak usia dini memang harus mendapatkan tekanan seperti itu?

    Sepak bola grassroots seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk mencoba.

    Berani menggiring bola.

    Berani melakukan kesalahan.

    Berani mengambil keputusan.

    Berani mengambil risiko.

    Dan yang paling penting, berani mencintai sepak bola tanpa takut dimarahi hanya karena gagal memenangkan pertandingan.

    Di sinilah peran coach educator menjadi penting.

    Coach educator bukan sekadar pelatih yang mengejar kemenangan. Ia memiliki tanggung jawab untuk memastikan perkembangan anak dari sisi olahraga, sosial, psikologis, hingga pendidikan.

    Namun, persoalannya, pemahaman mengenai grassroots football di Indonesia masih perlu diperkuat.

    Jika pelatih usia dini masih menggunakan ukuran keberhasilan sebatas jumlah kemenangan dan gelar juara, maka kita berisiko menciptakan pemain yang takut melakukan kesalahan.

    Padahal, kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

    Anak yang selalu takut salah akan sulit berkembang menjadi pemain yang kreatif.

    Karena itu, jika federasi benar-benar serius ingin meningkatkan kualitas Timnas Indonesia, investasi terhadap kualitas pelatih harus menjadi agenda besar.

    Bukan hanya pelatih tim senior.

    Tetapi terutama mereka yang bekerja di lapisan paling bawah.

    Grassroots adalah akar. Kalau akarnya rapuh, jangan heran kalau pohonnya mudah tumbang.

    Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: infrastruktur.

    Mari lihat lingkungan sekitar kita.

    Berapa banyak lapangan sepak bola yang masih tersedia dan benar-benar bisa digunakan anak-anak untuk bermain?

    Tidak banyak.

    Sebagian lapangan berubah menjadi bangunan, kawasan komersial, jalan, atau fungsi lainnya.

    Kalaupun masih tersedia, belum tentu layak digunakan.

    Rumput tidak rata.

    Permukaan berlubang.

    Ukuran tidak sesuai.

    Bahkan ada lapangan yang berada di medan yang tidak ideal.

    Kalau lapangan yang sekadar “bisa digunakan” saja sulit ditemukan, bagaimana kita berharap lahir banyak pemain berkualitas?

    Karena itu, federasi sepak bola semestinya tidak bekerja sendirian.

    Perlu ada kolaborasi serius dengan pemerintah pusat dan daerah untuk membangun serta memperbaiki fasilitas sepak bola di berbagai daerah.

    Tidak semuanya harus berupa stadion megah.

    Satu lapangan yang layak di sebuah kecamatan bisa jauh lebih berarti bagi masa depan sepak bola daripada sekadar membicarakan target juara di level elite.

    Kembali kepada pernyataan John Herdman.

    Mungkin Herdman memang belum memahami sepenuhnya dinamika sepak bola Indonesia.

    Dan itu bisa dimaklumi.

    Ia baru datang ke dalam ekosistem sepak bola yang memiliki sejarah, persoalan, ekspektasi, dan karakter suporter yang berbeda dengan Kanada.

    Tetapi justru karena itulah, penting untuk memahami satu hal:

    Suporter Indonesia sebenarnya bukan alergi terhadap proses.

    Mereka sudah berkali-kali meminta proses.

    Mereka sudah lama meminta pembinaan usia dini diperbaiki.

    Mereka meminta kompetisi yang sehat.

    Mereka meminta pelatih berkualitas.

    Mereka meminta lapangan yang layak.

    Mereka meminta tata kelola sepak bola yang lebih baik.

    Mereka bahkan sudah berkali-kali menulis, berdiskusi, mengkritik, dan memberikan masukan kepada federasi.

    Masalahnya, ketika masukan tersebut tidak segera terlihat dalam pembenahan fundamental, wajar jika kesabaran mulai menipis.

    Maka, ada satu hal yang perlu diluruskan kepada Herdman:

    Yang menginginkan hasil instan bukan selalu suporter. Bisa jadi justru sistem sepak bola kita sendiri yang terlalu sering mencari jalan pintas.

    Memanggil pemain diaspora mungkin bisa menjadi bagian dari strategi meningkatkan kualitas tim nasional.

    Tetapi itu bukan pengganti pembinaan.

    Kemenangan di level senior penting.

    Namun membangun pemain sejak usia enam, tujuh, delapan, hingga belasan tahun jauh lebih penting untuk memastikan keberlanjutan.

    Karena pada akhirnya, Timnas Indonesia yang kuat bukan hanya tentang sebelas pemain terbaik yang kita miliki hari ini.

    Timnas yang kuat adalah ketika setiap tahun Indonesia mampu melahirkan generasi baru pemain yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

    Jadi, Herdman benar dalam satu hal:

    Sepak bola memang membutuhkan proses.

    Tetapi di Indonesia, persoalannya bukan apakah suporter memahami proses.

    Mereka justru sedang menagih: kapan proses itu benar-benar dimulai dari akarnya?

    Dan kalau proses tersebut memang sedang berjalan, publik berhak melihat arahnya bukan hanya mendengar kata-katanya.

    #TimnasIndonesia #JohnHerdman #SepakBolaIndonesia #PSSI #GrassrootsFootball #NaturalisasiPemain #LigaIndonesia #TimnasGaruda #ASEANCup2026 #OpiniSepakBola

    Share. Facebook WhatsApp Twitter LinkedIn Email

    Related Posts

    Konsumen Punya Hak, Tapi Seberapa Kuat Posisi Tawarnya?

    05/10/2026

    Ekosistem Perlindungan Konsumen di Bumi Etam: Menguatkan Literasi, Independensi, dan Partisipasi Publik

    01/10/2026

    MEMBANGUN EKOSISTEM PERLINDUNGAN YANG TERHUBUNG

    12/09/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Konsumen Punya Hak, Tapi Seberapa Kuat Posisi Tawarnya?

    05/10/2026

    Bukan Cuma Nakhoda! Polisi Tetapkan 4 Tersangka Kasus KM Virgo Transport 8, Tiga dari Pihak Perusahaan

    05/10/2026

    OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia

    05/10/2026

    Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Banjar: Yudi Andrea Tekankan Pentingnya Persatuan

    02/10/2026
    Berita Pilihan
    Opini

    Konsumen Punya Hak, Tapi Seberapa Kuat Posisi Tawarnya?

    05/10/2026 Opini

    SERIAL 1  OPINI PERLINDUNGAN KONSUMEN Catatan LPKSM Borneo Kalimantan Oleh: M. Irfan Fajrianur, S.E., S.H.,…

    Bukan Cuma Nakhoda! Polisi Tetapkan 4 Tersangka Kasus KM Virgo Transport 8, Tiga dari Pihak Perusahaan

    05/10/2026

    OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia

    05/10/2026

    Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Banjar: Yudi Andrea Tekankan Pentingnya Persatuan

    02/10/2026

    Recent Posts

    • Konsumen Punya Hak, Tapi Seberapa Kuat Posisi Tawarnya?
    • Bukan Cuma Nakhoda! Polisi Tetapkan 4 Tersangka Kasus KM Virgo Transport 8, Tiga dari Pihak Perusahaan
    • OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia
    • Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Banjar: Yudi Andrea Tekankan Pentingnya Persatuan
    • Ekosistem Perlindungan Konsumen di Bumi Etam: Menguatkan Literasi, Independensi, dan Partisipasi Publik

    Recent Comments

    1. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    2. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    3. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    4. lanacurvaf mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    5. ラブドール mengenai Tangkal Brain Rot, BASAKalimantan Wiki Gelar Dialog Kebijakan untuk Generasi Kritis
    Oktober 2026
    SSRKJSM
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031 
    « Sep    
    © 2026 - PublikaIndonesia.com
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.