PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Museum bukan cuma tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Di tangan generasi muda, museum bisa menjadi pintu untuk mengenal identitas, budaya, sekaligus perjalanan panjang sebuah bangsa.
Semangat itulah yang dibawa Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dalam Lomba Cerdas Cermat Permuseuman Tingkat SMP atau sederajat se-Kalimantan Selatan Tahun 2026.

Digelar di Banjarbaru, Selasa (11/8/2026), kompetisi ini menjadi salah satu rangkaian menyambut Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengusung tema “Cerdas Berbudaya, Menggali Sejarah Budaya Bangsa Melalui Museum”, lomba tersebut tidak sekadar menjadi arena adu cepat menjawab pertanyaan.
Lebih dari itu, kompetisi dirancang untuk mengajak pelajar semakin dekat dengan sejarah, budaya, serta warisan bangsa.
Antusiasme sekolah di berbagai daerah ikut mewarnai kompetisi tingkat provinsi ini.
Peserta yang tampil merupakan pelajar pilihan yang sebelumnya telah melewati proses seleksi di daerah masing-masing. Mereka kemudian membawa nama sekolah dan daerah untuk bersaing di tingkat Kalimantan Selatan.
Kepala Disdikbud Kalsel Abdul Rahim melalui Kepala Bidang Kebudayaan Eddy Suwarto mengatakan, peserta berasal dari kontingen SMP atau sederajat dari 12 kabupaten/kota di Kalsel.
Setiap kontingen terdiri atas tiga siswa inti dan satu guru pendamping.
“Peserta merupakan perwakilan kontingen sekolah SMP sederajat dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Setiap kontingen terdiri dari tiga siswa inti dan satu guru pendamping, dengan total peserta beregu berjumlah 39 siswa,” jelas Eddy.
Dengan komposisi tersebut, panggung kompetisi menjadi tempat bertemunya para pelajar dengan kemampuan terbaik dari berbagai penjuru Banua.
Menurut Eddy, lomba cerdas cermat permuseuman tidak dirancang sekadar untuk menguji seberapa banyak pengetahuan yang mampu dihafalkan peserta.
Ada kemampuan lain yang ikut diuji, mulai dari ketangkasan berpikir, kerja sama tim, sportivitas, hingga keberanian mengambil keputusan dalam waktu singkat.
“Melalui ajang kompetisi seperti ini, mari kita tanamkan rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap daerah, serta semangat pantang menyerah kepada generasi penerus pembangunan Banua,” ujar Eddy.
Dalam suasana kompetisi yang serba cepat, peserta dituntut mampu berdiskusi dengan rekan satu tim, menentukan jawaban, kemudian mengambil keputusan secara tepat.
Artinya, menjadi juara tidak cukup hanya bermodal pintar. Kekompakan dan keberanian juga menjadi kunci.
Untuk memastikan jalannya kompetisi tetap berkualitas dan penilaian berlangsung objektif, panitia menghadirkan tiga dewan juri dari berbagai latar belakang profesional.
Mereka berasal dari unsur purnatugas Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Ketua Program Studi Pendidikan IPS, serta Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kehadiran para juri tersebut diharapkan mampu memastikan setiap peserta mendapatkan penilaian yang profesional, jujur, dan adil.
Eddy juga berpesan kepada para juri agar menjalankan amanah dengan menjaga objektivitas selama kompetisi berlangsung.
Sementara kepada peserta, ia meminta agar seluruh pelajar bertanding dengan penuh percaya diri dan tetap menjunjung tinggi kejujuran.
Kompetisi tingkat provinsi ini juga memiliki misi lanjutan. Lomba tersebut dipersiapkan sebagai bagian dari proses seleksi berjenjang menuju kompetisi tingkat nasional.
Namun, pelaksanaan ajang nasional masih belum dipastikan.
Eddy mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan apakah kompetisi tingkat nasional akan dilaksanakan tahun ini, terutama dengan mempertimbangkan kebijakan efisiensi anggaran.
“Karena kegiatan ini pada dasarnya ada kegiatan yang lebih tinggi lagi, yaitu di tingkat nasional. Kami masih berkoordinasi dengan tingkat nasional apakah kegiatan yang nanti dilaksanakan di tingkat nasional akan diselenggarakan pada tahun ini,” jelasnya.
Di balik persaingan memperebutkan posisi terbaik, Disdikbud Kalsel ingin para peserta membawa pulang sesuatu yang lebih besar dari sekadar piala.
Pengalaman tampil di tingkat provinsi, bertemu pelajar dari berbagai daerah, memperluas wawasan sejarah dan budaya, hingga membangun persahabatan dinilai sebagai bagian penting dari proses pembentukan karakter generasi muda.
Karena itu, Eddy mengingatkan peserta untuk tidak takut kalah dan tidak kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit.
Sebab, kompetisi bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menjawab, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda belajar menghargai sejarah, mengenal budaya, bekerja sama, dan berani mengambil keputusan.
Melalui kegiatan tersebut, Pemprov Kalsel berharap lahir generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat, mencintai budaya daerah, serta memahami pentingnya menjaga warisan sejarah bangsa.
Museum pun tak lagi sekadar ruang untuk melihat masa lalu. Dari sana, generasi muda Kalsel diharapkan belajar untuk menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
#LombaCerdasCermat #CerdasCermatPermuseuman #PermuseumanKalsel #PelajarKalsel #SiswaSMPKalsel #DisdikbudKalsel #KalimantanSelatan #Banjarbaru #BudayaKalsel #SejarahKalsel #MuseumKalsel #HariJadiKalsel #HUTRI #GenerasiMuda #CerdasBerbudaya

