PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU β Warga Kalimantan Selatan kembali diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara. Pada 5 September 2026 pukul 08.00 WITA, sejumlah wilayah Kalsel tercatat memiliki kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Data terbaru yang dibagikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalsel menunjukkan kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin.

Banjarbaru mencatat ISPU 333 atau masuk kategori berbahaya. Sementara Banjarmasin berada pada angka 303, yang juga masuk kategori berbahaya.
Kondisi ini terjadi saat sejumlah wilayah Kalsel masih menghadapi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah laporan lokal juga menyebut kabut asap masih menyelimuti Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Banjar dan Barito Kuala pada pagi hari.
Barito Kuala Sangat Tidak Sehat
Bukan hanya Banjarbaru dan Banjarmasin yang perlu waspada.
Kabupaten Barito Kuala mencatat ISPU 244, masuk kategori sangat tidak sehat.
Kemudian Kabupaten Banjar berada pada angka 197 atau kategori tidak sehat, disusul Tabalong 193 yang juga masuk kategori tidak sehat.
Sementara kondisi udara di Hulu Sungai Selatan relatif lebih baik dengan ISPU 68, yang masih berada pada kategori sedang.
Berikut data kualitas udara yang dipantau DLH Kalsel:
| Wilayah | ISPU | Kategori |
| Banjarbaru | 333 | Berbahaya |
| Banjarmasin | 303 | Berbahaya |
| Barito Kuala | 244 | Sangat Tidak Sehat |
| Banjar | 197 | Tidak Sehat |
| Tabalong | 193 | Tidak Sehat |
| Hulu Sungai Selatan | 68 | Sedang |
Angka tersebut menunjukkan kualitas udara di beberapa wilayah perkotaan dan daerah terdampak asap masih jauh dari kondisi ideal.
Menyikapi memburuknya kualitas udara, DLH Kalsel mengimbau masyarakat yang berada di wilayah dengan kategori berbahayauntuk mengambil langkah perlindungan secara serius.
Warga diminta menghindari seluruh aktivitas di luar ruangan. Jika memang harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker standar medis, seperti N95.
Pintu dan jendela rumah juga diminta ditutup rapat untuk mengurangi masuknya polutan dari luar.
Selain itu, masyarakat diingatkan tetap menjaga kondisi tubuh dengan minum air putih yang cukup.
Yang paling penting, warga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan.
Kualitas udara buruk akibat asap karhutla bukan hanya persoalan jarak pandang atau rasa tidak nyaman ketika beraktivitas di luar rumah.
Paparan asap yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan. Dinas Kesehatan Kalsel sendiri sebelumnya mencatat 3.990 kasus ISPA berdasarkan laporan gabungan puskesmas dan rumah sakit hingga 30 Agustus 2026. Banjarmasin tercatat memiliki laporan terbanyak, disusul Banjarbaru.
Karena itu, kondisi udara saat ini perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.
Banjarbaru Jadi Salah Satu Titik Perhatian
Bagi Banjarbaru, angka ISPU 333 menjadi alarm serius.
Pemerintah Kota Banjarbaru sebelumnya juga telah menyiapkan Rumah Oksigen untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap. Fasilitas di PSC Banjarbaru dan Puskesmas Cempaka dilaporkan tersedia selama 24 jam.
Di tengah kondisi udara yang masih buruk, masyarakat diminta tidak menganggap enteng gejala seperti batuk, sesak, mata perih, atau kesulitan bernapas.
Pesannya sederhana: ketika udara masuk kategori berbahaya, jangan memaksakan aktivitas di luar rumah. Lindungi diri dan keluarga sebelum kondisi kesehatan memburuk.
#ISPUBanjarbaru #ISPUKalsel #KualitasUdaraKalsel #KabutAsapKalsel #Banjarbaru #Banjarmasin #KarhutlaKalsel #Karhutla2026 #KalimantanSelatan #DLHKalsel #UdaraBerbahaya #KabutAsapBanjarbaru #ISPA #KesehatanMasyarakat #InfoBanjarbaru #BeritaKalsel #BeritaBanjarbaru #KalselHariIni #BeritaTerkini #KebakaranHutan

