PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJAR – Air jernih Sungai Batu Balian yang selama ini menjadi daya tarik wisata di Desa Pa’au, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kini berubah drastis.
Warnanya disebut warga berubah menjadi keruh kecokelatan, bahkan dianalogikan seperti minuman Thai tea.

Perubahan kondisi sungai ini diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan emas di kawasan hulu yang sebelumnya ramai diperbincangkan setelah sejumlah video memperlihatkan penggunaan alat berat di kawasan hutan Desa Pa’au.
Seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, air Sungai Batu Balian mulai tercampur lumpur akibat aktivitas di bagian hulu.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap aktivitas wisata yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.
“Di Desa Pa’au selama ini mengembangkan wisata alam Batu Balian dan sungainya yang jernih. Akibat aktivitas ini sudah pasti terancam tutup karena sungainya telah tercampur lumpur lantaran dampak aktivitas tambang di daerah hulunya,” bebernya.
Pengunjung: Airnya seperti Thai Tea
Kondisi air yang berubah warna juga dirasakan pengunjung yang baru datang ke kawasan Batu Balian.
Seorang pengunjung yang meminta namanya tidak dipublikasikan menyebut kondisi sungai saat didatanginya masih tampak keruh.
Bahkan, ia menggunakan perumpamaan yang cukup sederhana untuk menggambarkan perubahan warna air tersebut.
“Datang semalam kaya Thai tea, ini sudah berkurang (kondisi keruhnya),”ungkapnya, Kamis (10/9/2026) pagi.
Menurutnya, kondisi air Sungai Batu Balian saat itu mengingatkan pada kondisi aliran sungai di kawasan Simpang Tiga Kahung, Desa Belangian, Kecamatan Aranio.
“Kaya Simpang 3 Kahung,”katanya.
Perubahan warna air ini tentu menjadi perhatian karena Sungai Batu Balian selama ini dikenal sebagai salah satu daya tarik wisata alam di Desa Pa’au.
Jika kondisi air terus keruh, bukan hanya estetika kawasan wisata yang terdampak, tetapi juga aktivitas masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan.
Tiga Excavator, Dua Berhenti Beroperasi
Di tengah sorotan terhadap dugaan aktivitas pertambangan tersebut, informasi terbaru menyebutkan aktivitas alat berat di lokasi mengalami perubahan.
Pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 22.00 WITA, dua unit excavator disebut telah berhenti beroperasi.
Sementara itu, satu unit alat berat lainnya masih berada di lokasi, tetapi dilaporkan tidak beroperasi.
Tim Gabungan Disebut Bakal Turun ke Lokasi
Persoalan ini pun disebut akan memasuki tahap pemeriksaan lapangan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tim gabungan kepolisian bersama Dinas Kehutanan direncanakan melakukan operasi inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi yang diduga menjadi tempat aktivitas pertambangan.
Langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan berbagai informasi yang beredar di masyarakat.
Mulai dari status dan titik lokasi aktivitas, legalitas pertambangan, penggunaan alat berat, hingga dugaan dampaknya terhadap kawasan hutan dan aliran sungai.
Sebab, dugaan aktivitas tambang emas ilegal tidak hanya menyangkut persoalan ekonomi, tetapi juga berpotensi bersinggungan dengan kelestarian lingkungan dan keberlangsungan wisata masyarakat.
Dari Sungai Jernih Jadi Keruh, Warga Kini Cemas
Batu Balian selama ini menawarkan pesona air sungai yang menjadi bagian dari daya tarik wisata alam Pa’au.
Namun, ketika air berubah keruh, muncul kekhawatiran wisatawan akan berpikir ulang untuk datang.
Bagi masyarakat setempat, persoalannya bukan sekadar perubahan warna air.
Ada usaha wisata, perkebunan, pertanian, perikanan dan masa depan lingkungan yang ikut dipertaruhkan.
Kini perhatian tertuju pada rencana sidak tim gabungan.
Apakah air keruh tersebut benar-benar berkaitan dengan aktivitas tambang di bagian hulu?
Apakah aktivitas pertambangan tersebut memiliki legalitas?
Dan siapa pihak yang bertanggung jawab jika ditemukan pelanggaran?
Jawabannya akan bergantung pada hasil pemeriksaan lapangan dan keterangan resmi aparat serta instansi terkait.
Untuk sementara, satu hal yang sudah dirasakan warga dan pengunjung: Sungai Batu Balian yang biasanya jernih kini berubah keruh.
Dan warga tentu berharap, jangan sampai Thai tea hanya menjadi perumpamaan sementara, tetapi menjadi awal hilangnya pesona sungai yang selama ini menjadi kebanggaan Pa’au.
#SungaiBatuBalian #BatuBalian #DesaPaau #Paau #Aranio #KabupatenBanjar #TambangEmas #PETI #TambangIlegal #TahuraSultanAdam #LingkunganKalsel #WisataKalsel #KalimantanSelatan #BeritaBanjar #BeritaKalsel #PublikaIndonesia #PublikaIndonesiaCom

