PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU β Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hingga 4 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat sudah ada 2.586 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 16.539,65 hektare.
Angka tersebut merupakan akumulasi kejadian sejak 1 Januari hingga 4 September 2026, sehingga bukan jumlah kebakaran yang terjadi dalam satu hari.

Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan pemantauan dan pengendalian terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur sesuai kondisi di lapangan.
βData ini menjadi gambaran perkembangan karhutla di Kalimantan Selatan sampai dengan 4 September 2026. Karena itu, pengendalian terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur terkait sesuai kondisi di lapangan,β kata Ronny.
Jika melihat sebaran wilayah, Kabupaten Banjar menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak. BPBD mencatat 514 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 4.105,70 hektare.
Di posisi berikutnya terdapat Tanah Laut dengan 381 kejadian dan luas terdampak 2.339,35 hektare.
Sementara Hulu Sungai Selatan mencatat 358 kejadian dengan luas lahan yang terdampak mencapai 3.063,12 hektare.
Kondisi di Kota Banjarbaru juga patut menjadi perhatian. Hingga 4 September, tercatat 512 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak 2.102,94 hektare.
Wilayah lainnya juga tidak lepas dari ancaman. Tapin tercatat 203 kejadian dengan luas 1.831,33 hektare, sedangkan Barito Kuala mengalami 199 kejadian dengan luas terdampak 1.651,80 hektare.
Berikut sebaran data BPBD Kalsel:
| WilayahΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β | Kejadian | Luas Terdampak |
| ——————| ——-: | ————-:Β |
| Kabupaten BanjarΒ Β Β | 514Β Β Β Β | 4.105,70 haΒ Β Β Β Β |
| BanjarbaruΒ Β Β Β Β Β Β Β Β | 512Β Β Β Β | 2.102,94 haΒ Β Β Β Β |
| Tanah LautΒ Β Β Β Β Β Β Β | 381Β Β Β Β Β | 2.339,35 haΒ Β Β Β |
| Hulu Sungai SelatanΒ | 358Β Β Β Β | 3.063,12 haΒ Β Β Β Β |
| TapinΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β | 203Β Β Β Β | 1.831,33 haΒ Β Β Β Β |
| Barito KualaΒ Β Β Β Β Β Β | 199Β Β Β Β Β | 1.651,80 haΒ Β Β Β Β |
| Hulu Sungai UtaraΒ Β | 107Β Β Β Β Β | 608,28 haΒ Β Β Β Β Β |
| Tanah BumbuΒ Β Β Β Β Β | 79Β Β Β Β Β | 216,85 haΒ Β Β Β Β Β Β |
| BalanganΒ Β Β Β Β Β Β Β Β | 71Β Β Β Β Β Β | 217,71 haΒ Β Β Β Β Β Β |
| Hulu Sungai Tengah | 69Β Β Β Β Β Β | 207,91 haΒ Β Β Β Β Β |
| KotabaruΒ Β Β Β Β Β Β Β Β | 48Β Β Β Β Β Β | 58,07 haΒ Β Β Β Β Β Β |
| TabalongΒ Β Β Β Β Β Β Β Β | 29Β Β Β Β Β Β | 135,13 haΒ Β Β Β Β Β Β |
| BanjarmasinΒ Β Β Β Β Β Β | 16Β Β Β Β Β Β | 1,45 haΒ Β Β Β Β Β Β Β Β |
Data tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla masih tersebar di hampir seluruh wilayah Kalsel, dengan tingkat kejadian dan luasan yang berbeda-beda.
Selain memantau kejadian kebakaran secara langsung, BPBD juga menggunakan data titik panas atau hotspot sebagai salah satu instrumen deteksi dini.
Hingga 4 September 2026, tercatat 18.661 titik hotspot di Kalimantan Selatan.
Data tersebut bersumber dari SIPONGI Kementerian Kehutanan dengan dukungan data satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.
Menurut Ronny, data hotspot penting karena memberikan gambaran mengenai potensi lokasi yang perlu segera mendapat perhatian petugas.
Namun, hotspot tidak serta-merta berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran yang sudah dipastikan terjadi. Informasi tersebut tetap perlu dikaitkan dengan pengecekan dan kondisi faktual di lapangan.
βPemantauan hotspot dan kejadian di lapangan harus berjalan beriringan. Informasi yang diperoleh menjadi bahan untuk menentukan langkah penanganan secara cepat dan tepat, sehingga potensi karhutla dapat terus dikendalikan,β ujarnya.
BPBD Kalsel terus mendorong keterlibatan pemerintah daerah, aparat, petugas lapangan hingga masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Langkah tersebut dinilai penting karena kebakaran yang awalnya muncul di satu titik dapat dengan cepat meluas, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.
Karena itu, pengawasan di lapangan, pelaporan dini, serta koordinasi antarinstansi menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Dengan luas lahan terdampak yang sudah menembus 16,5 ribu hektare, karhutla kini bukan sekadar persoalan titik api. Dampaknya bisa merembet ke kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas sekolah, transportasi, lingkungan, hingga perekonomian daerah.
BPBD Kalsel pun menegaskan bahwa pengendalian harus terus dilakukan secara terpadu agar kebakaran tidak semakin meluas.
#KarhutlaKalsel #Karhutla2026 #KalimantanSelatan #Banjarbaru #KabupatenBanjar #KabutAsap #KebakaranHutan #KebakaranLahan #HotspotKalsel #BPBDKalsel #SIPONGI #NASA #BeritaKalsel #BeritaBanjarbaru #InfoKalsel #KarhutlaBanjarbaru #KarhutlaBanjar #BeritaTerkini #KalselHariIni #LingkunganIndonesia

