PUBLIKAINDONESIA.COM, KOTABARU β Program transportasi publik Bus Trans Saijaan (BTS) di Kabupaten Kotabaru mendadak dihentikan sementara. Padahal, layanan ini baru beroperasi kurang dari satu bulan sejak resmi diluncurkan pada 8 Agustus 2026.
Penghentian tersebut memunculkan tanda tanya besar, terutama bagi operator, sopir, dan pemilik armada yang sebelumnya sudah bergabung dalam program BTS.

Keputusan itu dituangkan melalui surat yang diterbitkan Dinas Perhubungan (Dishub) Kotabaru dan ditujukan kepada Perum Damri selaku operator BTS serta Organda Kotabaru.
Manager Perum Damri BTS Saijaan, Iwa Kartiwa, membenarkan adanya surat penghentian operasional tersebut.
Menurut Iwa, pihaknya mempertanyakan alasan layanan yang baru berjalan beberapa pekan itu tiba-tiba dihentikan.
βKami akan mempertanyakan kenapa pemberhentian (operasional) langsung,β ujar Iwa, Rabu (2/9/2026).
Bagi operator, penghentian mendadak ini tentu menimbulkan persoalan karena layanan transportasi tersebut sebelumnya sudah dipersiapkan untuk melayani masyarakat sebagai bagian dari program transportasi publik di Kotabaru.
Organda: Kalau Alasannya Tak Jelas, Ada Apa?
Keberatan serupa disampaikan Legal sekaligus Sekretaris Organda Kotabaru, H. Saidi Noor.
Ia meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka alasan penghentian operasional BTS agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
βAlasannya harus jelas dulu. Kalau alasannya tidak jelas, ada apa?β katanya.
Menurutnya, kejelasan alasan menjadi penting karena penghentian operasional tidak hanya menyangkut keberlangsungan layanan transportasi, tetapi juga berkaitan dengan nasib orang-orang yang menggantungkan penghasilan dari program tersebut.
Sopir Waswas Kehilangan Mata Pencaharian
Yang paling terdampak dari penghentian ini adalah para sopir BTS.
Perwakilan sopir meminta pemerintah segera memberikan kepastian sekaligus mempertimbangkan pengaktifan kembali layanan Trans Saijaan.
Kekhawatiran bukan tanpa alasan. Sebagian pemilik armada disebut telah menjual taksi konvensional mereka setelah memutuskan bergabung dalam program BTS.
Artinya, ketika operasional Trans Saijaan dihentikan, persoalannya bukan hanya tentang berhenti melayani penumpang. Ada mata pencaharian yang ikut berada di ujung ketidakpastian.
Para sopir pun kini menunggu kepastian apakah BTS benar-benar akan kembali beroperasi atau justru dihentikan dalam jangka waktu lebih lama.
Pemkab Minta Waktu Beberapa Hari
Sementara itu, Asisten II Setda Kotabaru, Murdianto, mengatakan pemerintah daerah akan melakukan koordinasi dengan pimpinan daerah untuk menentukan masa depan program tersebut.
βKami minta waktu beberapa hari untuk berkoordinasi dengan pimpinan daerah, apakah operasional Trans Saijaan dilanjutkan atau tidak,β ujarnya.
Dengan demikian, nasib Trans Saijaan saat ini masih menggantung.
Di satu sisi, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan program transportasi publik. Di sisi lain, keputusan juga menyangkut operator, pemilik armada, sopir, dan masyarakat yang membutuhkan layanan angkutan tersebut.
Pertanyaan Besarnya: Kenapa Disetop?
Hingga berita ini diterbitkan, Dishub Kotabaru belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan penghentian sementara operasional Bus Trans Saijaan.
Kondisi ini membuat publik masih menunggu jawaban: apa yang sebenarnya terjadi dengan program yang baru berjalan kurang dari sebulan tersebut?
Apakah penghentian hanya bersifat evaluasi sementara, atau ada persoalan lain yang membuat layanan harus dihentikan?
Jawaban dari pemerintah akan menjadi penting, bukan hanya bagi kelanjutan Trans Saijaan, tetapi juga bagi kepastian nasib para sopir dan pemilik armada yang telah mengambil keputusan untuk masuk dalam program tersebut.
#TransSaijaan #TransSaijaanKotabaru #BTSKotabaru #Kotabaru #KabupatenKotabaru #DishubKotabaru #Damri #OrgandaKotabaru #TransportasiKotabaru #TransportasiPublik #SopirTransSaijaan #BeritaKotabaru #InfoKotabaru #KalimantanSelatan #Kalsel #BeritaKalsel #TransportasiUmum #BeritaTerkini #NewsKotabaru #Saijaan

