PUBLIKAINDONESIA.COM, TANGERANG – Kepedulian terhadap kelestarian hutan Indonesia ternyata tidak mengenal batas wilayah. Meski berada jauh dari kawasan hutan yang terbakar, sekelompok anak muda di Kota Tangerang memilih turun ke jalan untuk menyuarakan solidaritas terhadap lingkungan dan menyelamatkan habitat orangutan.
Aksi bertajuk *Save Hutan dan Save Orangutan* tersebut digelar di kawasan Tugu Adipura, Kota Tangerang, Senin (2/11/2026). Menariknya, gerakan ini melibatkan berbagai lingkaran anak muda, mulai dari komunitas suporter sepak bola, pegiat zine, hingga individu yang memiliki keresahan terhadap kerusakan lingkungan.

Di tengah hiruk-pikuk kota industri, mereka membawa satu pesan penting: kerusakan hutan bukan persoalan satu daerah, melainkan ancaman bagi seluruh kehidupan.
Kalimantan menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi tersebut. Kebakaran hutan, rusaknya ekosistem, hingga ancaman terhadap habitat orangutan dinilai bukan sekadar persoalan hilangnya pepohonan.
Lebih dari itu, ada masyarakat yang kehilangan ruang hidup, satwa yang terusir dari habitatnya, serta kualitas udara yang terancam akibat asap kebakaran.
Persoalan serupa juga menjadi perhatian di Sumatra dan Papua. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai keseriusan perlindungan lingkungan, mulai dari pencegahan kebakaran, pengawasan kawasan hutan, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.
Salah satu kelompok yang terlibat dalam gerakan ini adalah Ordominor. Bagi mereka, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui unggahan media sosial atau sekadar membagikan informasi.
Bang Che dari Ordominor menegaskan, keresahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, meskipun dimulai dari gerakan sederhana.
Semangat tersebut tergambar dalam ungkapan yang mereka usung: setidaknya ada aksi, bukan hanya *instastory*.
Melalui penggalangan donasi dan penyebaran informasi, Ordominor berupaya membangun kesadaran publik sekaligus mengajak lebih banyak anak muda untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan lingkungan.
Bagi komunitas yang bergerak melalui kebudayaan zine tersebut, ruang kreatif anak muda bisa menjadi medium perlawanan terhadap ketidakpedulian.
Zine bukan sekadar media cetak alternatif, tetapi juga ruang untuk menyampaikan gagasan, membagikan keresahan, dan mempertemukan berbagai suara yang selama ini mungkin tidak mendapatkan panggung.
Menurut Bang Che, jarak geografis bukan alasan untuk menutup mata terhadap kerusakan hutan di wilayah lain. Anak muda tetap bisa mengambil bagian melalui pembentukan kolektif, penyebaran informasi, maupun penggalangan donasi.

Dari Tribun Sepak Bola, FTWL Ikut Angkat Suara
Gerakan solidaritas ini juga melibatkan FTWL, kelompok suporter sepak bola yang mencoba menunjukkan bahwa kultur tribun tidak melulu berkaitan dengan pertandingan, rivalitas, maupun dukungan terhadap klub kesayangan.
Mas Kiki dari FTWL menilai, kondisi ekologis Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, bumi bukan hanya milik manusia, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tumbuhan, satwa, dan seluruh ekosistem yang saling bergantung.
Keterlibatan FTWL dalam aksi sosial sekaligus menjadi upaya mematahkan stigma negatif terhadap kelompok suporter yang kerap identik dengan kerusuhan.
Melalui semangat #WargaBantuWarga, mereka ingin membuktikan bahwa solidaritas, kepedulian, dan keberanian menyuarakan persoalan masyarakat juga tumbuh dari komunitas suporter.
“Sejatinya, teman-teman FTWL adalah rakyat biasa yang memiliki nurani untuk membantu sesama. Kami berharap pergerakan kecil berdampak besar di masa yang akan datang,” ujar Kiki.
Namun, Kiki juga mengungkapkan bahwa upaya membawa isu sosial ke ruang publik tidak selalu berjalan mulus.
Ia menuturkan, spanduk maupun banner berisi pesan sosial yang dibentangkan di tribun kerap diminta untuk tidak ditampilkan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus menyampaikan aspirasi.
“Semakin kami dibungkam, maka semakin kencang kami berteriak,” tegasnya.

Republik Berparu-paru Arang, Alarm Bahaya bagi Indonesia
Aksi di Tangerang menjadi gambaran bahwa gerakan menjaga lingkungan dapat tumbuh dari mana saja. Tidak harus berawal dari organisasi besar, lembaga formal, atau kelompok yang memiliki sumber daya melimpah.
Dari ruang pertemanan, komunitas zine, hingga tribun sepak bola, kepedulian dapat berkembang menjadi gerakan kolektif ketika keresahan yang sama dipertemukan.
Melalui aksi solidaritas dan penggalangan donasi tersebut, para peserta turut mendorong pemerintah agar memperkuat perlindungan kawasan hutan dan habitat orangutan, meningkatkan pencegahan serta penanganan kebakaran hutan, dan menindak tegas pihak yang terbukti melakukan pembakaran ilegal maupun perusakan lingkungan.
Mereka juga menekankan pentingnya pemulihan kawasan terdampak dengan tetap memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat setempat.
Sebab, persoalan hutan tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan perlindungan lingkungan berjalan secara serius dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kebakaran hutan di Kalimantan, Sumatra, maupun Papua bukan sekadar kabar dari wilayah yang jauh. Dampaknya dapat menjalar melintasi batas daerah, mengancam kesehatan, mengganggu kehidupan masyarakat, dan merusak keseimbangan alam.
Dari Tangerang, anak-anak muda itu mengirimkan pesan kepada seluruh penjuru negeri: jangan menunggu hutan habis terbakar untuk mulai peduli.
Sebab, ketika hutan kehilangan pepohonan, orangutan kehilangan habitat, dan masyarakat kehilangan ruang hidup, yang terbakar sesungguhnya bukan hanya kawasan hutan.
Melainkan juga masa depan sebuah republik yang seharusnya hidup dari paru-paru alamnya, bukan terbiasa menghirup abu.
Penulis: Aldiyansyah / publika indonesia
#SaveHutanIndonesia #SaveOrangutan #KebakaranHutan #KarhutlaIndonesia #HutanKalimantan #HutanSumatra #HutanPapua #SolidaritasAnakMuda #Ordominor #FTWL #WargaBantuWarga #LingkunganHidup #KrisisIklim #KerusakanHutan #PUBLIKAINDONESIA

