Oleh: M. Irfan Fajrianur, SE, SH, CPM
(Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen / Pengamat Kebijakan Publik)
Di saat ketegangan memuncak dan bayang-bayang kericuhan menghantui, Sapta dan Erli tidak melangkah mundur. Mereka mengambil beban yang paling berat: menjadi tameng.
Dengan prinsip “biarlah kami yang dikejar, asal rakyat tetap aman,” mereka mempertaruhkan kebebasan dan keselamatan pribadi. Dedikasi ini adalah bentuk cinta yang paling murni terhadap tanah air sebuah keberanian untuk berdiri di baris paling depan saat badai datang, dan menjadi orang terakhir yang pulang demi memastikan tak ada satu pun massa yang tertinggal dalam bahaya.
Ketabahan di Tengah Badai Mistis
Dunia mungkin melihat mereka sebagai sosok yang tangguh di depan barisan, namun hanya sedikit yang tahu tentang pertempuran lain yang mereka hadapi. Di tanah Kalimantan yang penuh rahasia leluhur, mereka menghadapi ujian yang melampaui logika fisik.
Menerima serangan mistis yang menggerogoti raga bukanlah perkara ringan. Namun, dedikasi mereka teruji lewat kesunyian. Mereka memilih untuk menyembunyikan rasa sakit, menelan perihnya “tembakan gaib”, dan tetap berdiri tegak di bawah sorotan tajam aparat.
Semua itu dilakukan demi satu tujuan: agar api perjuangan masyarakat Kaltim tidak padam. Mereka sadar bahwa jika mereka mengeluh, maka semangat ribuan orang akan ikut runtuh.
Warisan Keberanian untuk Masa Depan
Dedikasi Sapta dan Erli adalah pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan menuntut pengorbanan yang total baik lahir maupun batin. Mereka bukan hanya pemimpin aksi, melainkan penjaga nyala api demokrasi.
Melalui tulisan ini, kita mencatat sebuah kebenaran: Bahwa di Kalimantan Timur, pernah ada dua pejuang yang tubuhnya mungkin terluka oleh serangan kasat mata maupun tak kasat mata, namun jiwanya tetap utuh, tak tergoyahkan, dan sepenuhnya milik rakyat.
Terima kasih atas pengorbananmu yang tak terhitung.
Terima kasih telah menjadi punggung yang kuat bagi kami yang lelah.
Doa seluruh masyarakat Kaltim adalah perisaimu.
“Sakit bisa dirahasiakan, luka bisa disembunyikan, namun dedikasi sejati akan menggema selamanya dalam sejarah perjuangan.”

