Close Menu
Publika Indonesia
    What's Hot

    WALHI Laporkan 4 Perusahaan Sawit ke Polda Kalsel, Dugaan Karhutla Capai 3.539 Hektare

    08/10/2026

    Apa yang Sebenarnya Ada di Piring Kita? Tantangan Perlindungan Konsumen di Sektor Pangan

    08/10/2026

    Polemik Siswi ‘Dikira Hamil’ di Kotabaru Berlanjut, Sekolah Tegaskan Guru Hanya Jalankan SOP Sesuai Kesepakatan

    08/10/2026

    Bawa Nama Kalsel ke Pra-PON 2027, Atlet Masih Terkendala Soal Anggaran

    06/10/2026

    Kabut Asap Masih Kepung Banjarbaru, TP PKK Bagikan Masker, Sayur hingga Vitamin Gratis

    06/10/2026
    Publika Indonesia
    • Home
    • Hukum
    • Kriminal
    • pemilu
    • Ekonomi
      1. Wisata
      2. Health
      3. View All

      Sport Tourism di Banjarbaru Makin Hidup, Aeris Boxing Buka Arena untuk Lahirkan Petinju Hebat

      05/06/2026

      “2gether We Grow”, Aeris Hotel Buktikan Bisnis Bisa Tumbuh Sambil Peduli

      30/04/2026

      Dispar Kalsel Gandeng 50 Influencer Promosikan Wisata

      28/04/2026

      Seru dan Menantang, Event Lari Pantai-Gunung Biome Trail Run Mapala Piranha Siap Jadi Ikon Baru Kalsel

      28/04/2026

      Rayakan HUT ke-76 Kalsel, RSGM Gusti Hasan Aman Perkuat Edukasi Kesehatan Gigi Lewat Baksos hingga Lomba Kreatif

      20/07/2026

      Kalteng Tancap Gas Kembangkan Industri Obat Herbal, Bajakah hingga Pasak Bumi Disiapkan Tembus Pasar Nasional

      16/07/2026

      Donor Darah Berbonus Beras, Pakar Perlindungan Konsumen Ingatkan Potensi Celah Tata Kelola

      27/06/2026

      Senyum Ceria Anak Panti Jadi Bukti Kepedulian RSGM Gusti Hasan Aman

      30/04/2026

      Teknologi Hidrogen Mulai Diuji di Indonesia, ESDM : Emisi Bus Bakalan Turun Drastis

      16/08/2026

      Bibit Tanaman dari Taniran Kubah HSS Tembus Kaltim dan Kalteng, Dewan Dorong Pemasaran Lewat Digital

      14/08/2026

      WhatsApp Rilis 3 Fitur Baru untuk Grup, Ada @All hingga Polling Bisa Disembunyikan

      09/08/2026

      Berani Lawan Perusahaan Prancis, Burkina Faso Jatuhkan Denda Rp5 Miliar ke Canal+

      08/08/2026
    • Nusantara
      • Banjarbaru
      • Banjarmasin
      • Kabupaten Banjar
      • Kalimantan Selatan
      • Tanah Bumbu
    • Olahraga
    Subscribe
    Trending Topics:
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Publika Indonesia
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Beranda » Beranda » OPERASI SENYAP MAHASISWA

    OPERASI SENYAP MAHASISWA

    Tim PublikaTim Publika21/02/2026

    Kisah Tak Terduga dari Balik Jaket Almamater yang Lusuh

    PUBLIKAINDONESIA.COM – Menjadi mahasiswa adalah privilege. Tidak semua orang punya kesempatan duduk di bangku perguruan tinggi. Di dalam kata ‘mahasiswa’, terselip satu kata besar: ‘maha’.

    Namun gelar ‘maha’ bukan diuji saat berdiri gagah di podium atau lantang berorasi di jalanan. Ia justru diuji ketika ego ditanggalkan, kenyamanan ditinggalkan, dan langkah kaki diarahkan ke tempat-tempat yang tak banyak orang mau datangi.

    Kita terbiasa melihat mahasiswa berjuang di jalan aspal menyuarakan aspirasi. Itu penting. Tapi ada ‘jalan tempur’ lain yang jarang terlihat kamera. Musuh mereka bukan gas air mata, melainkan gua gelap, ombak liar, tanah rusak, dan air beracun.

    Inilah operasi senyap mahasiswa.

     

    Menembus Perut Bumi di Wonogiri

    Di Desa Gendayakan, Wonogiri, krisis air bukan cerita baru. Sumber air sebenarnya ada tapi tersembunyi jauh di dasar gua.

    Mahasiswa pecinta alam Mapala Gapadri dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta turun tangan. Mereka menuruni Gua Jomblang sedalam 180 meter. Zona gelap, minim oksigen, risiko tinggi.

    Di dasar gua, mereka merakit instalasi pompa dan jaringan pipa. Air yang selama ini ‘terkunci’ di perut bumi akhirnya berhasil diangkat ke permukaan.

    Krisis air tahunan pun teratasi. Warga tak lagi harus memanggul jeriken belasan kilometer hingga ke perbatasan Jawa Timur.

    Sunyi. Tanpa panggung. Tapi dampaknya nyata.

     

     

    Cahaya dari Atas Keramba

    Di Pulau Gili Ketapang, Jawa Timur, nelayan keramba jaring apung menghadapi dua masalah: biaya genset mahal dan cuaca panas ekstrem yang membuat ikan stres hingga mati.

    Mahasiswa dari Universitas Hasanuddin (UNHAS) lewat Tim Magna Energy membawa solusi: ‘Floating Photovoltaic’ atau panel surya terapung.

    Panel itu dipasang sebagai atap keramba. Fungsinya ganda menghasilkan listrik sekaligus menjadi peneduh.

    Hasilnya?

    Biaya operasional turun. Ikan lebih sehat. Lampu penerangan menyala sebagai pengaman sekaligus navigasi agar perahu tak menabrak keramba.

    Teknologi hadir, tapi dengan sentuhan empati.

     

     

    Menembus Ombak Mentawai

    Di Dusun Boriai, Mentawai, paradoks terjadi. Laut membentang luas, tapi air tawar sulit didapat. Malam hari gelap gulita tanpa listrik.

    Untuk sampai ke sana, mahasiswa dari Universitas Andalas Padang harus menempuh lima jam perjalanan laut dan darat, menembus hutan.

    Mereka membangun sistem panel surya, memasang pompa air, dan merancang instalasi membran filter berkapasitas 1.200 galon per hari.

    Kini, dusun itu tak lagi gelap saat malam. Air bersih mengalir. Anak-anak bisa belajar tanpa lampu minyak.

    Tak ada seremoni. Hanya perubahan yang pelan tapi pasti.

     

     

    Menjinakkan Air Merah Kalimantan

    Di tanah Borneo, air gambut berwarna merah keruh dan asam sering jadi satu-satunya pilihan warga. Jika dikonsumsi jangka panjang, risikonya serius bagi kesehatan.

    Mahasiswa dari Universitas Tanjungpura menciptakan Reaktor Filter Air Gambut berbahan alami.

    Air merah berubah menjadi bening dan netral. Program ini pertama diterapkan di Kubu Raya, lalu direplikasi ke berbagai desa lain.

    Sains tak lagi hanya di laboratorium. Ia hadir di kolong rumah panggung.

     

    Dokter Tanah dari Bogor

    Di Desa Kawengan, Blora, hasil panen petani terus merosot. Pupuk kimia ditambah, tapi hasil tak membaik. Tanah justru makin keras.

    Mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor menemukan akar masalahnya: tanah jenuh dan “sakit” akibat penggunaan pupuk kimia berlebih selama bertahun-tahun.

    Solusinya bukan berhenti bertani, melainkan mengubah metode. Mereka mengajarkan produksi pupuk organik hayati dan pembenah tanah dari limbah ternak lokal.

    Biaya produksi turun. Hasil panen naik. Tanah kembali bernapas.

     

     

    Jaket almamater mereka mungkin lusuh. Kadang sobek. Bau keringat.

    Namun di balik kain yang sederhana itu, tersimpan kehormatan: keberanian untuk hadir saat orang lain memilih pergi.

    Operasi senyap ini mungkin tak viral. Tak trending. Tak ramai di linimasa.

    Tapi di desa-desa yang kini punya air bersih, listrik, dan tanah subur, nama “mahasiswa” menemukan maknanya yang paling utuh.

     

    #OperasiSenyapMahasiswa #MahasiswaBergerak #KampusBerdampak #ITNY #Unhas #Unand #Untan #IPB #TeknologiTepatGuna #EnergiSurya #AirBersihUntukSemua #InovasiMahasiswa #CeritaInspiratif #FeatureIndonesia

     

    Share. Facebook WhatsApp Twitter LinkedIn Email

    Related Posts

    Apa yang Sebenarnya Ada di Piring Kita? Tantangan Perlindungan Konsumen di Sektor Pangan

    08/10/2026

    Konsumen Punya Hak, Tapi Seberapa Kuat Posisi Tawarnya?

    05/10/2026

    OPINI | John Herdman dan Kesalahan Membaca “Proses” Sepak Bola Indonesia

    05/10/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    WALHI Laporkan 4 Perusahaan Sawit ke Polda Kalsel, Dugaan Karhutla Capai 3.539 Hektare

    08/10/2026

    Apa yang Sebenarnya Ada di Piring Kita? Tantangan Perlindungan Konsumen di Sektor Pangan

    08/10/2026

    Polemik Siswi ‘Dikira Hamil’ di Kotabaru Berlanjut, Sekolah Tegaskan Guru Hanya Jalankan SOP Sesuai Kesepakatan

    08/10/2026

    Bawa Nama Kalsel ke Pra-PON 2027, Atlet Masih Terkendala Soal Anggaran

    06/10/2026
    Berita Pilihan
    Banjarbaru

    WALHI Laporkan 4 Perusahaan Sawit ke Polda Kalsel, Dugaan Karhutla Capai 3.539 Hektare

    08/10/2026 Banjarbaru

    PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Polemik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan kembali menyeret aktivitas…

    Apa yang Sebenarnya Ada di Piring Kita? Tantangan Perlindungan Konsumen di Sektor Pangan

    08/10/2026

    Polemik Siswi ‘Dikira Hamil’ di Kotabaru Berlanjut, Sekolah Tegaskan Guru Hanya Jalankan SOP Sesuai Kesepakatan

    08/10/2026

    Bawa Nama Kalsel ke Pra-PON 2027, Atlet Masih Terkendala Soal Anggaran

    06/10/2026

    Recent Posts

    • WALHI Laporkan 4 Perusahaan Sawit ke Polda Kalsel, Dugaan Karhutla Capai 3.539 Hektare
    • Apa yang Sebenarnya Ada di Piring Kita? Tantangan Perlindungan Konsumen di Sektor Pangan
    • Polemik Siswi ‘Dikira Hamil’ di Kotabaru Berlanjut, Sekolah Tegaskan Guru Hanya Jalankan SOP Sesuai Kesepakatan
    • Bawa Nama Kalsel ke Pra-PON 2027, Atlet Masih Terkendala Soal Anggaran
    • Kabut Asap Masih Kepung Banjarbaru, TP PKK Bagikan Masker, Sayur hingga Vitamin Gratis

    Recent Comments

    1. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    2. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    3. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    4. lanacurvaf mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    5. ラブドール mengenai Tangkal Brain Rot, BASAKalimantan Wiki Gelar Dialog Kebijakan untuk Generasi Kritis
    Oktober 2026
    SSRKJSM
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031 
    « Sep    
    © 2026 - PublikaIndonesia.com
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.