Close Menu
Publika Indonesia
    What's Hot

    Menahan Napas di Tengah Inflasi: Mengapa Kelas Menengah Kita Paling Rentan Frustrasi Sosial?

    10/07/2026

    Usai Rumahnya Digeledah, Jampidsus Febrie Buka Suara : Uang dan Emas yang Disita Punya Pemilik dan Bisa Dipertanggungjawabkan

    10/07/2026

    DPRD Balangan Soroti Sistem Zonasi hingga Kekurangan Guru Pendamping, Pendidikan Jadi Perhatian Serius

    10/07/2026

    Comeback Dramatis! Garuda Doz’23 Taklukkan GMB FC dan Angkat Trofi HN Cup 2026

    10/07/2026

    Bertahan 18 Tahun, Warga Rantau Bakula Mengadu ke DPR RI: Air Mengering, Rumah Retak, Debu Batu Bara Masuk Rumah

    09/07/2026
    Publika Indonesia
    • Home
    • Hukum
    • Kriminal
    • pemilu
    • Ekonomi
      1. Wisata
      2. Health
      3. View All

      Sport Tourism di Banjarbaru Makin Hidup, Aeris Boxing Buka Arena untuk Lahirkan Petinju Hebat

      05/06/2026

      “2gether We Grow”, Aeris Hotel Buktikan Bisnis Bisa Tumbuh Sambil Peduli

      30/04/2026

      Dispar Kalsel Gandeng 50 Influencer Promosikan Wisata

      28/04/2026

      Seru dan Menantang, Event Lari Pantai-Gunung Biome Trail Run Mapala Piranha Siap Jadi Ikon Baru Kalsel

      28/04/2026

      Donor Darah Berbonus Beras, Pakar Perlindungan Konsumen Ingatkan Potensi Celah Tata Kelola

      27/06/2026

      Senyum Ceria Anak Panti Jadi Bukti Kepedulian RSGM Gusti Hasan Aman

      30/04/2026

      Belum Maksimal? Ini Strategi RSGM Gusti Hasan Aman Tingkatkan Pelayanan

      07/04/2026

      Es Krim Paracetamol Bikin Geger, Ternyata Cuma Hoaks

      02/04/2026

      Mulai Besok B50 Resmi Berlaku, Ini Catatan Penting LPKSM untuk Pengguna Kendaraan Diesel

      30/06/2026

      “2gether We Grow”, Aeris Hotel Buktikan Bisnis Bisa Tumbuh Sambil Peduli

      30/04/2026

      Harga Minyak Goreng Naik Lagi! Ternyata Bukan Karena Langka

      23/04/2026

      Melawan Dominasi Matic! Supra X 125 Cross, Tangguh dan Bandel

      15/04/2026
    • Nusantara
      • Banjarbaru
      • Banjarmasin
      • Kabupaten Banjar
      • Kalimantan Selatan
      • Tanah Bumbu
    • Olahraga
    Subscribe
    Trending Topics:
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Publika Indonesia
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Beranda » Beranda » Menahan Napas di Tengah Inflasi: Mengapa Kelas Menengah Kita Paling Rentan Frustrasi Sosial?

    Menahan Napas di Tengah Inflasi: Mengapa Kelas Menengah Kita Paling Rentan Frustrasi Sosial?

    Tim PublikaTim Publika10/07/2026

    Oleh: [Erfan Maulana] (Dosen & Pengamat Sosial)

    Jika Anda berjalan-jalan di pusat perbelanjaan kota-kota besar akhir-akhir ini, lanskap sosial kita tampak tidak ada yang salah. Kedai kopi premium tetap dipenuhi pekerja dengan laptopnya, tiket konser musik internasional habis terjual dalam hitungan menit, dan jalanan protokol tetap padat oleh kendaraan roda empat keluaran terbaru. Namun, jika kita menyelami ruang-ruang digital tempat di mana masyarakat menumpahkan keluh kesah tanpa filter narasi yang muncul justru bertolak belakang. Ada kecemasan massal, keluhan tak berkesudahan tentang harga susu anak yang melambung, tarif tol yang naik, hingga biaya pendidikan yang tak lagi masuk akal.

    Inilah paradoks terbesar masyarakat kita hari ini: sebuah ilusi kesejahteraan. Di permukaan mereka tampak tangguh, namun di dalam dompet, mereka sedang menahan napas demi mempertahankan gengsi gaya hidup (lifestyle maintenance). Kelas menengah Indonesia sedang berada di titik nadir, terhimpit oleh tekanan struktural ekonomi, dan yang paling mengkhawatirkan, mereka adalah kelompok yang paling rentan mengalami frustrasi sosial.

    Bukan Sekadar Angka, Ini Penyusutan Nyata

    Penurunan kelas menengah di Indonesia bukan lagi sekadar prediksi fiksi para ekonom, melainkan sebuah alarm sosiologis yang nyata. Laporan dari Mandiri Institute bertajuk Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah menunjukkan bahwa jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia menyusut drastis menjadi 46,7 juta jiwa, atau hanya tersisa sekitar 16,6 persen dari total populasi nasional. Jika ditarik garis sejak tahun 2019, Indonesia telah kehilangan lebih dari 10 juta warga kelas menengah yang kini terlempar ke lapisan bawahnya (kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class).

    Mengapa ini terjadi? Penyebab utamanya adalah pertumbuhan pendapatan yang stagnan, yang berbenturan keras dengan melambatnya pertumbuhan lapangan kerja formal. Data menunjukkan bahwa dari jutaan lapangan kerja baru yang tercipta, porsi terbesar justru lahir di sektor informal yang tidak memiliki kepastian regulasi, jaminan kesehatan, maupun stabilitas pendapatan. Akibatnya, pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah melambat signifikan, bahkan menjadi yang paling rendah jika dibandingkan dengan kelompok ekonomi lainnya.

    ‘Yatim Piatu’ Regulasi dan Beban Ekspektasi

    Secara sosiologis, mengapa kelompok ini begitu rentan frustrasi dibandingkan kelompok miskin? Jawabannya terletak pada posisi mereka yang terjepit dalam struktur kebijakan Negara atau yang bisa kita sebut sebagai “The Policy Orphan” (Yatim Piatu Regulasi).
    Masyarakat kelompok bawah, meski hidup dalam keterbatasan, memiliki bantalan pengaman sosial berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), hingga subsidi sembako dari pemerintah. Di sisi lain, kelompok kelas atas memiliki bantalan kapital yang sangat tebal untuk mengamankan aset mereka dari gerusan inflasi.

    Sementara itu, kelas menengah berdiri di area abu-abu. Mereka dianggap terlalu kaya untuk menerima bantuan sosial, tetapi terlalu miskin untuk kebal terhadap inflasi. Mereka adalah kelompok yang paling patuh membayar Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), namun menjadi kelompok yang paling minim merasakan manfaat langsung dari kebijakan proteksi negara.

    Beban ini diperparah oleh tekanan psikososial di era digital. Media sosial secara agresif mendikte standar hidup ideal mulai dari pilihan sekolah anak, destinasi liburan, hingga kepemilikan gawai terbaru. Akibatnya, muncul jurang pemisah yang lebar antara apa yang harus ditampilkan demi validasi sosial dengan realitas daya beli yang terus tergerus. Ketika mereka gagal menjembatani jurang tersebut, benih-benih kecemasan berubah menjadi frustrasi.

    Ketika Frustrasi Menjelma Menjadi Patologi Sosial

    Frustrasi sosial yang akut dan tidak mendapat penyaluran yang tepat pada akhirnya melahirkan fenomena anomie sebuah kondisi di mana masyarakat mulai kehilangan arah dan mengabaikan norma demi bertahan hidup. Kita tidak bisa lagi memandang maraknya jeratan Pinjaman Online (Pinjol) ilegal dan Judi Online (Judol) sebagai masalah “kurang literasi keuangan” semata. Ini adalah gejala keputusasaan struktural.

    Riset secara gamblang menyebutkan bahwa pengguna layanan pinjaman online di Indonesia mayoritas justru berasal dari rumah tangga kelas ekonomi menengah. Lebih ngeri lagi, Satgas Pemberantasan Perjudian Daring mencatat sekitar 80 persen dari jutaan pelaku judi online di tanah air berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Ketika jalur-jalur legal seperti kerja keras dan pendidikan formal dirasa tidak lagi mampu mengejar kecepatan inflasi biaya hidup, kelas menengah mulai berjudi dengan nasib melalui jalan pintas digital.

    Dampak di ruang publik pun mulai terasa. Frustrasi yang menumpuk di dunia nyata bermanifestasi menjadi amarah kolektif di ruang siber (displacement of aggression). Masyarakat kita menjadi lebih sinis terhadap kebijakan pemerintah, mudah terprovokasi, dan ruang publik digital kita dipenuhi oleh sumbu pendek yang siap meledak hanya karena persoalan sepele.

    Alarm untuk Masa Depan Bangsa

    Kelas menengah adalah motor penggerak utama konsumsi domestik sekaligus jangkar stabilitas politik sebuah negara. Jika kelompok ini dibiarkan terus merosot dan terjebak dalam frustrasi massal, pertumbuhan ekonomi nasional akan melambat dan jalinan sosial kita akan kian rapuh.

    Pemerintah harus sadar bahwa intervensi fiskal tidak boleh hanya berpusat pada kelompok miskin ekstrem. Kelas menengah membutuhkan insentif nyata, mulai dari keringanan pajak penghasilan, penyediaan transportasi publik yang murah dan terintegrasi untuk menekan biaya mobilitas, hingga kepastian hukum di sektor ketenagakerjaan formal untuk mencegah gelombang PHK.

    Kita harus ingat satu pelajaran penting dari sejarah sosiologi politik dunia: pergolakan dan ketidakstabilan sosial terbesar jarang sekali dimulai oleh kelas bawah yang pasrah dalam kemiskinannya. Sebaliknya, ia hampir selalu dipicu oleh kelas menengah yang terdidik, yang merasa bahwa kerja keras mereka selama ini dikhianati oleh sistem, dan masa depan anak-anak mereka telah dirampok oleh keadaan. Sebelum napas kelas menengah benar-benar habis, negara harus hadir untuk mengulurkan tangan.

    “Pemerintah harus ingat satu pelajaran penting dari sejarah sosiologi politik dunia: pergolakan dan ketidakstabilan sosial terbesar jarang sekali dimulai oleh kelas bawah yang pasrah dalam kemiskinannya. Sebaliknya, ia hampir selalu dipicu oleh kelas menengah yang terdidik, yang merasa bahwa kerja keras mereka selama ini dikhianati oleh sistem, dan masa depan anak-anak mereka telah dirampok oleh keadaan. Sebelum napas kelas menengah benar-benar habis, negara harus hadir untuk mengulurkan tangan.”

    Share. Facebook WhatsApp Twitter LinkedIn Email

    Related Posts

    Gus Nafik dan Pesantren Sapu Jagad

    08/07/2026

    Kalimantan Menyalakan Indonesia, Kapan Indonesia Menerangi Kalimantan?

    04/07/2026

    Mengupas MBG: Manfaat Besar, Pengawasan Harus Lebih Besar

    22/06/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Menahan Napas di Tengah Inflasi: Mengapa Kelas Menengah Kita Paling Rentan Frustrasi Sosial?

    10/07/2026

    Usai Rumahnya Digeledah, Jampidsus Febrie Buka Suara : Uang dan Emas yang Disita Punya Pemilik dan Bisa Dipertanggungjawabkan

    10/07/2026

    DPRD Balangan Soroti Sistem Zonasi hingga Kekurangan Guru Pendamping, Pendidikan Jadi Perhatian Serius

    10/07/2026

    Comeback Dramatis! Garuda Doz’23 Taklukkan GMB FC dan Angkat Trofi HN Cup 2026

    10/07/2026
    Berita Pilihan
    Opini

    Menahan Napas di Tengah Inflasi: Mengapa Kelas Menengah Kita Paling Rentan Frustrasi Sosial?

    10/07/2026 Opini

    Oleh: [Erfan Maulana] (Dosen & Pengamat Sosial) Jika Anda berjalan-jalan di pusat perbelanjaan kota-kota besar…

    Usai Rumahnya Digeledah, Jampidsus Febrie Buka Suara : Uang dan Emas yang Disita Punya Pemilik dan Bisa Dipertanggungjawabkan

    10/07/2026

    DPRD Balangan Soroti Sistem Zonasi hingga Kekurangan Guru Pendamping, Pendidikan Jadi Perhatian Serius

    10/07/2026

    Comeback Dramatis! Garuda Doz’23 Taklukkan GMB FC dan Angkat Trofi HN Cup 2026

    10/07/2026

    Recent Posts

    • Menahan Napas di Tengah Inflasi: Mengapa Kelas Menengah Kita Paling Rentan Frustrasi Sosial?
    • Usai Rumahnya Digeledah, Jampidsus Febrie Buka Suara : Uang dan Emas yang Disita Punya Pemilik dan Bisa Dipertanggungjawabkan
    • DPRD Balangan Soroti Sistem Zonasi hingga Kekurangan Guru Pendamping, Pendidikan Jadi Perhatian Serius
    • Comeback Dramatis! Garuda Doz’23 Taklukkan GMB FC dan Angkat Trofi HN Cup 2026
    • Bertahan 18 Tahun, Warga Rantau Bakula Mengadu ke DPR RI: Air Mengering, Rumah Retak, Debu Batu Bara Masuk Rumah

    Recent Comments

    1. Stephengrent mengenai 73 Peserta Ikuti Audisi Nanang Galuh Banjar Bernuansa Islami 2025
    2. Sheilaspody mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    3. EarnestHeS mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    4. Maf mengenai Waspada Ular di Sekitar Lingkungan Saat Musim Hujan
    5. RandomNameAgers mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    Juli 2026
    SSRKJSM
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031 
    « Jun    
    © 2026 - PublikaIndonesia.com
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.