Close Menu
Publika Indonesia
    What's Hot

    WALHI Bongkar 15 Grup Korporasi Anggota RSPO Terindikasi Karhutla, Kalsel Terseret!

    05/11/2026

    Misteri Hilangnya ABK Kapal Putra Bugis di Laut Jawa, Sempat Muntah-Muntah Sebelum Menghilang!

    05/11/2026

    Hujan Sempat Redam Karhutla, Kini Api Kembali Mengamuk di Kabupaten Banjar! Lima Wilayah Dilaporkan Terbakar

    05/11/2026

    GARUDA CUP SEASON V 2026 Sukses Digelar, SDN INTI 1 TARJUN dan SMPN 2 KOTABARU Keluar Sebagai Juara

    05/11/2026

    KLH Punya Data 335 Perusahaan ‘Misterius’ Terinvestigasi Karhutla, WALHI: Mengapa Belum Dibuka ke Publik?

    05/11/2026
    Publika Indonesia
    • Home
    • Hukum
    • Kriminal
    • pemilu
    • Ekonomi
      1. Wisata
      2. Health
      3. View All

      Sport Tourism di Banjarbaru Makin Hidup, Aeris Boxing Buka Arena untuk Lahirkan Petinju Hebat

      05/06/2026

      “2gether We Grow”, Aeris Hotel Buktikan Bisnis Bisa Tumbuh Sambil Peduli

      30/04/2026

      Dispar Kalsel Gandeng 50 Influencer Promosikan Wisata

      28/04/2026

      Seru dan Menantang, Event Lari Pantai-Gunung Biome Trail Run Mapala Piranha Siap Jadi Ikon Baru Kalsel

      28/04/2026

      Menkes Minta Masyarakat yang Terdampak Kabut Asap Beradaptasi!

      19/10/2026

      Rayakan HUT ke-76 Kalsel, RSGM Gusti Hasan Aman Perkuat Edukasi Kesehatan Gigi Lewat Baksos hingga Lomba Kreatif

      20/07/2026

      Kalteng Tancap Gas Kembangkan Industri Obat Herbal, Bajakah hingga Pasak Bumi Disiapkan Tembus Pasar Nasional

      16/07/2026

      Donor Darah Berbonus Beras, Pakar Perlindungan Konsumen Ingatkan Potensi Celah Tata Kelola

      27/06/2026

      Teknologi Hidrogen Mulai Diuji di Indonesia, ESDM : Emisi Bus Bakalan Turun Drastis

      16/08/2026

      Bibit Tanaman dari Taniran Kubah HSS Tembus Kaltim dan Kalteng, Dewan Dorong Pemasaran Lewat Digital

      14/08/2026

      WhatsApp Rilis 3 Fitur Baru untuk Grup, Ada @All hingga Polling Bisa Disembunyikan

      09/08/2026

      Berani Lawan Perusahaan Prancis, Burkina Faso Jatuhkan Denda Rp5 Miliar ke Canal+

      08/08/2026
    • Nusantara
      • Banjarbaru
      • Banjarmasin
      • Kabupaten Banjar
      • Kalimantan Selatan
      • Tanah Bumbu
    • Olahraga
    Subscribe
    Trending Topics:
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Publika Indonesia
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Beranda » Beranda » Banjir di KALSEL Adalah Kejahatan Ekologis: Menagih Tanggung Jawab Negara

    Banjir di KALSEL Adalah Kejahatan Ekologis: Menagih Tanggung Jawab Negara

    Tim PublikaTim Publika28/12/2025

    PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan menegaskan bahwa banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan bukan bencana alam, melainkan kejahatan ekologis yang lahir dari gagalnya kebijakan tata kelola lingkungan oleh negara, kegagapan mitigasi bencana, kerakusan korporasi, dan pembiaran sistematis terhadap kerusakan lingkungan.

    Krisis iklim global memang nyata, namun di Kalimantan Selatan dampaknya dilipatgandakan oleh kehancuran ekosistem akibat industri ekstraktif yang terus diberi karpet merah oleh negara. Curah hujan tinggi hanya menjadi pemicu, sementara akar masalahnya adalah rusaknya daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat deforestasi, tambang, perkebunan monokultur skala besar, dan PBPH.

    Negara Memperparah Krisis dengan Kebijakan Eksploitatif

    WALHI menilai pemerintahan Prabowo–Gibran tidak menunjukkan komitmen nyata dalam penyelamatan lingkungan hidup. Sebaliknya, berbagai kebijakan atas nama pembangunan, pangan, energi, dan pertahanan justru mempercepat perampasan ruang hidup rakyat dan memperdalam krisis ekologis.

    Di tingkat global, pertemuan iklim seperti Conference of the Parties (COP), termasuk COP 30 di Brasil, gagal total menjawab krisis iklim. Kesepakatan yang dihasilkan tidak menyentuh sumber emisi dan perusakan, melainkan hanya memoles wajah kapitalisme hijau melalui berbagai skema solusi palsu.

    REDD+ dan Perdagangan Karbon adalah Solusi Palsu yang Menipu Publik

    Di Kalimantan Selatan, program REDD+ dan skema perdagangan karbon justru menjadi bagian dari masalah, bukan solusi. Program ini tidak menghentikan deforestasi dan perusakan, melainkan mengubah hutan menjadi komoditas baru bagi pasar karbon global.

    REDD+ memberi ruang bagi negara maju dan korporasi perusak lingkungan untuk terus mencemari dan merusak wilayah lain, sambil mengklaim pengurangan emisi dari hutan yang pada kenyataannya sudah lama dijaga oleh masyarakat adat dan lokal. Tanpa REDD+ sekalipun, hutan-hutan rakyat telah berfungsi sebagai penyerap karbon alami.

    WALHI menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa ditebus dengan sertifikat karbon. Seharusnya, pelaku perusakan melakukan pemulihan di lokasi kerusakan, bukan memindahkan tanggung jawab ke wilayah lain dan mengorbankan ruang hidup masyarakat.

    Kalimantan Selatan dalam Kondisi Darurat Ekologis

    Berdasarkan Catatan Akhir Tahun (CATAHU) WALHI Kalimantan Selatan 2025, kondisi lingkungan di Kalsel telah melewati batas aman. Dari total luas wilayah sekitar 3,7 juta hektar, sebanyak 51,57 persen atau sekitar 1,9 juta hektar telah dikuasai dan dibebani izin industri ekstraktif.

    Luasan ini setara hampir 29 kali luas DKI Jakarta, mencerminkan skala perampasan ruang hidup yang masif dan brutal. Sementara itu, sisa tutupan hutan primer di Kalimantan Selatan hanya sekitar 49.958 hektar, angka yang sangat timpang dibandingkan luas konsesi tambang, sawit, dan kehutanan.

    Kondisi inilah yang menjadi akar berulangnya banjir, longsor, krisis air bersih, dan hilangnya sumber penghidupan rakyat. Banjir hari ini adalah akibat langsung dari kebijakan yang membiarkan alam dihancurkan.

    Pemerintah Hanya Sibuk Mengelola Dampak, Bukan Menghentikan Penyebab

    Setiap tahun pemerintah hanya sibuk pada penanggulangan bencana, distribusi bantuan, dan normalisasi sungai, tanpa pernah berani menyentuh penyebab utama bencana itu sendiri. Evaluasi dan pencabutan izin industri ekstraktif terus ditunda, seolah negara menunggu jatuhnya korban jiwa lebih banyak baru bertindak.

    Bahkan dalam banyak peristiwa bencana ekologis, pemerintah enggan menetapkan status bencana yang layak, sehingga masyarakat kehilangan hak atas pemulihan, perlindungan, dan keadilan pascabencana.

    Lambatnya Tindakan Tegas Aparat dalam Sektor Ekstraktif

    WALHI Kalimantan Selatan menilai buruknya dampak lambatnya tindakan aparat dalam sektor ekstraktif ilegal yang mengakibatkan masifnya eksploitasi dan kerusakan. Aparat penegak hukum (APH) mestinya menindak tegas, cepat, dan tepat alih-alih lamban dan terkesan nirinisiatif dalam penindakan.

    Tuntutan WALHI Kalimantan Selatan

    WALHI Kalimantan Selatan menuntut:

    1.Hentikan seluruh perluasan dan operasi industri ekstraktif yang merusak lingkungan di Kalimantan Selatan.

    2.Evaluasi dan cabut izin-izin bermasalah tanpa menunggu bencana dan korban jiwa.

    3.Hentikan program solusi palsu krisis iklim, termasuk REDD+ dan perdagangan karbon yang mengorbankan masyarakat dan menutupi kejahatan ekologis.

    4.Pulihkan lingkungan berbasis keadilan ekologis dan pengakuan wilayah kelola rakyat.

    5.Penegakan hukum yang tegas pada perusak lingkungan.

    Banjir di Kalimantan Selatan adalah peringatan keras bahwa krisis ekologis telah menjadi kenyataan pahit. Selama negara terus berpihak pada korporasi dan menjadikan solusi palsu sebagai tameng, bencana akan terus diproduksi dan rakyat akan terus menjadi korban.

    Share. Facebook WhatsApp Twitter LinkedIn Email

    Related Posts

    WALHI Bongkar 15 Grup Korporasi Anggota RSPO Terindikasi Karhutla, Kalsel Terseret!

    05/11/2026

    KLH Punya Data 335 Perusahaan ‘Misterius’ Terinvestigasi Karhutla, WALHI: Mengapa Belum Dibuka ke Publik?

    05/11/2026

    Wartono Mundur dari Kursi Wakil Wali Kota Banjarbaru, Lisa Halaby Kini Tanpa Pendamping!

    03/11/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    WALHI Bongkar 15 Grup Korporasi Anggota RSPO Terindikasi Karhutla, Kalsel Terseret!

    05/11/2026

    Misteri Hilangnya ABK Kapal Putra Bugis di Laut Jawa, Sempat Muntah-Muntah Sebelum Menghilang!

    05/11/2026

    Hujan Sempat Redam Karhutla, Kini Api Kembali Mengamuk di Kabupaten Banjar! Lima Wilayah Dilaporkan Terbakar

    05/11/2026

    GARUDA CUP SEASON V 2026 Sukses Digelar, SDN INTI 1 TARJUN dan SMPN 2 KOTABARU Keluar Sebagai Juara

    05/11/2026
    Berita Pilihan
    Banjarbaru

    WALHI Bongkar 15 Grup Korporasi Anggota RSPO Terindikasi Karhutla, Kalsel Terseret!

    05/11/2026 Banjarbaru

    PUBLIKAINDONESIA.COM, JAKARTA– Sertifikasi keberlanjutan yang selama ini menjadi salah satu kebanggaan industri minyak sawit kembali…

    Misteri Hilangnya ABK Kapal Putra Bugis di Laut Jawa, Sempat Muntah-Muntah Sebelum Menghilang!

    05/11/2026

    Hujan Sempat Redam Karhutla, Kini Api Kembali Mengamuk di Kabupaten Banjar! Lima Wilayah Dilaporkan Terbakar

    05/11/2026

    GARUDA CUP SEASON V 2026 Sukses Digelar, SDN INTI 1 TARJUN dan SMPN 2 KOTABARU Keluar Sebagai Juara

    05/11/2026

    Recent Posts

    • WALHI Bongkar 15 Grup Korporasi Anggota RSPO Terindikasi Karhutla, Kalsel Terseret!
    • Misteri Hilangnya ABK Kapal Putra Bugis di Laut Jawa, Sempat Muntah-Muntah Sebelum Menghilang!
    • Hujan Sempat Redam Karhutla, Kini Api Kembali Mengamuk di Kabupaten Banjar! Lima Wilayah Dilaporkan Terbakar
    • GARUDA CUP SEASON V 2026 Sukses Digelar, SDN INTI 1 TARJUN dan SMPN 2 KOTABARU Keluar Sebagai Juara
    • KLH Punya Data 335 Perusahaan ‘Misterius’ Terinvestigasi Karhutla, WALHI: Mengapa Belum Dibuka ke Publik?

    Recent Comments

    1. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    2. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    3. lanacurvaf mengenai Menlu Ungkap Alasan Indonesia Bayar Iuran Saat Gabung Board of Peace
    4. lanacurvaf mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    5. ラブドール mengenai Tangkal Brain Rot, BASAKalimantan Wiki Gelar Dialog Kebijakan untuk Generasi Kritis
    November 2026
    SSRKJSM
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30 
    « Okt    
    © 2026 - PublikaIndonesia.com
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.