Pernah diperkuat deretan pemain bintang Timnas Indonesia dan dijuluki Dream Team, PSPS Pekanbaru menyimpan cerita panjang di sepak bola nasional. Stadion Rumbai pernah menjadi tempat yang membuat lawan berpikir dua kali sebelum datang. Kini, sejarah besar itu menjadi bagian dari perjalanan Askar Bertuah untuk kembali menegaskan eksistensinya.
Ada masa ketika nama PSPS Pekanbaru begitu diperhitungkan dalam peta persaingan sepak bola Indonesia. Bukan sekadar klub kebanggaan masyarakat Riau, PSPS pernah menjadi magnet bagi sejumlah pemain papan atas Tanah Air hingga melahirkan julukan yang cukup fenomenal: Dream Team atau bahkan Los Galacticos Indonesia.

Jauh sebelum sepak bola Indonesia memasuki era modern seperti sekarang, PSPS sudah pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki skuad bertabur bintang.
Nama-nama besar seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, hingga Eko Purdjianto pernah dikaitkan dengan perjalanan klub berjuluk Askar Bertuah tersebut.
Tak hanya mengandalkan pemain lokal berpengalaman, PSPS juga pernah mendatangkan legiun asing yang memiliki reputasi tersendiri, di antaranya Joe Nagbe asal Liberia dan sejumlah pemain asing lainnya.
Kehadiran para pemain tersebut membuat PSPS menjadi salah satu kekuatan yang menarik perhatian publik sepak bola nasional pada awal dekade 2000-an.
Bagi masyarakat Pekanbaru, masa itu bukan sekadar cerita tentang sepak bola. Ada kebanggaan tersendiri ketika klub kebanggaan daerah mampu bersaing dan menghadirkan pemain-pemain berlabel nasional.
Rumbai Pernah Menjadi Mimpi Buruk Tim Tamu
Memasuki era Liga Djarum Indonesia 2005, persaingan kompetisi sepak bola nasional semakin menarik.
PSPS Pekanbaru tergabung di Wilayah Barat, bersaing dengan sejumlah klub besar seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, dan PSMS Medan.
Persaingan di wilayah tersebut tidak pernah mudah. Setiap pertandingan menjadi pertarungan gengsi, terlebih ketika menghadapi sesama klub asal Sumatra.
Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai, menjadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalanan PSPS pada periode tersebut.
Dukungan suporter, atmosfer pertandingan, serta karakter permainan yang ditampilkan membuat kandang PSPS dikenal sebagai tempat yang tidak mudah ditaklukkan tim lawan.
Pertemuan melawan PSMS Medan dan Semen Padang juga menjadi pertandingan yang selalu memiliki daya tarik tersendiri. Rivalitas antarklub Sumatra menghadirkan cerita berbeda, bukan hanya soal perebutan poin, tetapi juga harga diri dan kebanggaan daerah.
Bagi para pendukungnya, jersey biru PSPS bukan sekadar seragam pertandingan. Warna tersebut menjadi simbol identitas dan kecintaan terhadap klub.
Ketika Masa Kejayaan Mulai Meredup
Namun, perjalanan sebuah klub besar tidak selalu berjalan mulus.
Setelah sempat menjadi perhatian di kompetisi nasional, PSPS mulai menghadapi masa sulit. Persaingan yang semakin ketat dan perubahan peta kekuatan sepak bola Indonesia membuat perjalanan Askar Bertuah tidak lagi semulus sebelumnya.
Musim 2004 menjadi salah satu titik penting dalam sejarah klub. PSPS harus mengakhiri kompetisi di posisi ke-16 dan terdegradasi. Pada Liga Indonesia 2005, PSPS kembali mengalami nasib serupa setelah finis di peringkat ke-14 Wilayah Barat dan turun ke Divisi I.
Artinya, periode 2005 bukanlah masa ketika PSPS masih bertahan di kasta tertinggi, melainkan awal fase perjuangan untuk kembali ke level teratas.
PSPS kemudian menjalani kompetisi Divisi I pada 2006 dan 2007. Setelah melalui perjuangan tersebut, mereka berhasil kembali promosi ke Divisi Utama pada 2008.
Perjalanan itu menjadi bukti bahwa nama besar klub tidak selalu menjamin perjalanan yang mudah. Ada masa ketika PSPS harus membangun kembali kekuatan, merangkak dari kompetisi bawah, dan berusaha mendapatkan tempatnya di sepak bola nasional.
Meski demikian, kenangan tentang era pemain bintang, jersey biru, serta atmosfer Stadion Kaharuddin Nasution tetap menjadi bagian penting dari identitas klub.
Bagi suporter setianya, Askar The king, PSPS bukan hanya tentang hasil pertandingan. Ada sejarah, kebanggaan, dan ikatan emosional yang membuat klub ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Riau.
Dari Kenangan Masa Lalu, Kini Menatap Kebangkitan
Setelah melewati berbagai fase pasang surut, PSPS Pekanbaru kembali memperlihatkan geliatnya di kompetisi sepak bola nasional.
Pada musim 2026/2027, Askar Bertuah berlaga di Pegadaian Championship atau kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia.
Di bawah arahan pelatih Akhyar Ilyas, PSPS menunjukkan perkembangan yang menarik perhatian. Hasil positif dalam sejumlah pertandingan membuat mereka kembali terlibat dalam persaingan papan atas Grup A.
Bahkan, pada Oktober 2026, PSPS sempat mencatatkan enam kemenangan beruntun dan menguasai posisi puncak klasemen sementara Grup A.
Namun, persaingan belum selesai. Berdasarkan klasemen yang tersedia pada 8 November 2026, PSPS mengoleksi 19 poin dari delapan pertandingan dan berada di posisi kedua. PSMS Medan menempati posisi pertama dengan 20 poin dari sembilan pertandingan.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa PSPS masih memiliki peluang untuk kembali bersaing di jalur teratas. Konsistensi menjadi pekerjaan penting bagi Akhyar Ilyas dan anak asuhnya dalam menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya.
Kini, publik Pekanbaru tentu berharap perjalanan positif tersebut bukan sekadar euforia sesaat.
Sebab, bagi klub yang pernah memiliki reputasi sebagai salah satu kekuatan sepak bola Sumatra, bertahan di papan atas saja mungkin belum cukup. Ada harapan yang lebih besar: melihat kembali PSPS menjadi klub yang disegani di panggung sepak bola nasional.
Dari era Los Galacticos hingga perjuangan di Pegadaian Championship, satu hal yang tetap sama: PSPS Pekanbaru memiliki sejarah panjang yang belum selesai ditulis.
Dan mungkin, kebangkitan Askar Bertuah saat ini adalah awal dari babak baru perjalanan mereka.
#PSPSPekanbaru #AskarBertuah #AsykarTheking #SejarahPSPS #LosGalacticosIndonesia #DreamTeamPSPS #LigaIndonesia #LigaDjarum #PegadaianChampionship #Liga2Indonesia #AkhyarIlyas #SepakBolaIndonesia #SepakBolaRiau #StadionKaharuddinNasution #BeritaOlahraga #PUBLIKAINDONESIA

