PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Upaya menghidupkan kembali identitas budaya bangsa melalui aksara mulai mendapat perhatian baru. Keraton Majapahit Jakarta meluncurkan buku panduan belajar Aksara Nusantara, sebuah inisiatif kebudayaan yang dirancang untuk memperkenalkan kembali kekayaan aksara Indonesia dengan pendekatan yang lebih sederhana dan relevan dengan perkembangan zaman.
Di balik gagasan tersebut, tersimpan misi besar untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan leluhur sekaligus membuka peluang pengembangan kebudayaan di tengah pesatnya kemajuan teknologi.

Salah satu tokoh yang membawa gagasan ini ke Kalimantan adalah Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari, Raja Pemangku Adat Kebudayaan Banjar. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan Aksara Nusantara di daerah, sekaligus memberikan sumbangsih nyata dalam bidang kebudayaan dan pendidikan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka ruang pembelajaran baru bagi masyarakat Kalimantan, khususnya generasi muda, untuk mengenal kekayaan aksara Nusantara sebagai bagian dari identitas dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Menghidupkan Kembali Identitas Bangsa Lewat Aksara
Penggagas Aksara Nusantara sekaligus pendiri Keraton Majapahit Jakarta, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M. Hendropriyono, S.T., S.H., M.H., menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berangkat dari keinginan untuk membantu masyarakat memahami akar sejarah bahasa yang berkembang di Nusantara.
Menurutnya, Indonesia telah memiliki semangat persatuan melalui konsep satu nusa dan satu bahasa. Namun, terdapat sisi kebudayaan yang menarik untuk kembali diperhatikan, yakni penggunaan aksara dalam kehidupan masyarakat modern.
“Kita sepakat satu nusa dan satu bahasa. Namun menariknya, bahasa yang kita gunakan sehari-hari saat ini ditulis menggunakan aksara Latin,” ungkap Hendropriyono.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu landasan untuk mengajak masyarakat melihat kembali hubungan antara bahasa, aksara, dan identitas kebudayaan.
Sebab, di balik keberagaman bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia juga memiliki kekayaan sistem tulisan tradisional yang menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan peradaban masyarakatnya.
Melalui buku panduan Aksara Nusantara, masyarakat diharapkan memiliki sarana untuk mengenal dan mempelajari aksara dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami.

Sultan Cevi Yusuf Al-Banjari Bawa Gagasan ke Kalimantan
Bagi Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari, pengenalan Aksara Nusantara di Kalimantan menjadi salah satu langkah untuk memperluas kontribusi kebudayaan bagi masyarakat.
Sebagai Raja Pemangku Adat Kebudayaan Banjar, ia membawa gagasan tersebut ke Kalimantan dengan harapan dapat memperkaya wawasan masyarakat mengenai warisan budaya sekaligus mendorong inovasi dalam dunia pendidikan.
Menurut penjelasan Sultan Cevi, Aksara Nusantara dikembangkan dengan pendekatan yang lebih sederhana melalui penyederhanaan konsep aksara untuk memperkenalkan gagasan sistem tulisan yang dapat dipelajari secara lebih luas.
“Aksara Nusantara ini sendiri lebih sederhana. Ini juga merupakan simplifikasi seluruh bahasa daerah, digabung menjadi yang namanya Aksara Nusantara,” jelasnya.
Gagasan tersebut membuka ruang diskusi mengenai bagaimana kekayaan aksara tradisional Indonesia dapat diperkenalkan melalui pendekatan baru, tanpa mengabaikan nilai sejarah dan keunikan masing-masing tradisi aksara daerah.
Bagi Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, pengenalan ini juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap kebudayaan Banjar serta warisan budaya Nusantara secara lebih luas.
Melalui pendekatan pendidikan dan kebudayaan, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal aksara sebagai bentuk tulisan, tetapi juga memahami nilai sejarah dan identitas yang melekat di dalamnya.


Mengapa Aksara Nusantara Diperkenalkan?
Indonesia memiliki beragam aksara tradisional yang berkembang di berbagai wilayah. Namun, gagasan Aksara Nusantara hadir dengan tujuan mengembangkan sebuah sistem aksara yang terinspirasi dari warisan tersebut dan dirancang agar lebih sederhana serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Inisiatif yang dikembangkan Keraton Majapahit Jakarta ini membawa sejumlah tujuan utama.
Pertama, menjadi simbol persatuan.
Aksara Nusantara diperkenalkan sebagai gagasan identitas visual bersama yang diharapkan dapat memperkuat rasa kebangsaan di tengah keberagaman budaya Indonesia.
Kedua, mendekatkan kebudayaan kepada generasi muda.
Pengembangan aksara tidak hanya diarahkan pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga berpotensi diterapkan dalam berbagai bidang kreatif, seperti desain grafis, animasi, komik, permainan digital, hingga perfilman.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat kebudayaan lebih dekat dengan kehidupan generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital.
Ketiga, membuka peluang pengembangan kebudayaan di era digital.
Aksara Nusantara digagas agar dapat dikembangkan sebagai identitas visual yang berpotensi menjangkau berbagai media modern, termasuk platform digital dan teknologi informasi.
Meski demikian, penerapannya dalam sistem digital seperti Unicode dan berbagai perangkat teknologi memerlukan pengembangan teknis lebih lanjut.
Warisan Budaya Bertemu Inovasi Modern
Aksara Nusantara merupakan inisiatif kebudayaan yang terinspirasi dari kekayaan aksara tradisional Indonesia, kemudian dikembangkan sebagai media edukasi, pelestarian, dan penguatan identitas kebudayaan.
Gagasan ini berangkat dari pandangan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Sebaliknya, kebudayaan dapat terus berkembang melalui pendekatan kreatif yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Dalam konteks tersebut, pengenalan Aksara Nusantara ke Kalimantan menjadi salah satu upaya memperluas ruang dialog mengenai pelestarian budaya dan inovasi pendidikan.
Peran Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari dalam membawa gagasan ini ke Kalimantan diharapkan dapat membuka kesempatan bagi masyarakat, komunitas budaya, dan dunia pendidikan untuk mengenal lebih jauh konsep yang diperkenalkan tersebut.
Namun, pengembangan aksara baru juga perlu berjalan beriringan dengan pelestarian aksara tradisional yang telah tumbuh di berbagai daerah. Kekayaan aksara lokal tetap memiliki nilai sejarah dan karakter tersendiri yang perlu dijaga.
Dengan demikian, pengenalan Aksara Nusantara dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap warisan aksara Indonesia, sekaligus mendorong generasi muda agar lebih aktif mempelajari dan mengembangkan kebudayaan.
Dirumuskan oleh Sejumlah Tokoh dan Akademisi
Pengembangan Aksara Nusantara melibatkan sejumlah perumus dari berbagai latar belakang keilmuan dan keahlian.
Mereka adalah:
1. Dr. Saifur Rohman, M.Hum., M.Si.
2. Dr. Fx. Rahyono, M.Hum.
3. Brigjen TNI (Purn.) Sentot Cokrojiyo, M.Bus. (IT).
4. Sinar Indrakrisnawan, S.Pd.
5. Dwi Rahmawanto, M.Hum.
6. Setya Amrih Prasaja, S.S., M.Pd.
Keterlibatan para perumus tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan gagasan Aksara Nusantara yang menggabungkan perspektif kebudayaan, bahasa, pendidikan, dan teknologi.
Pada akhirnya, peluncuran buku panduan Aksara Nusantara bukan sekadar memperkenalkan bentuk tulisan baru, melainkan juga menghadirkan gagasan tentang bagaimana warisan budaya dapat terus dibicarakan, dipelajari, dan dikembangkan dalam kehidupan modern.
Melalui langkah Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari membawa gagasan tersebut ke Kalimantan, upaya pelestarian kebudayaan diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga berkembang menjadi kontribusi nyata bagi pendidikan dan pengenalan identitas budaya kepada generasi mendatang.
#AksaraNusantara #SultanCeviYusufAlBanjari #KebudayaanBanjar #BudayaKalimantan #KalimantanSelatan #Banjarbaru #PelestarianBudaya #PendidikanBudaya #WarisanBudayaIndonesia #KeratonMajapahitJakarta #AksaraTradisional #BudayaNusantara #LiterasiBudaya #GenerasiMuda #PUBLIKAINDONESIA

