PUBLIKAINDONESIA.COM, KOTABARU – Musim kemarau berkepanjangan mulai memukul kehidupan masyarakat Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Tak hanya membuat sektor pertanian terpuruk, kondisi ini juga memicu kesulitan air bersih hingga warga harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jagung dan pisang yang selama ini menjadi komoditas unggulan masyarakat Hampang kini ikut terdampak. Minimnya pasokan air membuat aktivitas pertanian terganggu, bahkan petani tidak lagi bisa mengandalkan hasil panen seperti biasanya.

Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Hampang, Anang Herdin, yang menyampaikan keterangan atas nama Camat Hampang, mengatakan kemarau panjang telah memengaruhi produktivitas pertanian warga. Ia didampingi staf kecamatan, Raniansyah.
“Potensi yang ada di Hampang ini adalah jagung dan pisang. Akan tetapi, saat musim kemarau seperti sekarang sudah tidak bisa panen lagi,” ujar Anang.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Ketika hasil panen terhenti, sumber pendapatan warga pun berpotensi ikut terganggu.
Persoalan yang tak kalah berat adalah ketersediaan air bersih. Kemarau membuat masyarakat semakin kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Situasi ini diperparah dengan aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang disebut sudah tidak mengalir di wilayah tersebut.
Akibatnya, warga terpaksa membeli air dari pemasok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengeluaran tambahan ini menjadi beban tersendiri, terutama bagi keluarga yang juga menghadapi penurunan pendapatan akibat terganggunya hasil pertanian.
Anang menjelaskan, harga air yang dibeli masyarakat bervariasi, bergantung pada kondisi dan ketersediaan pasokan.
“Kondisi air mulai susah, masyarakat hanya bisa membeli dengan harga sekitar Rp70 ribu sampai Rp200 ribu per tong, karena air PDAM di daerah sini sudah tidak mengalir,” jelasnya.
Dengan harga tersebut, kebutuhan air bersih berpotensi menyedot anggaran rumah tangga, terlebih jika warga harus membeli berulang kali untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi di Hampang memperlihatkan dampak kemarau yang tidak hanya berkaitan dengan lahan pertanian, tetapi juga menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat, yakni air bersih.
Di satu sisi, petani menghadapi kesulitan mempertahankan produktivitas jagung dan pisang. Di sisi lain, warga harus mencari sumber air alternatif ketika aliran PDAM tidak tersedia.
Situasi ini membutuhkan perhatian serius agar dampak kemarau tidak semakin membebani masyarakat. Upaya penanganan dapat mencakup pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak serta langkah untuk membantu petani menghadapi kondisi lahan yang kekurangan air.
Masyarakat Hampang kini dihadapkan pada tantangan untuk bertahan di tengah kemarau berkepanjangan. Ketika air semakin sulit diperoleh dan hasil pertanian tak bisa diandalkan, dukungan serta penanganan yang tepat menjadi penting untuk membantu warga melewati kondisi tersebut.
#Hampang #Kotabaru #KabupatenKotabaru #KemarauPanjang #KrisisAirBersih #AirPDAM #PetaniKotabaru #PertanianKalsel #BeritaKotabaru #KalimantanSelatan #InfoKotabaru #BeritaDaerah

