PUBLIKAINDONESIA.COM, PEKANBARU – Kabar kurang menggembirakan datang dari sektor perkebunan di Pekanbaru. Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kemitraan plasma di Provinsi Riau resmi mengalami penurunan untuk periode 6–12 Mei 2026.
Penurunan ini diputuskan dalam rapat penetapan harga yang digelar Dinas Perkebunan Riau pada 5 Mei 2026.
Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, menjelaskan bahwa penetapan harga tetap mengacu pada regulasi terbaru, termasuk Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024.
“Penetapan harga TBS minggu ke-15 tahun 2026 dilakukan sesuai regulasi yang berlaku,” ujarnya.
Dari hasil penetapan, penurunan paling signifikan terjadi pada kelompok umur tanaman 9 tahun, yang turun sebesar Rp31,30 per kilogram atau sekitar 0,80 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dengan penurunan ini, harga pembelian TBS petani kini berada di angka Rp3.874,93 per kg untuk satu minggu ke depan. Sementara itu, harga cangkang ditetapkan sebesar Rp17,90 per kg.
Secara umum, harga TBS di berbagai kelompok umur berada pada kisaran Rp2.997,92 hingga Rp3.855,36 per kg, tergantung usia tanaman.
Supriadi mengungkapkan, turunnya harga TBS tidak lepas dari melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO) dan kernel secara bersamaan.
Harga CPO tercatat turun sebesar Rp72,70 per kg, sementara kernel anjlok lebih dalam hingga Rp350,37 per kg dibandingkan pekan sebelumnya.
Pada periode ini, indeks K yang digunakan dalam perhitungan berada di angka 92,08 persen.
Dalam proses penetapan harga, terdapat sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang tidak melakukan penjualan. Oleh karena itu, harga ditentukan berdasarkan rata-rata tim atau acuan harga KPBN sesuai ketentuan yang berlaku.
Diketahui, harga rata-rata CPO KPBN pada periode ini berada di angka Rp15.339,50 per kg, sedangkan kernel sebesar Rp15.652,00 per kg.
Meski terjadi penurunan, Dinas Perkebunan Riau menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki tata kelola penetapan harga agar tetap adil bagi petani maupun perusahaan.
“Perbaikan tata kelola terus kami lakukan agar sesuai regulasi dan berkeadilan bagi semua pihak,” tegas Supriadi.
Ia juga berharap seluruh pemangku kepentingan tetap menjaga sinergi demi meningkatkan kesejahteraan petani di tengah fluktuasi harga komoditas.
#HargaSawit #TBSRiau #CPO #PerkebunanSawit #PetaniSawit #EkonomiRiau #BeritaEkonomi #SawitIndonesia #HargaKomoditas #IndonesiaUpdate

