PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Setelah sembilan tahun terhenti, Fisipioneer Bouldering Competition 2026 akhirnya kembali menyapa para penggiat panjat tebing. Digelar di Dinding Boulder Fisipioneer, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Jumat (30/10/2026), kompetisi ini langsung menarik perhatian dengan keikutsertaan sekitar 70 peserta.
Kembalinya ajang ini membawa harapan baru bagi perkembangan olahraga panjat tebing di Kalimantan Selatan, sekaligus membuka peluang bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat lebih tinggi.

Antusiasme peserta menjadi salah satu sorotan pada pelaksanaan hari pertama. Kompetisi ini mempertemukan para pemanjat dari sejumlah kelompok, mulai dari atlet usia muda, mahasiswa pecinta alam, hingga peserta kategori umum.
Enam Kategori Jadi Arena Adu Ketangkasan
Fisipioneer Bouldering Competition 2026 mempertandingkan enam kategori, yakni Under 15 putra dan putri, mahasiswa pecinta alam putra dan putri, serta kategori umum putra dan putri.
Setiap peserta ditantang menaklukkan jalur panjat dengan mengandalkan kekuatan fisik, keseimbangan, kelenturan, serta ketepatan menentukan gerakan. Dalam bouldering, kemampuan membaca jalur menjadi faktor penting untuk mencapai titik akhir dengan efektif.
Jury President Fisipioneer Bouldering Competition 2026, Risky Rahman, menjelaskan bahwa bouldering merupakan salah satu disiplin olahraga panjat tebing yang memiliki karakteristik berbeda dari nomor panjat dengan tali pengaman.
“Bouldering adalah salah satu disiplin dalam panjat tebing yang dilakukan pada dinding pendek, biasanya setinggi 2–5 meter, tanpa menggunakan tali pengaman, harness, atau helm. Sebagai gantinya, keselamatan pemanjat dijaga oleh crash pad atau matras tebal di lantai,” jelas Risky.
Selama tiga hari pelaksanaan kompetisi, Risky bertugas memimpin penjurian untuk memastikan pertandingan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, penyelenggaraan kompetisi ini juga memiliki arti penting bagi komunitas pecinta alam di Kalimantan Selatan. Dengan dukungan fasilitas yang disebut telah memenuhi standar nasional, ajang tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas kompetisi panjat tebing di daerah.
Risky berharap kegiatan ini dapat membangkitkan semangat para penggiat panjat tebing untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini mampu memicu semangat kawan-kawan penggiat panjat dan melahirkan atlet-atlet yang mampu mengharumkan nama daerah di event yang lebih besar,” ujarnya.

Kembalinya kompetisi ini mendapat sambutan positif dari pihak kampus. Dekan FISIP ULM Banjarmasin, Dr. Irwansyah, S.Sos., M.Si., mengungkapkan rasa syukurnya karena Fisipioneer Bouldering Competition akhirnya dapat kembali digelar setelah sembilan tahun tidak terlaksana.
“Fisipioneer Bouldering Competition ini sempat vakum selama sembilan tahun. Alhamdulillah, bisa kita selenggarakan lagi tahun ini,” ungkap Irwansyah.
Ia menilai keikutsertaan sekitar 70 peserta menunjukkan besarnya antusiasme terhadap kompetisi tersebut. Jumlah peserta ini sekaligus menjadi modal positif untuk mendorong keberlanjutan kegiatan pada tahun-tahun mendatang.
Bagi FISIP ULM, kompetisi ini bukan hanya menjadi wadah bagi mahasiswa dan komunitas pecinta alam untuk berkompetisi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat budaya olahraga dan membuka ruang pembinaan atlet di lingkungan kampus.
Dengan adanya kompetisi yang digelar secara berkelanjutan, para peserta diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengasah kemampuan, memperoleh pengalaman bertanding, dan mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan yang lebih besar.
Target 2027, Fisipioneer Bouldering Competition Naik Kelas ke Nasional
Melihat antusiasme peserta pada penyelenggaraan tahun ini, FISIP ULM berencana mendorong Mapala Fisipioneer selaku panitia pelaksana untuk kembali menggelar kompetisi pada 2027 dengan cakupan yang lebih luas.
Jika tahun ini masih berada pada tingkat regional Kalimantan, penyelenggaraan berikutnya diharapkan mampu menjangkau peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kedepan kita akan dorong panitia pelaksana, yakni Mapala Fisipioneer, agar pada 2027 bisa melaksanakan lagi dengan tingkat nasional. Kalau tahun ini baru tingkat regional Kalimantan,” kata Irwansyah.
Target tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan, memperluas partisipasi atlet, dan menjadikan kompetisi ini sebagai salah satu agenda yang mendukung perkembangan olahraga panjat tebing.
Irwansyah juga berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi atlet berprestasi yang mampu membawa nama baik almamater dan daerah.
“Kami mengharapkan dengan adanya event olahraga seperti ini, ke depan FISIP ULM mampu melahirkan generasi atlet berprestasi yang akan membawa dan mengharumkan nama kampus ULM dan nama daerah Kalimantan Selatan pada ajang yang lebih besar,” tuturnya.
Kembalinya Fisipioneer Bouldering Competition setelah sembilan tahun menjadi momentum penting bagi komunitas panjat tebing di Kalimantan Selatan. Antusiasme puluhan peserta menjadi sinyal bahwa olahraga ini memiliki ruang untuk terus berkembang.
Kini, tantangan berikutnya bukan hanya menyukseskan kompetisi selama tiga hari, tetapi juga menjaga konsistensi penyelenggaraan dan memperkuat pembinaan atlet.
Dari dinding boulder di Kampus FISIP ULM, harapan besar itu mulai dibangun: melahirkan pemanjat-pemanjat tangguh yang kelak mampu bersaing di panggung nasional dan mengharumkan nama Banua.

#FisipioneerBoulderingCompetition2026 #FisipioneerBouldering #BoulderingCompetition #PanjatTebingKalsel #PanjatTebingIndonesia #FISIPULM #ULMBanjarmasin #MapalaFisipioneer #AtletKalsel #OlahragaKalimantanSelatan #BeritaBanjarmasin #BeritaKalsel #PUBLIKAINDONESIA

