PUBLIKAINDONESIA.COM, BOGOR – Seni tidak selalu hadir untuk menawarkan keindahan. Dalam sejumlah karya, seni justru menjadi medium untuk menyuarakan persoalan lingkungan, merekam perubahan sosial, hingga mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan alam.
Perspektif tersebut hadir dalam Pekan Seni Media (PSM) bertajuk RUPAKALA yang berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November 2026 di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dengan dukungan Dana Indonesiaraya dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta kerja sama Pemerintah Kabupaten Bogor, RUPAKALA mempertemukan seniman lintas generasi, komunitas kreatif, dan masyarakat melalui beragam pendekatan seni.
Mengusung gagasan kuratorial “Bogor sebagai Mandala”, pameran ini tidak hanya menampilkan karya seni rupa konvensional, tetapi juga mengeksplorasi video, audio, fotografi digital, arsip, dan instalasi. Keragaman medium tersebut membuka ruang bagi seniman untuk membicarakan berbagai persoalan, mulai dari sejarah dan pengetahuan hingga perubahan lingkungan serta kehidupan perkotaan.
Di antara karya yang menarik perhatian adalah “Invasi dari 18.000 Km”, karya Muara/org dari Samarinda, Kalimantan Timur. Melalui pendekatan audio visual, karya ini mengangkat eceng gondok sebagai simbol invasi ekologis sekaligus metafora tentang berbagai kekuatan yang perlahan menguasai ruang hidup masyarakat.
Eceng Gondok dan Cerita tentang Invasi
Dalam karya tersebut, eceng gondok tidak sekadar ditampilkan sebagai tumbuhan air yang tumbuh subur di permukaan sungai. Tanaman ini menjadi titik masuk untuk membicarakan perjalanan panjang spesies dari luar wilayah, penyebarannya melalui aktivitas manusia, hingga dampaknya terhadap ekosistem perairan.
Berdasarkan keterangan karya, eceng gondok berasal dari kawasan Amazon dan dibawa ke Kebun Raya Bogor pada 1894 sebagai tanaman hias oleh seorang ahli botani kolonial. Tanaman tersebut kemudian menyebar ke berbagai perairan tawar di Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.
Di Samarinda, eceng gondok digambarkan semakin berkembang di permukaan sungai. Karya ini juga menyoroti dugaan hubungan antara pertumbuhannya dan limpasan residu limbah domestik yang masuk ke perairan.
Melalui perpaduan audio stereo, video satu kanal, serta lebih dari 200 cetakan fotografi digital berukuran 4R, Muara/org membangun pengalaman visual yang mengajak pengunjung memandang persoalan eceng gondok dari sudut yang berbeda.
Alih-alih berhenti pada persoalan tanaman air yang memenuhi sungai, karya tersebut membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sesuatu yang awalnya diperkenalkan manusia dapat berkembang melampaui kendali dan akhirnya mengubah lingkungan tempat manusia hidup?
Di sinilah makna judul “Invasi dari 18.000 Km” menjadi penting. Jarak yang jauh antara kawasan asal tumbuhan dan Samarinda bukan sekadar penanda geografis, melainkan gambaran tentang perjalanan suatu spesies yang kemudian hadir dan berkembang di ruang hidup yang berbeda.

Dari Persoalan Lingkungan Menjadi Kritik Perkotaan
Sudut pandang yang ditawarkan Muara/org tidak berhenti pada persoalan ekologis. Eceng gondok juga digunakan sebagai representasi dari berbagai bentuk invasi yang perlahan menguasai dan mengambil alih ruang kota.
Dalam konteks ini, sungai bukan hanya lanskap alam, melainkan bagian penting dari kehidupan perkotaan yang berhadapan dengan persoalan pencemaran, aktivitas manusia, dan perubahan lingkungan.
Eceng gondok menjadi metafora tentang sesuatu yang awalnya tampak biasa, bahkan mungkin dianggap tidak berbahaya, tetapi dapat berkembang hingga mendominasi ruang dan mengubah keseimbangan yang telah ada.
Pembacaan tersebut memberikan dimensi sosial pada karya ini. Persoalan lingkungan tidak lagi dilihat sebagai masalah yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan cara manusia memperlakukan alam dan mengelola ruang hidupnya.
Melalui karya ini, Muara/org seolah mengajak pengunjung melihat kembali apa yang selama ini dianggap lumrah di sekitar mereka. Permukaan sungai yang dipenuhi tumbuhan air, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan kondisi ekosistem dan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Namun, kekuatan karya ini juga terletak pada kemampuannya membuka ruang tafsir. Metafora invasi tidak harus dimaknai sebatas eceng gondok, tetapi dapat mendorong pengunjung merefleksikan berbagai perubahan yang berlangsung perlahan di lingkungan perkotaan.
Dengan demikian, seni berfungsi bukan hanya sebagai media representasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mempertanyakan kondisi yang kerap diterima begitu saja.

Suara Samarinda dalam Peta Seni Kontemporer
Kehadiran Muara/org dari Samarinda memberikan warna tersendiri dalam RUPAKALA. Di tengah pertemuan seniman dari berbagai kota dan latar belakang, karya ini membawa persoalan lingkungan perkotaan Kalimantan Timur ke dalam percakapan seni kontemporer yang lebih luas.
Muara/org merupakan organisasi yang bergerak di bidang seni budaya, seni rupa kontemporer, sinema, dan pengarsipan lokal. Organisasi ini berpartisipasi dalam membangun ekosistem kreatif serta ruang sinergi antarkomunitas di Kalimantan Timur dan sekitarnya melalui kerja kolaboratif, kuratorial, serta penyelenggaraan festival dan pameran.
Kehadiran karya tersebut menunjukkan bahwa praktik seni dari daerah tidak hanya menawarkan identitas lokal, tetapi juga dapat mengangkat isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Persoalan sungai, pencemaran, dan perubahan ekosistem yang diangkat dalam “Invasi dari 18.000 Km” menjadi contoh bagaimana pengalaman lokal dapat diterjemahkan menjadi bahasa artistik yang membuka dialog dengan publik dari berbagai latar belakang.
Dalam kerangka kuratorial “Bogor sebagai Mandala”, perjumpaan semacam ini menjadi penting. Kota dan komunitas tidak ditempatkan sebagai pusat yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari jaringan hubungan yang dibentuk oleh sejarah, migrasi, perdagangan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pertukaran budaya.
Dari Samarinda, karya Muara/org membawa persoalan lingkungan ke Bogor. Sebaliknya, melalui pameran ini, persoalan tersebut memperoleh ruang untuk dibaca dan didiskusikan dalam konteks seni yang lebih luas.

Seni sebagai Ruang Refleksi
RUPAKALA menghadirkan beragam seniman lintas generasi, termasuk FX Harsono, Hanafi, Eko Nugroho, Angki Purbandono, Tromarama, Wimo Ambala Bayang, dan Yudha Kusuma Putera. Mereka hadir bersama seniman muda serta komunitas yang mengeksplorasi berbagai medium dan pendekatan artistik.
Selain pameran, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi publik, lokakarya, pertunjukan seni, serta Pasar Kreasi yang melibatkan pelaku UMKM dan kuliner lokal.
Rangkaian tersebut memperluas kesempatan masyarakat untuk berinteraksi dengan seni, baik melalui pengamatan karya maupun keterlibatan langsung dalam kegiatan kebudayaan.
Di antara beragam pendekatan yang ditawarkan, karya “Invasi dari 18.000 Km” mengingatkan bahwa seni dapat menjadi cara untuk membaca persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi kerap luput dari perhatian.
Melalui eceng gondok, Muara/org menghadirkan cerita tentang perjalanan spesies, perubahan lingkungan, dan hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan karya ini bukan semata-mata bagaimana eceng gondok menyebar hingga ke sungai-sungai Samarinda. Lebih jauh, karya tersebut mengajak publik merenungkan bagaimana manusia membentuk perubahan lingkungan, serta bagaimana perubahan yang berlangsung perlahan dapat memengaruhi masa depan sebuah kota.
Pekan Seni Media RUPAKALA berlangsung hingga 1 November 2026 di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor. Melalui pertemuan berbagai karya dan gagasan, pameran ini membuka ruang bagi persoalan lokal untuk hadir dalam percakapan kebudayaan yang lebih luar.

