
Oleh Akbar Rahman*
Dahulu masyarakat takut ketika dapur tidak mengepul. Ketika persediaan beras menipis, kecemasan muncul di dalam rumah. Kelaparan menjadi simbol ancaman terbesar kehidupan manusia. Namun hari ini, muncul kecemasan baru yang perlahan hadir dalam kehidupan masyarakat modern, baterai habis, jaringan hilang, dan kuota terputus. Manusia modern kini hidup dalam dua ruang sekaligus, yakni ruang fisik dan ruang digital. Kehidupan sehari-hari tidak lagi hanya bergantung pada makanan dan energi, tetapi juga pada sinyal dan konektivitas internet.
Jika dahulu kebutuhan primer identik dengan sandang, pangan, dan papan, maka hari ini konektivitas digital perlahan berubah menjadi kebutuhan dasar baru. Kuota internet tidak lagi sekadar sarana hiburan, tetapi telah menjadi alat bekerja, belajar, berdagang, mencari nafkah, berkomunikasi, hingga membangun identitas sosial. Kehidupan masyarakat modern kini bergerak dalam ritme notifikasi, aplikasi, algoritma, dan jaringan data yang tidak pernah tidur.
Perubahan ini terjadi sangat cepat dan masif. Data Digital 2025 Indonesia menunjukkan terdapat sekitar 356 juta koneksi seluler aktif di Indonesia, jauh melampaui jumlah penduduk nasional yang berada pada kisaran 285 juta jiwa. Artinya, satu orang dapat memiliki lebih dari satu koneksi seluler.
Pada saat yang sama, jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 212 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia kini telah terhubung dengan ruang digital.
Di balik angka tersebut terdapat perubahan budaya yang sangat besar. Jika dahulu masyarakat berkumpul di pasar, ‘mawarung’, atau ruang publik fisik untuk bertukar informasi dan berinteraksi sosial, maka hari ini sebagian besar interaksi telah berpindah ke layar telepon genggam. Percakapan keluarga tergantikan grup percakapan digital. Aktivitas jual beli berpindah ke marketplace. Transportasi bergantung pada aplikasi daring. Bahkan ruang kerja dan ruang belajar kini dapat hadir di dalam genggaman tangan.
Yang menarik, perubahan ini juga mulai mengubah struktur pengeluaran rumah tangga masyarakat Indonesia. Rata-rata pengeluaran individu untuk kuota internet diperkirakan berada pada kisaran Rp70 ribu per bulan. Pada kelompok masyarakat urban aktif, angkanya dapat jauh lebih besar karena adanya biaya internet rumah, layanan streaming, penyimpanan cloud, hingga langganan aplikasi digital lainnya.
Sementara itu, konsumsi beras nasional Indonesia berada pada kisaran 79–92 kilogram per kapita per tahun atau sekitar 6,5–8 kilogram per bulan per individu. Dengan harga beras yang kini berkisar Rp15 ribu per kilogram, maka kebutuhan pengeluaran beras individu rata-rata berada pada kisaran Rp97,5 ribu hingga Rp120 ribu per bulan.
Artinya, pengeluaran untuk kuota internet saat ini telah mencapai sekitar 70 persen kebutuhan beras individu masyarakat Indonesia. Pada sebagian keluarga urban, total pengeluaran internet bahkan mulai mendekati atau melampaui pengeluaran kebutuhan beras rumah tangga. Fenomena ini mungkin terlihat sederhana, namun sebenarnya menunjukkan perubahan besar dalam struktur kebutuhan manusia modern.
Hari ini orang mungkin menunda membeli pakaian baru, tetapi tetap membeli paket data. Banyak masyarakat yang rela mengurangi konsumsi rekreasi atau kebutuhan lain, tetapi tetap menjaga agar kuota internet tetap tersedia. Anak-anak dapat menahan lapar beberapa jam, tetapi merasa panik ketika jaringan internet terputus saat sekolah daring atau bermain gim online. Pekerja merasa terisolasi ketika sinyal hilang karena pekerjaan, komunikasi, bahkan penghasilan mereka bergantung pada konektivitas digital.
Secara perlahan, kuota internet telah berubah menjadi “oksigen sosial” masyarakat modern.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya persoalan gaya hidup, tetapi bagian dari transformasi peradaban global. Dunia sedang bergerak menuju masyarakat berbasis data, di mana aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan politik sangat dipengaruhi oleh jaringan digital. Nilai ekonomi tidak lagi hanya dihasilkan oleh hasil tambang, sawah, atau pabrik, tetapi juga oleh data, algoritma, dan interaksi digital masyarakat.
Indonesia merupakan salah satu pasar digital terbesar di dunia. Dengan ratusan juta pengguna internet dan media sosial, perputaran ekonomi digital nasional mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Sedikit demi sedikit, masyarakat modern bukan hanya mengonsumsi makanan, tetapi juga mengonsumsi informasi, hiburan, perhatian, validasi sosial, dan konten digital tanpa henti.
Kota modern pun mengalami perubahan besar. Jika dahulu kota dibangun oleh jalan raya, pelabuhan, pasar, dan kawasan industri, maka hari ini kota juga dibangun oleh BTS, fiber optic, pusat data, cloud server, dan jaringan telekomunikasi yang terlihat nyata mengganggu visual kota dan memunculkan kesemrawutan. Infrastruktur digital telah menjadi tulang punggung baru kehidupan kota modern.
Rumah berubah fungsi menjadi kantor, studio, ruang belajar, sekaligus pusat aktivitas ekonomi digital. Ruang tamu berubah menjadi tempat rapat virtual. Pasar fisik bergeser menjadi marketplace. Kehadiran transportasi daring mengubah pola mobilitas kota. Gudang logistik tumbuh di berbagai sudut kota untuk memenuhi kebutuhan belanja online masyarakat.
Namun di balik seluruh kemudahan tersebut, tersimpan ancaman baru. Semakin tinggi ketergantungan masyarakat terhadap internet, maka semakin rentan pula kehidupan modern terhadap gangguan digital. Jika dahulu ancaman ketahanan nasional identik dengan krisis pangan, energi, atau perang fisik, maka hari ini ancaman juga dapat datang melalui gangguan jaringan internet, serangan siber, penyebaran hoaks, lumpuhnya pusat data, kebocoran data masyarakat, hingga dominasi platform digital asing terhadap perilaku publik.
Tanpa sinyal internet, kehidupan modern dapat lumpuh hanya dalam hitungan jam. Transaksi ekonomi digital berhenti. Sistem pembayaran terganggu. Transportasi daring lumpuh. Komunikasi publik terhambat. Distribusi logistik terganggu. Aktivitas pendidikan dan pekerjaan ikut kacau. Bahkan pelayanan pemerintahan modern yang telah terdigitalisasi dapat mengalami gangguan serius.
Artinya, masyarakat modern kini sangat tergantung pada infrastruktur yang tidak terlihat: data dan jaringan digital.
Karena itu, konsep ketahanan nasional hari ini tidak lagi cukup hanya berbicara tentang sawah, bendungan, cadangan pangan, atau energi. Negara juga harus mulai serius membangun ketahanan digital. Indonesia memang harus menjaga swasembada pangan, tetapi Indonesia juga harus menjaga kedaulatan data, keamanan siber, pusat data nasional, penataan jaringan telekomunikasi, dan pemerataan akses internet.
Ancaman masa depan bukan hanya negara yang kekurangan pangan, tetapi bangsa yang kehilangan kedaulatan atas ruang digitalnya sendiri.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar aktivitas digital masyarakat Indonesia hari ini masih bergantung pada platform global. Komunikasi, transaksi ekonomi, pencarian informasi, hingga pembentukan opini publik sebagian besar dikendalikan oleh algoritma perusahaan teknologi raksasa dunia. Dalam kondisi tertentu, masyarakat dapat menjadi sangat tergantung pada sistem digital yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali nasional.
Di sinilah tantangan besar bangsa modern sebenarnya berada. Teknologi memang membawa kemudahan, tetapi juga menciptakan ketergantungan baru yang sangat dalam. Semakin maju suatu masyarakat secara digital, maka semakin besar pula risiko sistemiknya ketika infrastruktur digital mengalami gangguan.
Karena itu, pembangunan nasional ke depan tidak cukup hanya membangun jalan, pelabuhan, bendungan, atau kawasan industri. Negara juga harus membangun ketahanan ruang digital secara serius dan berdaulat. Ketahanan pangan dan ketahanan digital harus berjalan bersamaan.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga konektivitas, data, dan ruang digitalnya secara mandiri dan aman.
Sebab di era modern, kelaparan tidak hanya terjadi di dapur. Kelaparan juga dapat terjadi ketika manusia kehilangan akses terhadap informasi, komunikasi, dan konektivitas yang menopang kehidupan sosial-ekonominya.
Perut lapar dapat melumpuhkan tubuh.
Sinyal hilang dapat melumpuhkan peradaban.
