PUBLIKAINDONESIA.COM, JAKARTA – Sebuah agenda silaturahmi yang semula berlangsung sederhana berubah menjadi forum diskusi kebangsaan yang sarat makna. Pertemuan antara ulama muda asal Kediri, Kyai Anom Agus Tuhfatun Nafi’ atau Gus Nafik Kencong dengan Pemangku Adat Kesultanan Banjar, Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari, bersama Andri Fajar dari KKB Muaro Jambi dan rombongan di Kraton Majapahit, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026), menghadirkan momen yang tak terduga.
Suasana pertemuan semakin istimewa ketika pendiri Kraton Majapahit Jakarta, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M. Hendropriyono, hadir secara langsung dan bergabung bersama para tamu.
Melihat hadirnya tokoh agama, pemangku adat, serta sejumlah pegiat budaya dari berbagai daerah, Hendropriyono kemudian mengarahkan pertemuan menjadi ruang dialog yang membahas sejarah, kebudayaan, hingga masa depan identitas bangsa Indonesia.
Diplomasi Budaya Lewat Film Sejarah
Sebagai pembuka diskusi, Hendropriyono mengajak seluruh peserta menyaksikan film dokumenter yang mengisahkan kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara pada masa lampau.
Film tersebut menampilkan kekuatan maritim Nusantara, kemegahan arsitektur kerajaan, hingga sistem pemerintahan yang berkembang jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara modern.
Suasana ruang pemutaran berlangsung penuh perhatian. Tayangan tersebut seolah menghidupkan kembali memori kolektif mengenai besarnya peradaban Nusantara yang pernah disegani dunia.
Bahasa Sansekerta dan Identitas Bangsa
Usai pemutaran film, diskusi berkembang semakin mendalam. Hendropriyono mengajak seluruh peserta merefleksikan kembali makna persatuan bangsa melalui ikrar “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia.”
Ia menyoroti dinamika perkembangan bahasa Indonesia yang saat ini menggunakan aksara Latin, sekaligus mengingatkan pentingnya memahami akar sejarah bahasa yang berkembang di Nusantara.
“Kita sepakat satu nusa dan satu bahasa. Namun menariknya, bahasa yang kita gunakan sehari-hari saat ini ditulis menggunakan aksara Latin,” ujar Hendropriyono.
Menurutnya, film yang baru disaksikan memperlihatkan begitu besarnya peran bahasa Sansekerta dalam membentuk peradaban Nusantara. Bahasa tersebut tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi sumber berbagai kosakata, istilah, dan nilai filosofis yang masih digunakan hingga sekarang.
Ia juga mengungkapkan bahwa bahasa Sansekerta saat ini tengah menjadi objek penelitian berbagai akademisi dunia sebagai salah satu bahasa penting yang merekam perjalanan peradaban manusia, termasuk di kawasan Nusantara.
Sinergi Agama, Adat, dan Kebudayaan
Gus Nafik Kencong mengikuti setiap pemaparan dengan penuh perhatian. Baginya, pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan merupakan bagian penting dalam memperkuat karakter bangsa.
Hal senada disampaikan Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari. Ia menilai penelitian terhadap sejarah Nusantara, termasuk pengembangan kajian bahasa Sansekerta, memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia internasional.
Menurutnya, pelestarian warisan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab kalangan akademisi, tetapi juga tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.
Kraton Majapahit Jadi Ruang Dialog Kebangsaan
Pertemuan tersebut menjadi gambaran bahwa Kraton Majapahit Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai tokoh bangsa untuk membahas kebudayaan, sejarah, dan identitas nasional.
Melalui forum seperti ini, nilai-nilai kebangsaan terus dirawat melalui kolaborasi antara ulama, pemangku adat, akademisi, dan tokoh nasional, dengan harapan mampu memperkuat jati diri bangsa di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
#KratonMajapahit #Hendropriyono #GusNafikKencong #KesultananBanjar #SultanBanjar #BudayaNusantara #SejarahIndonesia #Sansekerta #Jakarta #BeritaNasional #BudayaIndonesia #NKRI #Majapahit #Indonesia #PublikaIndonesia

