
Pemerhati Lingkungan dan Kota / publikaindonesia. Com
Oleh: Akbar Rahman*
1 Mei 2026, ditengah hiruk pikuk hari buruh, masyarakat Desa Juhu dan Desa Hinas Kiri mengambil keputusan penting menutup permanen jalur pendakian ke Gunung Halau-Halau. Bagi sebagian kita, keputusan ini mungkin terasa seperti hilangnya satu ruang petualangan. Namun bagi yang memahami makna gunung, hutan, dan lanskap secara lebih utuh, keputusan tersebut adalah pernyataan ekologis, kultural, dan moral yang sangat besar tentang tidak semua keindahan harus disentuh, dan tidak semua ruang alam harus dibuka untuk manusia.
Keputusan Juhu dan Hinas Kiri bukanlah keputusan kecil. Dua desa di kaki Meratus ini sedang menyampaikan pelajaran besar kepada Banua, bahkan kepada negeri ini, tentang makna menjaga. Saat dunia ramai berbicara tentang sustainability, net zero emission, perlindungan biodiversitas, dan ekonomi hijau dalam berbagai forum besar, masyarakat lokal di kaki gunung justru telah menerjemahkan gagasan itu dalam bentuk paling nyata yaitu membatasi diri demi menjaga alam tetap utuh. Ini bukan slogan. Ini tindakan.
Halau-Halau bukan sekadar puncak tertinggi Kalimantan Selatan dengan ketinggian sekitar 1.901 meter di atas permukaan laut. Ia adalah atap Banua, simpul ekologis penting dalam bentang alam yang selama ribuan tahun menjadi tulang punggung hidrologi, habitat, penyimpan karbon, dan penyangga iklim mikro regional. Dalam bahasa ilmu lingkungan, kawasan seperti ini adalah ecological infrastructure, yakni infrastruktur alam yang menopang kehidupan manusia secara diam-diam, tanpa banyak disadari.
Hutan pegunungan Meratus menyerap air hujan, menyimpannya di dalam tanah, melepaskannya perlahan menjadi mata air, menjaga kontinuitas aliran sungai di musim kemarau, serta meredam limpasan saat hujan lebat. Fungsi ini menjadikan Meratus sebagai water tower bagi Banua. Air yang mengalir ke sungai, sawah, gambut, dan permukiman di hilir pada dasarnya memiliki hubungan ekologis dengan kesehatan bentang alam di hulu. Jika hulu rusak, hilir akan membayar mahal. Banjir menjadi lebih ekstrem, sedimentasi meningkat, kualitas air menurun, dan ketahanan ekologis kawasan melemah. Dalam konteks ini, menjaga Halau-Halau bukan semata menjaga sebuah gunung, tetapi menjaga sistem kehidupan.
Namun Meratus bukan hanya bentang ekologis. Ia juga bentang budaya. Bagi masyarakat Dayak Meratus, alam bukan objek yang berdiri di luar manusia. Alam adalah bagian dari tatanan hidup yang sakral, memiliki ruh, memiliki etika, dan memiliki batas-batas yang harus dihormati. Gunung bukan sekadar elevasi topografi. Hutan bukan sekadar tegakan pohon. Sungai bukan sekadar aliran air. Semua adalah bagian dari jaringan kehidupan yang menghubungkan manusia, leluhur, dan alam semesta.
Dalam nilai hidup Dayak Meratus tersimpan pelajaran penting yang justru sangat modern secara ekologis dimana manusia tidak hidup di atas alam, tetapi hidup bersama alam. Pandangan ini melahirkan etika ekologis yang kuat. Ada ruang yang boleh dimanfaatkan, ada ruang yang harus dijaga, ada ruang yang bahkan harus dibiarkan sunyi. Dalam konteks inilah, penutupan Halau-Halau menemukan makna terdalamnya. Keputusan itu bukan penolakan terhadap manusia, melainkan penolakan terhadap cara manusia modern yang terlalu sering datang dengan hasrat menaklukkan.
Kita hidup di zaman dimana keberhasilan pembangunan sering diukur dari berapa banyak akses dibuka, berapa banyak wisatawan datang, berapa besar perputaran ekonomi tercipta, dan berapa luas bentang alam dapat dimonetisasi. Logika ini diam-diam menempatkan alam sebagai objek pasar. Hutan dihitung dari kayunya, sungai dari air bakunya, pegunungan dari tiket masuknya, dan ruang terbuka dari potensi komersialnya. Dalam logika seperti ini, alam kehilangan martabatnya sebagai penyangga kehidupan.
Di titik inilah gerakan Save Meratus menemukan relevansinya. Di Hulu Sungai Tengah, Save Meratus bukan sekadar slogan aktivisme. Ia telah tumbuh menjadi identitas ekologis masyarakat, kesadaran kolektif lintas generasi, dan simbol keberpihakan pada kelestarian bentang alam Meratus. Save Meratus adalah suara Banua yang berkata bahwa hutan, air, dan gunung tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas. Keputusan Juhu dan Hinas Kiri sesungguhnya adalah pengejawantahan paling konkret dari semangat itu.
Ketika banyak orang meneriakkan Save Meratus di ruang publik, masyarakat Juhu dan Hinas Kiri menerjemahkannya menjadi tindakan nyata dengan menutup permanen Halau-Halau demi menjaga kelestariannya.
Meski demikian, keputusan besar ini juga harus diikuti dengan langkah yang adil dan konsisten. Jika jalur pendakian ditutup permanen demi konservasi, maka perlindungan harus berlaku menyeluruh. Jangan sampai yang dihalau hanya pendaki, sementara ancaman yang lebih besar seperti pembalakan liar, perambahan, perburuan, atau bentuk eksploitasi lain tetap lolos. Konservasi tidak boleh simbolik. Ia harus substantif. Yang dijaga bukan hanya kesan, tetapi ekosistemnya.
Pemerintah daerah perlu membaca momentum ini sebagai peluang besar untuk membangun model perlindungan Meratus yang lebih terstruktur dengan penguatan kawasan inti konservasi, perlindungan hutan adat, penetapan buffer zone ekologis, pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat, riset yang menghormati persetujuan adat, serta tata kelola kolaboratif antara negara, masyarakat adat, akademisi, dan komunitas sipil. Halau-Halau harus dilihat sebagai bagian dari lanskap hidup Meratus yang bernilai ekologis, budaya, dan spiritual tinggi.
Pada akhirnya, keputusan Juhu dan Hinas Kiri mengandung pesan yang sangat kuat. Banua tidak selalu harus maju dengan membuka semuanya. Ada saat ketika kemajuan justru ditentukan oleh keberanian untuk menahan diri. Ada saat ketika pembangunan yang paling beradab adalah menjaga ruang tertentu tetap utuh. Ada saat ketika puncak tertinggi tidak lagi dilihat sebagai tempat untuk ditaklukkan, melainkan sebagai ruang untuk dihormati.
Halau-Halau kini memilih sunyi. Dalam sunyinya, Meratus sedang berbicara kepada Banua tentang alam bukan warisan yang bebas dihabiskan, melainkan titipan yang wajib dijaga. Tidak semua yang tinggi harus didaki. Sebagian cukup dijaga agar kehidupan di bawah tetap lestari. Dan mungkin, dari Juhu dan Hinas Kiri, Banua sedang belajar kembali arti peradaban yaitu maju tanpa kehilangan hormat kepada alam.

