PUBLIKAINDONESIA.COM, MARTAPURA – Bau menyengat menyelimuti kawasan Sungai Arfat di Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul, Kamis (9/7/2026). Ribuan bangkai ikan yang diduga berasal dari Keramba Jala Apung (KJA) mengapung memenuhi aliran sungai setelah terjadi kematian ikan secara massal.
Peristiwa tersebut bukan hanya merugikan para pembudidaya ikan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Air sungai yang selama ini dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga berubah keruh, berbau, dan tidak lagi nyaman digunakan.
Menindaklanjuti laporan warga, Pemerintah Kabupaten Banjar bergerak cepat dengan mengerahkan tim lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat sekaligus meminimalkan dampak pencemaran lingkungan.
Penanganan dipimpin langsung oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Banjar, H. Ikhwansyah, bersama jajaran Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH), serta sejumlah perangkat daerah lainnya.
Dengan semangat gotong royong, petugas bahu-membahu mengevakuasi ribuan bangkai ikan yang mengapung di sepanjang Sungai Arfat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi pencemaran, menghilangkan bau menyengat, sekaligus mengembalikan kualitas lingkungan agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
“Hari ini kami bersama seluruh SKPD terkait hadir untuk menjawab keluhan masyarakat. Masing-masing perangkat daerah menjalankan tugas sesuai kewenangannya agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin dan dampaknya segera diminimalkan,” ujar Ikhwansyah.
Di balik penanganan darurat, Pemkab Banjar juga menyoroti persoalan yang lebih besar. Berdasarkan informasi dari pembakal dan warga setempat, kematian ikan massal di kawasan tersebut bukanlah kejadian baru.
Fenomena serupa disebut hampir terjadi setiap tahun dan terus menjadi ancaman bagi para pembudidaya ikan maupun masyarakat yang bergantung pada Sungai Arfat.
Karena itu, pemerintah daerah tidak ingin penanganan berhenti pada pembersihan bangkai ikan semata.
“Informasi dari pembakal dan masyarakat menunjukkan kejadian ini hampir terjadi setiap tahun. Kami akan mengumpulkan seluruh SKPD terkait untuk menyusun langkah penanganan yang lebih konkret, terintegrasi, dan berkelanjutan agar persoalan ini tidak terus berulang,” tegas Ikhwansyah.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, tim gabungan juga melakukan pemantauan kualitas air dan berkoordinasi dengan instansi teknis guna mengidentifikasi penyebab pasti kematian ikan massal. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar penyusunan kebijakan dan langkah pencegahan jangka panjang.
Di tengah kondisi sungai yang tercemar, perhatian pemerintah juga difokuskan pada kebutuhan dasar masyarakat.
Pemkab Banjar langsung berkoordinasi dengan PT Air Minum Intan Banjar (Perseroda) untuk mempercepat distribusi air bersih kepada warga terdampak agar aktivitas sehari-hari tetap dapat berjalan.
“Kebutuhan masyarakat menjadi prioritas utama. Kami sudah berkoordinasi dengan PT AM Intan Banjar agar distribusi air bersih segera dilakukan sehingga warga tetap mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan,” jelas Ikhwansyah.
Penanganan darurat tidak hanya melibatkan pemerintah daerah. Sejumlah relawan juga turun tangan membantu masyarakat.
Relawan Buser 690 yang terdiri dari unsur Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih ke permukiman warga yang terdampak.
Kolaborasi antara Pemkab Banjar, PT AM Intan Banjar, dan para relawan menjadi bukti bahwa penanganan bencana lingkungan membutuhkan kerja sama semua pihak.
Pemerintah berharap sinergi tersebut tidak hanya mampu mengatasi kondisi darurat saat ini, tetapi juga menjadi awal lahirnya solusi berkelanjutan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
Kini, harapan masyarakat tertuju pada langkah konkret pemerintah dalam menemukan penyebab utama kematian ikan massal, sehingga Sungai Arfat dapat kembali menjadi sumber kehidupan, bukan lagi sumber keresahan.
#Banjar #KabupatenBanjar #Astambul #SungaiArfat #IkanMatiMassal #BeritaBanjar #KalimantanSelatan #LingkunganHidup #BPBDBanjar #InfoBanjar #AirBersih #DKPPBanjar #AMIntanBanjar #NewsKalsel #ViralBanjar

