PUBLIKAINDONESIA.COM, PEKANBARU – Misteri di balik terdamparnya seekor paus di perairan Sungai Bahale, Desa Bente, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, masih belum terpecahkan. Hingga kini, jenis mamalia laut tersebut belum dapat dipastikan lantaran kondisi bangkainya sudah mengalami pembusukan.
Untuk mengungkap identitas satwa laut itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengambil sampel darah yang selanjutnya akan dikirim ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta guna menjalani pemeriksaan laboratorium.

Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai jenis paus yang ditemukan terdampar di wilayah pesisir Riau.
Penata Kelautan dan Perikanan KKP, Sefriyanto Permana, mengatakan identifikasi belum bisa dilakukan hanya berdasarkan foto maupun pengamatan langsung di lokasi.
“Kita belum bisa menyimpulkan dugaan paus jenis apa. Untuk memastikan jenisnya, kita sudah mengambil sampel darah untuk diperiksa BRIN di Jakarta. Mudah-mudahan satu bulan mendatang sudah diketahui hasilnya,” kata Sefriyanto, Senin (28/9/2026).
Ia menjelaskan, pihaknya telah berkomunikasi dengan BRIN dan menjadwalkan pengiriman sampel pada Selasa (29/9/2026).
“Kita sudah kontak pihak BRIN-nya, besok rencananya kita kirim sampelnya,” ujarnya.
Proses identifikasi paus tersebut tidak berjalan mudah. Kondisi bangkai yang telah membusuk menjadi salah satu kendala utama bagi petugas dalam mengamati karakteristik fisiknya.
Saat ditemukan, tubuh paus berada dalam posisi terbalik. Kondisi tersebut membuat sejumlah bagian tubuh yang diperlukan untuk proses identifikasi sulit diamati secara langsung.
Keterbatasan peralatan di lapangan juga menjadi tantangan tersendiri. Petugas belum dapat membalikkan tubuh paus untuk memeriksa ciri-ciri fisiknya secara menyeluruh.
Padahal, bagian kepala merupakan salah satu elemen penting yang dapat membantu mengidentifikasi jenis paus. Namun, posisi bangkai dan kondisinya yang telah mengalami pembusukan membuat pengamatan tersebut belum bisa dilakukan secara optimal.
Selain itu, tubuh paus dilaporkan telah membengkak dan melunak akibat proses pembusukan. Akibatnya, sejumlah karakteristik fisik yang biasanya menjadi petunjuk identifikasi tidak lagi terlihat jelas.
Karena itu, pemeriksaan sampel di laboratorium BRIN menjadi langkah penting untuk membantu memastikan identitas mamalia laut tersebut.
KKP memperkirakan proses identifikasi melalui pemeriksaan BRIN membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Selama menunggu hasil laboratorium, petugas juga akan memanfaatkan foto dan dokumentasi visual sebagai bahan pendukung analisis.
Hingga saat ini, jenis paus, jenis kelamin, serta faktor yang menyebabkan mamalia laut tersebut terdampar di perairan Mandah masih belum diketahui secara pasti.
Dalam informasi yang beredar, kejadian ini juga mengingatkan pada peristiwa paus terdampar di Palembang. Meski demikian, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kedua kejadian tersebut memiliki keterkaitan.
Diperlukan informasi lebih lanjut mengenai jenis satwa, kondisi bangkai, lokasi kejadian, serta faktor penyebab masing-masing peristiwa sebelum hubungan di antara keduanya dapat dipastikan.
Untuk sementara, publik diminta menunggu hasil pemeriksaan ilmiah agar identitas paus yang terdampar di perairan Riau tidak disimpulkan berdasarkan dugaan semata.
#PausTerdampar #PausRiau #PausInhil #IndragiriHilir #SungaiBahale #DesaBente #Mandah #KKP #BRIN #MamaliaLaut #SatwaLaut #PausTerdamparDiRiau #BeritaRiau #BeritaPekanbaru #BeritaTerkini #LingkunganHidup #KonservasiLaut #PenelitianBRIN #FaktaPaus #PublikaIndonesia

