PUBLIKA INDONESIA, BANJARBARU – Upaya mempercepat terwujudnya perkebunan kelapa sawit berkelanjutan terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun. Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian dan dilaksanakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY).
Para peserta kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit dari Kabupaten Tanah Bumbu yang jumlahnya 84 orang terdiri dari pekebun, penyuluh, dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dibekali, teknis budidaya yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan usaha.
Pelatihan yang berlangsung pada 27 Juni–2 Juli di salah satu hotel di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mempersiapkan pekebun menghadapi tuntutan industri sawit global yang semakin menekankan praktik perkebunan berkelanjutan, efisiensi produksi, serta ketelusuran (traceability).
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan tantangan yang dihadapi perkebunan sawit rakyat kini semakin kompleks. Selain meningkatkan produktivitas, pekebun juga dituntut menerapkan praktik budidaya yang ramah lingkungan agar mampu memenuhi standar pasar internasional.
“Keberhasilan sawit tidak hanya tergantung pada bibit unggul ataupun pupuk, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Karena itu investasi terbaik adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pekebun agar mampu mengelola kebun secara produktif sekaligus berkelanjutan,” ujarnya saat sambutan acara pembukaan pelatihan, pada Senin (29 Juni 2026)
Menurut Idum, perubahan iklim, meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga berkembangnya teknologi pertanian mengharuskan pekebun terus belajar dan beradaptasi. Pelatihan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas, profesionalisme, sekaligus memperkuat penerapan prinsip-prinsip perkebunan berkelanjutan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai teknik budidaya kelapa sawit sesuai Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari pemeliharaan tanaman, pengelolaan tanah dan air, pengendalian hama dan penyakit secara tepat, hingga pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman.
Penerapan teknik tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi produktivitas. Di sisi lain, pengelolaan kebun yang tepat juga membantu menjaga kesuburan tanah, mengurangi risiko kerusakan lingkungan, serta menjamin keberlanjutan usaha perkebunan rakyat dalam jangka panjang.
Selain materi budidaya, peserta juga mengikuti pelatihan pemetaan kebun. Menurut Idum, kemampuan memetakan lahan menjadi pelengkap penting dalam pengelolaan perkebunan modern karena membantu pekebun mengetahui kondisi kebun secara lebih akurat.
“Dengan mengetahui luas sebenarnya, batas lahan, kondisi tanaman, hingga fasilitas kebun, maka setiap kegiatan budidaya dapat dilakukan lebih tepat sasaran. Budidaya dan pemetaan harus berjalan beriringan untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan pelatihan sebagai ruang belajar dan bertukar pengalaman agar ilmu yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan di kebun masing-masing.
“Petani masa depan bukan lagi hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga harus mampu memahami teknologi, mencatat usaha tani dengan baik, serta menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan,” katanya.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, pemerintah berharap pekebun mampu menghasilkan kebun yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan sehingga posisi sawit Indonesia semakin kuat di pasar global.

