Oleh: M. Irfan Fajrianur


Jakarta,19 Ramadhan 1447H.
Malam ini terasa lebih tenang. Baru saja saya menyelesaikan ibadah Tarawih, sebuah rutinitas spiritual yang selalu membawa kedamaian. Di sebuah sudut, sambil menikmati hidangan malam dan aroma kopi yang mengepul hangat, layar ponsel saya menyala. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Sultan Banjar, Yusuf Isnendar Chevi.
Isi pesannya bukan sekadar tegur sapa biasa. Beliau mengirimkan sebuah narasi besar tentang jati diri, sebuah pengingat tentang Peradaban Majapahit, Kesultanan Demak, dan Kesultanan Banjar.
Menyusuri Garis Sejarah dalam Genggaman
Sambil menyeruput kopi, saya meresapi baris demi baris pesan dari Sultan. Beliau mengingatkan bahwa tanah Kalimantan tidak berdiri sendiri dalam ruang hampa. Di sana, dari lingkungan dinasti Negara Dipa dan Negara Daha, muncul sosok Pangeran Samudera, sang pewaris sah takhta.
Pesan Sultan Yusuf membuat saya merenung: betapa kuatnya ikatan Nusantara ini. Pangeran Samudera tidak berjuang sendirian. Dengan dukungan politik dari Kesultanan Demak di Jawa, beliau berhasil menegakkan kembali marwah dinasti Banjar. Tepat pada tahun 1526, sejarah mencatat sebuah transformasi agung ketika beliau memeluk Islam dan dinobatkan sebagai Sultan Suriansyah, Sultan pertama Kesultanan Banjar.
Kuin: Titik Temu Tradisi dan Religi
Dalam pesan tersebut, Sultan menekankan bahwa dari pusat pemerintahan di Kuin, Banjarmasin, peradaban ini tidak hanya berkembang secara politik, tetapi juga menjadi motor penyebaran Islam di seluruh Kalimantan. Namun, ada satu hal yang paling menyentuh hati saya malam ini: Kesinambungan.
Sultan Yusuf menegaskan bahwa peradaban Nusantara bukanlah rangkaian kerajaan yang terputus-putus. Ada garis merah yang tebal dan nyata:
Majapahit mewariskan sistem pemerintahan dan budaya istana.
Kesultanan Demak menjadi jembatan transformasi menuju nilai-nilai baru.
Kesultanan Banjar melanjutkan warisan itu dalam bentuk kesultanan Islam yang tetap memeluk erat akar budaya Nusantara.
Refleksi di Malam Ramadhan
Duduk di Jakarta malam ini, saya merasa pesan WhatsApp dari Sultan Yusuf Isnendar Chevi adalah sebuah “prasasti digital” yang sangat berharga. Beliau mengingatkan saya—dan kita semua—bahwa sejarah kita dibangun oleh persatuan budaya dan kebijaksanaan para leluhur.
Apa yang diwariskan oleh Majapahit hingga ke Banjar adalah bukti bahwa kita adalah satu garis sejarah yang terus hidup. Di tengah hiruk-pikuk modernitas Jakarta, pesan ini seperti jangkar yang menjaga kita agar tetap membumi pada akar identitas bangsa.
Terima kasih, Sultan, atas pengingat sejarah yang luar biasa ini. Sembari menghabiskan sisa kopi malam ini, saya merasa bangga menjadi bagian dari peradaban yang besar dan bersambung ini.

