PUBLIKAINDONESIA.COM, PONTIANAK – Kota Pontianak kembali mencuri perhatian dunia internasional. Kali ini, giliran Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, yang mengaku terkesan dengan perkembangan infrastruktur dan penataan ibu kota Kalimantan Barat tersebut.


Kesan positif itu disampaikan Wang Lutong saat melakukan kunjungan dan audiensi dengan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di Ruang VIP Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (5/3/2026) pagi.
Menurutnya, Pontianak memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi di Kalimantan Barat, sehingga menjadi kota yang menarik untuk dijajaki peluang kerja samanya.
“Kami baru pertama kali datang ke Pontianak, tapi kami melihat infrastruktur dan penataan kotanya sangat baik,” ujar Wang Lutong.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan diplomatiknya di Indonesia setelah menghadiri perayaan Imlek Nasional di Jakarta dan Festival Cap Go Meh di Singkawang.
Dari berbagai cerita yang ia dengar, Pontianak dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi dan investasi, terutama di sektor pembangunan kota.
Salah satu bidang yang ditawarkan untuk kerja sama adalah pengolahan sampah berbasis energi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Wang Lutong menjelaskan bahwa Tiongkok memiliki teknologi yang cukup maju dalam mengolah sampah menjadi energi. Bahkan, sejumlah perusahaan milik negara dari Tiongkok telah terlibat dalam proyek serupa di berbagai daerah di Indonesia.
“Indonesia secara nasional sudah mengajukan proyek PLTSa dan ada beberapa yang telah disetujui. Kami memiliki teknologi yang cukup canggih untuk itu,” jelasnya.
Selain sektor energi, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dalam pembangunan infrastruktur kota, termasuk mendukung rencana pembangunan Jembatan Garuda yang digagas Pemerintah Kota Pontianak.
Jembatan tersebut diharapkan dapat mengurai kemacetan serta meningkatkan konektivitas antarwilayah di kota berjuluk Kota Khatulistiwa tersebut.
Lebih jauh, Wang Lutong menilai hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Hal itu terlihat dari meningkatnya kerja sama investasi di berbagai sektor, termasuk industri pertambangan serta hilirisasi bauksit yang menjadi program strategis nasional.
Ia juga menyoroti kuatnya hubungan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok yang semakin berkembang, salah satunya melalui meningkatnya minat masyarakat mempelajari bahasa Mandarin sebagai bekal kerja sama ekonomi dan internasional.
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia menilai hubungan historis antara masyarakat Tionghoa dan Kota Pontianak telah terjalin sangat lama dan menjadi bagian penting dari identitas kota.
“Banyak warga Tionghoa di Pontianak yang memiliki sejarah panjang dengan Tiongkok. Mereka telah menjadi warga negara Indonesia dan ikut mewarnai keberagaman di Pontianak,” ungkapnya.
Edi menambahkan, akulturasi budaya tersebut tercermin dari berbagai tradisi, kuliner khas, hingga keberadaan kelenteng-kelenteng tua yang masih berdiri kokoh di Pontianak.
Menurutnya, keberagaman masyarakat Kalimantan Barat bahkan dikenal dengan istilah Tidayu, yakni akronim dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang menjadi simbol persatuan serta harmoni sosial di daerah tersebut.
“Ini menjadi kekuatan sosial sekaligus budaya yang membuat Pontianak tetap harmonis dalam keberagaman,” pungkasnya.
#Pontianak #PontianakHariIni #KalimantanBarat #EdiRusdiKamtono #DubesChina #KerjasamaIndonesiaChina #InvestasiChina #PLTSa #EnergiDariSampah #PembangunanPontianak #JembatanGaruda #BeritaPontianak #KotaKhatulistiwa #EkonomiKalbar #IndonesiaChinaRelations

