PUBLIKAINDONESIA.COM, SIAK – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bumi Siak Pusako (BSP) menunjukkan sinyal kebangkitan setelah sempat terpuruk dengan kerugian mencapai USD 14 juta pada 2024. Kini, perusahaan migas kebanggaan Kabupaten Siak tersebut diproyeksikan mampu membukukan dividen hingga USD 6 juta atau lebih dari Rp100 miliar pada 2026.


Kebangkitan ini menjadi titik balik penting bagi BSP yang selama ini dikenal sebagai salah satu penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Siak.
Komisaris BSP yang juga menjabat Asisten II Pemerintah Kabupaten Siak, Herianto, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari serangkaian evaluasi dan kebijakan strategis yang dilakukan sejak Bupati Siak Afni Zulkifli bertindak sebagai perwakilan pemegang saham mayoritas.
“Kami bekerja dari arahan dan kebijakan Ibu Bupati. Alhamdulillah, BSP mulai rebound dan diproyeksikan dapat membukukan dividen sekitar USD 6 juta atau lebih dari Rp100 miliar pada 2026,” ujar Herianto, Rabu (4/3/2026).
Dividen Awal Capai Rp75,9 Miliar
Berdasarkan hasil rapat internal bersama notaris, BSP telah menghitung dividen interim sebesar USD 4,5 juta atau sekitar Rp75,9 miliar yang dapat langsung dibagikan kepada para pemegang saham.
Sementara itu, sisa dividen akan ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) setelah proses audit oleh kantor akuntan publik selesai dilakukan.
Dengan kepemilikan saham 72,29 persen, Pemerintah Kabupaten Siak diperkirakan akan menerima sekitar Rp52 miliar pada tahap awal pembagian dividen.
Adapun komposisi kepemilikan saham lainnya terdiri dari:
- Pemerintah Provinsi Riau: 18,07 persen
- Pemerintah Kabupaten Kampar: 6,02 persen
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan: 2,41 persen
- Pemerintah Kota Pekanbaru: 1,21 persen
Efisiensi Jadi Kunci Kebangkitan
Herianto menjelaskan, pemulihan kinerja BSP tidak terjadi secara instan. Sejumlah langkah strategis dilakukan untuk menyehatkan perusahaan.
Salah satu langkah utama adalah efisiensi operasional secara besar-besaran, termasuk mengevaluasi kegiatan trucking atau pengangkutan minyak melalui jalur darat yang selama ini memakan biaya tinggi.
Selain itu, BSP juga mengubah strategi pemasaran minyak mentah, dari sebelumnya fokus ekspor menjadi lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Perusahaan juga menunda sejumlah proyek yang dinilai tidak krusial, sekaligus melakukan restrukturisasi manajemen setelah menghadapi berbagai persoalan operasional sejak Maret 2023.
“BSP merupakan salah satu tulang punggung PAD Siak, sehingga kinerjanya harus terus dijaga dan diperkuat,” kata Herianto.
Tiga Agenda Besar BSP di 2026
Memasuki 2026, BSP menyiapkan tiga agenda strategis untuk memastikan kinerja perusahaan terus stabil dan berkelanjutan.
Pertama, pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) melalui pengeboran tujuh sumur minyak baru.
Kedua, kolaborasi pengadaan pipa baru guna menekan biaya pengangkutan minyak, menggantikan pipa lama yang dinilai sudah tidak layak.
Ketiga, penetapan direksi definitif melalui proses uji kelayakan dan kepatutan (UKK) secara profesional, sekaligus evaluasi manajemen dan tata kelola kepegawaian.
Bupati Siak Afni Zulkifli menegaskan bahwa kinerja perusahaan daerah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Yang penting output kerja wajib terukur, salah satunya dalam bentuk bagi hasil atau dividen BSP yang terjaga untuk kemaslahatan daerah,” tulis Afni melalui media sosialnya.
Dengan proyeksi dividen yang kembali positif, BSP kini diharapkan kembali menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus sumber pendapatan penting bagi Kabupaten Siak.
#BumiSiakPusako #BSP #BUMDSiak #PADSiak #EkonomiDaerah #MigasIndonesia #DividenBUMD #AfniZulkifli #BeritaRiau #EkonomiIndonesia #InvestasiDaerah #SiakHariIni #BeritaEkonomi #GoogleNewsIndonesia

