Close Menu
Publika Indonesia
    What's Hot

    “Kami Wakafkan Tenaga dan Pikiran!” Janji Bupati HSU di Awal Ramadan

    03/03/2026

    ASN Cuma Datang Absen? Wali Kota Pekanbaru : Kini Ditugaskan Atur Lalu Lintas Saja

    03/03/2026

    Pasar Ramadan Balangan Dibikin Makin Hidup! Wirawati 45 Bagi Voucher Belanja

    03/03/2026

    Menuju Kota Lebih Tertib! Pemko Banjarbaru Gaspol Benahi Layanan Publik

    03/03/2026

    Pemerintah Resmi Imbau Jemaah Umrah Tunda Perjalanan, Keselamatan Jadi Harga Mati

    03/03/2026
    Publika Indonesia
    • Home
    • Hukum
    • Kriminal
    • pemilu
    • Ekonomi
      1. Wisata
      2. Health
      3. View All

      Dari Banjir ke Bangkit: Maranting Menata Ulang Harapan Lewat River Tubing

      28/02/2026

      Sejuknya Bikin Lupa Pulang! Pesona Air Terjun Tayak di Halong

      27/02/2026

      Kelana Rasa Vol. 3: Grand Qin Banjarbaru Hadirkan Bukber Bertema “Journey to the Middle East”

      20/02/2026

      Bidik Wisatawan ASEAN, Ini Strategi Dispar Kalsel

      04/02/2026

      Kabar Baik! Klinik Vaksin Internasional Pertama Hadir di Puruk Cahu

      20/02/2026

      Balangan Health Run 4K, Cara Seru Warga Balangan Jaga Kesehatan

      15/12/2025

      Indonesia Siap Cetak Sejarah, Tim Muhammadiyah Dilirik WHO Jadi Pasukan Medis Dunia

      27/10/2025

      Workshop Nasional Kefarmasian 2025: Apoteker Didorong Jadi Garda Terdepan Atasi Hipertensi

      09/10/2025

      Lebih Irit dari Stylo 160? Kenalan Yuk Sama Honda Giorno!

      28/02/2026

      Kopdes Merah Putih di Konawe Selatan Ekspor 50 Ton Arang ke Tiongkok, Raup Rp734 Juta

      27/02/2026

      Toyota Kijang Super 2026 Resmi Comeback!, Legenda Keluarga Kini Lebih Modern dan Ramah Lingkungan

      27/02/2026

      💸 Lawan Pinjol, UMKM Tanah Bumbu Bisa Pinjam Modal Tanpa Bunga, Pemkab yang Bayar

      26/02/2026
    • Nusantara
      • Banjarbaru
      • Banjarmasin
      • Kabupaten Banjar
      • Kalimantan Selatan
      • Tanah Bumbu
    • Olahraga
    Subscribe
    Trending Topics:
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Publika Indonesia
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami
    Beranda » Beranda » Banjir di KALSEL Adalah Kejahatan Ekologis: Menagih Tanggung Jawab Negara

    Banjir di KALSEL Adalah Kejahatan Ekologis: Menagih Tanggung Jawab Negara

    Tim PublikaTim Publika28/12/2025

    PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan menegaskan bahwa banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan bukan bencana alam, melainkan kejahatan ekologis yang lahir dari gagalnya kebijakan tata kelola lingkungan oleh negara, kegagapan mitigasi bencana, kerakusan korporasi, dan pembiaran sistematis terhadap kerusakan lingkungan.

    Krisis iklim global memang nyata, namun di Kalimantan Selatan dampaknya dilipatgandakan oleh kehancuran ekosistem akibat industri ekstraktif yang terus diberi karpet merah oleh negara. Curah hujan tinggi hanya menjadi pemicu, sementara akar masalahnya adalah rusaknya daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat deforestasi, tambang, perkebunan monokultur skala besar, dan PBPH.

    Negara Memperparah Krisis dengan Kebijakan Eksploitatif

    WALHI menilai pemerintahan Prabowo–Gibran tidak menunjukkan komitmen nyata dalam penyelamatan lingkungan hidup. Sebaliknya, berbagai kebijakan atas nama pembangunan, pangan, energi, dan pertahanan justru mempercepat perampasan ruang hidup rakyat dan memperdalam krisis ekologis.

    Di tingkat global, pertemuan iklim seperti Conference of the Parties (COP), termasuk COP 30 di Brasil, gagal total menjawab krisis iklim. Kesepakatan yang dihasilkan tidak menyentuh sumber emisi dan perusakan, melainkan hanya memoles wajah kapitalisme hijau melalui berbagai skema solusi palsu.

    REDD+ dan Perdagangan Karbon adalah Solusi Palsu yang Menipu Publik

    Di Kalimantan Selatan, program REDD+ dan skema perdagangan karbon justru menjadi bagian dari masalah, bukan solusi. Program ini tidak menghentikan deforestasi dan perusakan, melainkan mengubah hutan menjadi komoditas baru bagi pasar karbon global.

    REDD+ memberi ruang bagi negara maju dan korporasi perusak lingkungan untuk terus mencemari dan merusak wilayah lain, sambil mengklaim pengurangan emisi dari hutan yang pada kenyataannya sudah lama dijaga oleh masyarakat adat dan lokal. Tanpa REDD+ sekalipun, hutan-hutan rakyat telah berfungsi sebagai penyerap karbon alami.

    WALHI menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa ditebus dengan sertifikat karbon. Seharusnya, pelaku perusakan melakukan pemulihan di lokasi kerusakan, bukan memindahkan tanggung jawab ke wilayah lain dan mengorbankan ruang hidup masyarakat.

    Kalimantan Selatan dalam Kondisi Darurat Ekologis

    Berdasarkan Catatan Akhir Tahun (CATAHU) WALHI Kalimantan Selatan 2025, kondisi lingkungan di Kalsel telah melewati batas aman. Dari total luas wilayah sekitar 3,7 juta hektar, sebanyak 51,57 persen atau sekitar 1,9 juta hektar telah dikuasai dan dibebani izin industri ekstraktif.

    Luasan ini setara hampir 29 kali luas DKI Jakarta, mencerminkan skala perampasan ruang hidup yang masif dan brutal. Sementara itu, sisa tutupan hutan primer di Kalimantan Selatan hanya sekitar 49.958 hektar, angka yang sangat timpang dibandingkan luas konsesi tambang, sawit, dan kehutanan.

    Kondisi inilah yang menjadi akar berulangnya banjir, longsor, krisis air bersih, dan hilangnya sumber penghidupan rakyat. Banjir hari ini adalah akibat langsung dari kebijakan yang membiarkan alam dihancurkan.

    Pemerintah Hanya Sibuk Mengelola Dampak, Bukan Menghentikan Penyebab

    Setiap tahun pemerintah hanya sibuk pada penanggulangan bencana, distribusi bantuan, dan normalisasi sungai, tanpa pernah berani menyentuh penyebab utama bencana itu sendiri. Evaluasi dan pencabutan izin industri ekstraktif terus ditunda, seolah negara menunggu jatuhnya korban jiwa lebih banyak baru bertindak.

    Bahkan dalam banyak peristiwa bencana ekologis, pemerintah enggan menetapkan status bencana yang layak, sehingga masyarakat kehilangan hak atas pemulihan, perlindungan, dan keadilan pascabencana.

    Lambatnya Tindakan Tegas Aparat dalam Sektor Ekstraktif

    WALHI Kalimantan Selatan menilai buruknya dampak lambatnya tindakan aparat dalam sektor ekstraktif ilegal yang mengakibatkan masifnya eksploitasi dan kerusakan. Aparat penegak hukum (APH) mestinya menindak tegas, cepat, dan tepat alih-alih lamban dan terkesan nirinisiatif dalam penindakan.

    Tuntutan WALHI Kalimantan Selatan

    WALHI Kalimantan Selatan menuntut:

    1.Hentikan seluruh perluasan dan operasi industri ekstraktif yang merusak lingkungan di Kalimantan Selatan.

    2.Evaluasi dan cabut izin-izin bermasalah tanpa menunggu bencana dan korban jiwa.

    3.Hentikan program solusi palsu krisis iklim, termasuk REDD+ dan perdagangan karbon yang mengorbankan masyarakat dan menutupi kejahatan ekologis.

    4.Pulihkan lingkungan berbasis keadilan ekologis dan pengakuan wilayah kelola rakyat.

    5.Penegakan hukum yang tegas pada perusak lingkungan.

    Banjir di Kalimantan Selatan adalah peringatan keras bahwa krisis ekologis telah menjadi kenyataan pahit. Selama negara terus berpihak pada korporasi dan menjadikan solusi palsu sebagai tameng, bencana akan terus diproduksi dan rakyat akan terus menjadi korban.

    Share. Facebook WhatsApp Twitter LinkedIn Email

    Related Posts

    “Kami Wakafkan Tenaga dan Pikiran!” Janji Bupati HSU di Awal Ramadan

    03/03/2026

    ASN Cuma Datang Absen? Wali Kota Pekanbaru : Kini Ditugaskan Atur Lalu Lintas Saja

    03/03/2026

    Pasar Ramadan Balangan Dibikin Makin Hidup! Wirawati 45 Bagi Voucher Belanja

    03/03/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    “Kami Wakafkan Tenaga dan Pikiran!” Janji Bupati HSU di Awal Ramadan

    03/03/2026

    ASN Cuma Datang Absen? Wali Kota Pekanbaru : Kini Ditugaskan Atur Lalu Lintas Saja

    03/03/2026

    Pasar Ramadan Balangan Dibikin Makin Hidup! Wirawati 45 Bagi Voucher Belanja

    03/03/2026

    Menuju Kota Lebih Tertib! Pemko Banjarbaru Gaspol Benahi Layanan Publik

    03/03/2026
    Berita Pilihan
    Amuntai

    “Kami Wakafkan Tenaga dan Pikiran!” Janji Bupati HSU di Awal Ramadan

    03/03/2026 Amuntai

    PUBLIKAINDONESIA.COM, AMUNTAI – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Furqan, Desa Jarang Kuantan, Kecamatan Amuntai Selatan,…

    ASN Cuma Datang Absen? Wali Kota Pekanbaru : Kini Ditugaskan Atur Lalu Lintas Saja

    03/03/2026

    Pasar Ramadan Balangan Dibikin Makin Hidup! Wirawati 45 Bagi Voucher Belanja

    03/03/2026

    Menuju Kota Lebih Tertib! Pemko Banjarbaru Gaspol Benahi Layanan Publik

    03/03/2026

    Recent Posts

    • “Kami Wakafkan Tenaga dan Pikiran!” Janji Bupati HSU di Awal Ramadan
    • ASN Cuma Datang Absen? Wali Kota Pekanbaru : Kini Ditugaskan Atur Lalu Lintas Saja
    • Pasar Ramadan Balangan Dibikin Makin Hidup! Wirawati 45 Bagi Voucher Belanja
    • Menuju Kota Lebih Tertib! Pemko Banjarbaru Gaspol Benahi Layanan Publik
    • Pemerintah Resmi Imbau Jemaah Umrah Tunda Perjalanan, Keselamatan Jadi Harga Mati

    Recent Comments

    1. EarnestHeS mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    2. Maf mengenai Waspada Ular di Sekitar Lingkungan Saat Musim Hujan
    3. RandomNameAgers mengenai Kadis Kominfo Banjarbaru Ikuti Forum Komdigi di MUNAS APEKSI Surabaya
    4. RandomNameAgers mengenai Masyarakat Kabupaten Banjar Masih Inginkan H Saidi Mansyur Untuk Memimpin
    5. ThomasAgers mengenai 135 Pelaku Diamankan, Polda Kalsel Tegas Berantas Premanisme Lewat Operasi Sikat Intan 2025
    Maret 2026
    SSRKJSM
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031 
    « Feb    
    © 2026 - PublikaIndonesia.com
    • Tim Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.