PUBLIKAINDONESIA.COM – Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan luka mendalam. Di balik angka-angka korban, tersimpan kisah perjuangan warga yang bertahan hidup dengan cara apa pun mulai dari mengungsi ke hutan, tidur di atap bangunan, hingga berjalan kaki lintas provinsi.


Bencana yang dipicu hujan ekstrem akibat siklon tropis Senyar pada 25–27 November 2025 itu membawa gelondongan kayu, batu, dan lumpur menghantam permukiman. Dampaknya begitu masif.
Berdasarkan data BNPB hingga Kamis (11/12/2025), lebih dari 900 orang meninggal dunia, 390 orang masih hilang, serta 5.000 warga luka-luka. Ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Pelukan Terakhir Rina di Gelapnya Arus Banjir
Di Palembayan, Sumatera Barat, Rina Sitati memeluk erat anaknya saat arus bandang menyeret tubuh mereka. Dalam video yang beredar, Rina mengingat kembali detik-detik mencekam tersebut.
“Anak saya terasa berat, dipeluknya saya,” ujarnya sambil menahan tangis.
Rina sempat mengira ajal datang menjemput.
“Kalau mati ikhlas… Allah, Allah, Allah,” lanjutnya.
Dia dan anaknya sempat berlari sekitar 10 meter dari rumah sebelum tiba-tiba semuanya gelap. Arus deras memaksa mereka berpelukan agar tidak terpisah.
50 Warga Bertahan 5 Hari di Atap Bangunan: ‘Satu Sendok Nasi untuk Anak-Anak’
Di Aceh Tamiang, Wahyu Putra Pratama menceritakan bagaimana ia dan sekitar 50 warga lainnya terjebak di atas bangunan selama lima hari lima malam.
Banjir mulai masuk setelah Magrib. Mereka bergegas naik ke bangunan terdekat, berdesakan bersama anak-anak dan orang dewasa.
“Rumah sudah hancur semua. Kami bertahan hidup melawan arus, nyari apa pun yang bisa dimakan,” kata Wahyu.
Kelapa yang hanyut, beras sisa, atau apa saja yang ditemukan itu yang dimasak. Mereka menghemat makanan ekstrem: satu sendok nasi untuk satu orang, dan sebagian besar diberikan untuk anak-anak.
Terdampar di Hutan Dua Hari: Hidup dari Nangka Muda Berukuran Kelereng
Tak jauh dari sana, 50 warga Tapanuli Tengah terjebak di hutan selama dua hari tanpa logistik. Rosmawati Zebua menceritakan kondisi adiknya yang berada dalam kelompok itu.
“Dari Selasa sampai Rabu nggak makan sama sekali,” katanya.
Di hari kedua, rasa lapar tak tertahankan. Mereka akhirnya memetik nangka muda sebesar biji kelereng, memanggangnya, dan memakannya untuk bertahan hidup. Minumnya? Air hujan.
Warga baru berhasil mengevakuasi diri pada Kamis (27/11).
Guru PPPK Jalan Kaki 130 Km dari Aceh Tamiang ke Medan
Kisah lain datang dari Adi Guenea Isman (26), guru PPPK Bahasa Jepang asal Sumedang yang bertugas di SMK Negeri 2 Karang Baru, Aceh Tamiang.
Saat banjir setinggi dua meter merendam permukiman, Adi mengungsi di lantai dua sebuah kos bersama empat keluarga lain. Mereka hidup tanpa listrik, tanpa sinyal, dan hanya mengandalkan makanan sisa dari minimarket yang sudah tergenang.
“Saya sudah tidak tahu harus bagaimana. Tidak ada bantuan,” ujarnya.
Ketika air surut pada 1 Desember, Adi memutuskan keluar mencari sinyal. Niat awalnya menuju Kota Langsa dengan sepeda gagal karena jalur rusak berat. Akhirnya ia memilih berjalan kaki menuju Medan pada 4 Desember.
Perjalanan sejauh 130 kilometer ditempuhnya dalam dua hari melawan rasa lapar, kelelahan, dan cuaca buruk. Beberapa truk yang coba ia hentikan menolak memberi tumpangan karena maraknya isu penjarahan.
