PUBLIKAINDONESIA.COM, ACEH – Di tengah sisa lumpur banjir bandang dan longsor yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Aceh, satu hal dipastikan tak boleh ikut terhenti: layanan kesehatan.


Di balik medan berat dan akses terbatas, ribuan relawan serta tenaga medis bergerak tanpa banyak sorotan, memastikan negara tetap hadir hingga ke wilayah paling terisolasi.
Di Kabupaten Pidie Jaya, pelayanan kesehatan sempat terkendala akibat akses jalan desa yang masih tertutup lumpur tebal. Bahkan, ambulans yang membawa dokter relawan dari Kementerian Kesehatan sempat mogok saat melintasi jalur Kecamatan Meurah Dua.
Namun keterbatasan itu tak menyurutkan langkah tim medis. Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Pidie Jaya, Edy Azwar, mengatakan pelayanan tetap dilanjutkan dengan memanfaatkan kendaraan milik warga setempat.
> “Meski demikian, pelayanan tetap dilanjutkan dengan memanfaatkan kendaraan warga agar tenaga medis dapat segera bertugas di lapangan,” ujar Edy, Rabu (7/1/2026).
Sejak hari pertama bencana, penanganan medis di Pidie Jaya melibatkan 77 relawan kesehatan dari berbagai organisasi serta 646 tenaga kesehatan daerah.
Mereka berjibaku membersihkan fasilitas kesehatan, menyelamatkan alat medis dan obat-obatan, menyalakan listrik, hingga memastikan ketersediaan air bersih.
Edy memastikan, stok obat-obatan hingga kini masih dalam kondisi aman berkat dukungan pemerintah pusat dan para donatur.
> “Ketersediaan obat-obatan hingga saat ini dalam kondisi aman,” katanya.
Menembus Pedalaman dengan Tali Sling
Dedikasi serupa terlihat di wilayah pedalaman Kabupaten Aceh Tengah. Di Kampung Burlah, Kecamatan Ketol, akses jalan terputus total akibat banjir bandang dan longsor. Untuk menjangkau warga, tim Emergency Medical Team (EMT) Dinas Kesehatan Aceh harus menggunakan tali sling melintasi medan ekstrem.
Ketua Tim 1 EMT Terpadu HEOC Aceh Tengah, Muhammad Jamil, menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan dipusatkan di Polindes Burlah. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan dan pengobatan umum, penyuluhan kesehatan, trauma healing bagi anak-anak dan ibu-ibu pengungsi, hingga kunjungan rumah untuk pasien dengan kondisi khusus.
> “Satu pasien dengan kondisi Hernia Nucleus Pulposus (HNP) telah dirujuk ke RSUD Datu Beru untuk penanganan lanjutan,” ungkap Jamil.
Puluhan Ribu Warga Terlayani
Gerak cepat tim kesehatan pemerintah Aceh membuahkan hasil signifikan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh sekaligus Ketua HEOC Aceh, Ferdiyus, menyebutkan hingga 6 Januari 2026, sebanyak 23.293 warga terdampak telah mendapatkan layanan kesehatan.
Penyakit yang paling banyak ditangani masih didominasi ISPA, penyakit kulit, hipertensi, serta gangguan pencernaan. Untuk mendukung pelayanan tersebut, Dinas Kesehatan Aceh mengerahkan 3.916 personel gabungan relawan dan EMT yang tersebar di 12 kabupaten/kota terdampak.
Personel ini terdiri dari dokter spesialis, dokter umum dan gigi, perawat, bidan, tenaga gizi, tenaga kesehatan lingkungan, hingga tenaga pendukung nonkesehatan.
Selain pelayanan kuratif, Dinkes Aceh juga memperkuat surveilans penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), seperti diare dan influenza-like illness (ILI), melalui langkah pencegahan dan edukasi kesehatan.
Ribuan Relawan Bergerak Terkoordinasi
Berdasarkan data HEOC, sejak 27 November 2025 hingga 13 Januari 2026, tercatat 4.061 relawan mendaftar membantu layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana di Sumatra. Relawan berasal dari berbagai institusi, mulai dari Médecins Sans Frontières (MSF), rumah sakit, organisasi profesi, fakultas kedokteran, hingga politeknik kesehatan.
Melalui HEOC, Kementerian Kesehatan mengatur penempatan dan rotasi relawan agar layanan kesehatan tetap merata. Setiap gelombang pengiriman juga menyertakan 30–35 psikolog klinis untuk mendukung kesehatan jiwa masyarakat terdampak.
> “Tidak semuanya masalah fisik. Ada juga yang trauma, kehilangan keluarga, dan itu harus kita tangani dengan sebaik-baiknya,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.
HEOC sendiri dibentuk sejak hari pertama bencana sebagai pusat kendali distribusi tenaga kesehatan. Saat ini, layanan kesehatan di Aceh didukung oleh 309 puskesmas, 23 rumah sakit pemerintah, serta 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pos pengungsian.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menegaskan koordinasi menjadi kunci agar layanan tidak terputus.
> “Kami mengerahkan seluruh potensi tenaga medis dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan menjangkau setiap daerah sesuai kebutuhannya,” tegasnya.
