PUBLIKAINDONESIA.COM, MARTAPURA – Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit yang kerap muncul setelah banjir. Sejumlah gangguan kesehatan seperti diare, demam, ISPA, hingga penyakit kulit menjadi fokus utama penanganan di masa pemulihan pascabanjir.


Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dr. H. Noripansyah, mengatakan kondisi lingkungan pascabanjir yang masih kotor, ditambah genangan air bercampur tanah dan limbah, berpotensi besar memicu munculnya berbagai penyakit.
“Kalau pembersihan tidak segera dilakukan, rumah dan sumber air bersih bisa terkontaminasi. Ini yang membuat risiko penyakit meningkat,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/1/2026).
Salah satu penyakit yang menjadi sorotan adalah leptospirosis, atau yang lebih dikenal sebagai penyakit kencing tikus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang menyebar melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan, terutama tikus.
Penularan leptospirosis biasanya terjadi saat seseorang bersentuhan langsung dengan air atau tanah yang terkontaminasi, terutama melalui luka di kulit. Gejalanya beragam, mulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga kondisi serius jika tidak segera ditangani.
Meski demikian, Noripansyah menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus positif leptospirosis di Kabupaten Banjar.
“Kami masih fokus pada langkah pencegahan. Masyarakat kami imbau menjaga kebersihan lingkungan, memakai alas kaki saat berada di genangan air, dan segera membersihkan rumah setelah banjir surut,” katanya.
Selain leptospirosis, penyakit lain yang rawan muncul pascabanjir antara lain diare, demam tifoid, ISPA, serta penyakit kulit. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinkes Banjar terus menyiagakan tim Puskesmas, bidan desa, dan tenaga kesehatan lainnya di lapangan.
UPTD Puskesmas di setiap kecamatan dijadikan ujung tombak pelayanan kesehatan, termasuk melalui posko-posko banjir yang tetap aktif memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan bagi warga terdampak.
Noripansyah juga mengingatkan warga agar tidak ragu mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan kesehatan setelah banjir.
“Masyarakat yang merasakan gejala penyakit pascabanjir bisa langsung datang ke posko atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan cepat,” ujarnya.
Ia menegaskan, meski saat ini Kabupaten Banjar mulai memasuki masa peralihan dari tanggap darurat ke pemulihan, kesiapsiagaan sektor kesehatan tetap menjadi prioritas utama.
“Kami tetap siaga, terutama di 10 kecamatan yang terdampak banjir,” tutupnya.

