PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Dinamika isu hak asasi manusia (HAM) di Indonesia mendadak memanas di ruang digital. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, secara terbuka menantang Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar yang akrab disapa Uceng, untuk berdebat secara langsung di televisi nasional.


Tantangan tersebut bukan muncul tiba-tiba. Semuanya bermula dari adu argumentasi keduanya di platform X (Twitter), yang kemudian menarik perhatian publik.

Pertukaran pernyataan itu diawali ketika Uceng menyampaikan kesiapannya untuk belajar memahami isu HAM dari Pigai. Respons itu kemudian berkembang menjadi wacana diskusi ilmiah yang membahas satu per satu kasus HAM kontroversial di Indonesia.
Uceng menyatakan dirinya siap jika diskusi tersebut difasilitasi oleh stasiun televisi nasional. Namun, ia mengaku tidak memiliki kewenangan untuk menghubungi atau mengatur pihak televisi.
“Saya gak punya kekuasaan pak. Semoga ada TV nasional yang bisa fasilitasi. Kalau bapak yang colek mereka mungkin lebih berarti,” tulis Uceng dalam balasannya di media sosial.
Pernyataan itu menjadi bola panas yang kini menunggu siapa yang akan benar-benar mengambil langkah konkret untuk merealisasikan debat terbuka tersebut.

Dalam cuitannya, Uceng juga memaparkan rekam jejak akademiknya di bidang HAM. Ia pernah menjadi peneliti di Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta selama tiga tahun dan menyelesaikan studi S2 Hukum HAM di Amerika Serikat.
“Terima kasih youtubenya. Saya hanya pernah tiga tahun peneliti di Pusat Studi HAM UII Jogja dan kuliah S2 Hukum HAM di Amerika. Saya pasti senang belajar,” tulisnya.
Pernyataan itu dinilai sebagian warganet sebagai bentuk kesiapan berdialog secara ilmiah, bukan hanya adu opini di media sosial.

Sebelum wacana debat terbuka mencuat, Pigai sempat mengunggah cuitan panjang yang menegaskan bahwa pemahamannya tentang HAM tidak hanya bersumber dari teori, tetapi juga pengalaman hidup.
Ia mengaku telah memahami isu HAM sejak usia lima tahun, saat hidup di tengah situasi konflik bersenjata. Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk perspektifnya terhadap isu-isu pelanggaran HAM di Indonesia.
Narasi personal itu kemudian memperkuat posisi Pigai dalam diskursus publik, sekaligus memantik respons dari kalangan akademisi dan masyarakat sipil.
Publik Menanti Realisasi Debat
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari stasiun televisi nasional terkait kemungkinan memfasilitasi debat tersebut. Namun, wacana ini sudah terlanjur viral dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform digital.
Jika benar terealisasi, debat terbuka antara pejabat negara dan akademisi ini berpotensi menjadi ruang diskusi publik yang menarik, sekaligus menguji argumentasi kedua belah pihak secara transparan di hadapan masyarakat luas.
Kini, publik menunggu: apakah tantangan ini akan benar-benar terjadi di layar kaca, atau hanya berhenti sebagai polemik di media sosial?
#NataliusPigai #ZainalArifinMochtar #DebatHAM #IsuHAM #PolitikIndonesia #UGM #HakAsasiManusia #BeritaNasional #TrendingX #DebatTerbuka
