PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Kabar membanggakan datang dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Salah satu mahasiswinya, Nur Kemala Hayati, sukses menyabet gelar Galuh Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan 2025 dalam ajang Nanang Galuh Kebudayaan Kalimantan Selatan tingkat provinsi.


Prestasi ini bukan sekadar soal mahkota dan selempang. Lebih dari itu, kemenangan Aya sapaan akrabnya menjadi bukti bahwa generasi muda Banua mampu membawa budaya lokal tampil keren, relevan, dan adaptif di era digital.
Sebagai Delegasi 1 Kota Banjarmasin, Aya harus melewati serangkaian tahapan seleksi yang padat selama empat hari. Mulai dari technical meeting, masa karantina, hingga grand final yang digelar pada Desember lalu.
Persaingan tak main-main. Perwakilan terbaik dari 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan hadir dengan kemampuan dan talenta unggulan masing-masing.
Para peserta diuji dalam berbagai aspek:
* Pengetahuan kebudayaan Banjar
* Kepribadian dan public speaking
* Kemampuan berpikir kritis
* Unjuk bakat
Pada sesi *jelajah banua*, peserta ditantang memaparkan ragam budaya di seluruh kabupaten/kota di Kalsel. Sementara dalam *motion challenge*, Aya berhasil menembus empat besar dan keluar sebagai pemenang tantangan argumentasi.
Tak berhenti di situ, ia juga menjalani *deep interview* tentang visi Nanang Galuh yang berlandaskan nilai baadat, babudaya, dan religius. Di malam bakat, Aya tampil memukau lewat pertunjukan Mamanda bersama Nanang Rafiqi.
Semua proses itu berpuncak pada grand final dan nama Delegasi 1 Kota Banjarmasin resmi diumumkan sebagai Galuh Kebudayaan Kalimantan Selatan 2025.
Tanpa Background Pageant, Modal Nekat dan 14 Hari Persiapan
Menariknya, Aya mengaku ini adalah pengalaman pertamanya di ajang pageant budaya.
Dalam wawancara daring, Jumat (20/2/2026), mahasiswi Fakultas Hukum ULM itu mengungkapkan bahwa ia hanya memiliki waktu sekitar 14 hari untuk mempersiapkan diri sejak seleksi tingkat kota.
“Persaingannya ketat sekali. Semua daerah mengirim putra-putri terbaiknya. Tapi dukungan keluarga, teman, dosen, sampai Dekan Fakultas Hukum ULM jadi energi besar buat saya,” ujarnya.
Tanpa latar belakang keluarga di bidang budaya atau pageant, Aya membuktikan bahwa tekad, kerja keras, dan dukungan lingkungan bisa membuka jalan menuju panggung provinsi.
Gelar yang diraih tak membuatnya berhenti di seremoni. Bersama Nanang dan rekan seangkatannya, Aya langsung bergerak menghadirkan program kreatif.
Salah satunya Banjar Bernyanyi Bareng, gerakan penggalangan dana untuk korban banjir di Kalimantan dan Sumatra. Selain itu, ada program Nanang Galuh Kalsel Goes to School, yang menyasar edukasi budaya ke sekolah-sekolah.
Namun, gebrakan paling personal datang lewat inisiatif bertajuk “Aya Bakisah (Banjar Kini dan Sejarah)”.
Program ini berupa literasi budaya berbasis konten digital yang dikemas engaging dan ramah Gen Z. Melalui media sosial, Aya memperkenalkan budaya Banjar dengan gaya santai namun bermakna.
Mulai dari memadukan kain sasirangan dalam outfit modern, hingga menjelaskan filosofi atribut busana adat Galuh seperti kambang goyang dan perhiasan tradisional.
“Saya ingin anak muda merasa budaya itu dekat dan nggak kaku. Kenal dulu, lalu cinta,” tuturnya.
ULM Dukung Talenta Muda Berdaya Saing
Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Lambung Mangkurat dalam mendukung pengembangan mahasiswa secara holistik tak hanya akademik, tetapi juga budaya, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat.
ULM terus membuka ruang bagi mahasiswa berprestasi untuk berkembang dan membawa dampak nyata bagi daerah.
Prestasi Aya diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani tampil, berinovasi, dan menjadi duta budaya yang adaptif di era digital.
Karena di tangan generasi muda seperti Aya, budaya Banjar bukan hanya warisan tetapi juga masa depan.
#ULM #UniversitasLambungMangkurat #NanangGaluhKalsel #GaluhKebudayaan2025 #MahasiswiBerprestasi #BudayaBanjar #GenZBerbudaya #Banjarmasin #KalimantanSelatan #PrestasiMahasiswa
