PUBLIKAINDONESIA.COM, PELAIHARI – Hujan belum juga memberi jeda. Air masih menggenang di sejumlah wilayah Kabupaten Tanah Laut. Namun di tengah cuaca yang belum bersahabat itu, Pemerintah Kabupaten Tanah Laut memilih untuk tidak menunggu. Bupati Tanah Laut H. Rahmat Trianto turun langsung ke lapangan, menyusuri titik-titik banjir demi satu tujuan: air harus segera surut.


Sabtu itu, langkah Bupati Rahmat berhenti di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau, salah satu wilayah yang terdampak banjir cukup parah. Di sana, ia meninjau langsung rencana pembuatan pintu air dan pendalaman muara, upaya teknis yang diyakini mampu mempercepat aliran air menuju laut.
“Karena curah hujan masih cukup tinggi, kita sebagai pemerintah daerah harus bergerak cepat. Titik-titik genangan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,” ujar Rahmat dengan nada tegas namun tenang.

Tak hanya Handil Negara, tinjauan juga mencakup wilayah Kurau Utara hingga Handil Maluka. Dari hasil pantauan langsung di lapangan, Bupati memastikan akan dilakukan pendalaman di titik-titik muara, sekaligus pembuatan pintu air di beberapa lokasi strategis.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka menengah agar air tidak lagi tertahan di pemukiman warga, melainkan bisa segera dialirkan ke laut. Bagi Rahmat, penanganan banjir tidak cukup dengan rencana di atas kertas harus dilihat langsung, dirasakan langsung.
“Saya ingin memastikan penanganannya maksimal. Bukan hanya cepat, tapi tepat,” tegasnya.

Momen Tak Terduga di Tengah Kunjungan
Di balik agenda teknis, ada satu momen yang menyentuh banyak pihak. Saat kunjungan berlangsung, rombongan mendapati seorang warga yang sedang sakit dan membutuhkan evakuasi dari atas kelotok.
Dengan sigap, Bupati Rahmat langsung memerintahkan agar ambulans yang ada di lokasi segera membawa warga tersebut. Namun situasi mendadak berubah. Sopir ambulans tak kunjung ditemukan.
Dengan suara bergetar dan nada spontan, Rahmat melontarkan, “Astaghfirullah…”
Tanpa menunggu lama, ia langsung mengambil keputusan. Warga tersebut akhirnya dibawa menggunakan mobil milik rombongan bupati agar segera mendapat penanganan medis.
Satu keputusan kecil, tapi bermakna besar bagi warga yang menyaksikannya.
Menyapa dari Pintu ke Pintu
Kunjungan itu tak berhenti di titik banjir atau saluran air. Rahmat juga berkeliling dari rumah ke rumah, menyapa warga terdampak, mendengar keluhan, sekaligus memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi selama banjir melanda.
Bagi warga, kehadiran orang nomor satu di Tanah Laut bukan simbol. Itu adalah bentuk empati, bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.
Di tengah genangan air dan langit yang masih kelabu, langkah cepat pemerintah daerah Tanah Laut memberi secercah harapan: bahwa banjir bukan hanya bencana, tapi tantangan yang dihadapi bersama.
