PUBLIKAINDONESIA,BANJARBARU – Sejumlah mahasiswa menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Markas Polda Kalimantan Selatan di Banjarbaru, Senin (2/3/2026).


Mahasiswa yang mengenakan jas almamater dari Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Islam Kalimantan, dan UIN Antasari Banjarmasin itu bergerak dari halaman Masjid Agung Al Munawwarah menuju Mapolda Kalsel.
Dalam aksinya, mahasiswa membawa sejumlah poster sebagai bentuk keprihatinan atas beberapa kasus yang dinilai melibatkan oknum anggota Polri. Orasi disampaikan secara bergantian dengan tertib.

Mereka membawa sejumlah poster bergambar korban pembunuh yang melibatkan polisi. Salah satunya, kasus kematian mahasiswi ULM, Zahra Dilla, yang pelakunya merupakan polisi. Kemudian Affan Kurniawan, yang tewas dilindas mobil polisi saat peristiwa kerusuhan di Jakarta, dan foto Arianto Tawakal, pelajar 14 tahun di Tual Maluku yang tewas dipukul anggota Polri.
Sebelumnya mahasiswa sempat berharap dapat bertemu langsung dengan Kapolda Kalsel Rosyanto Yudha Hermawan. Namun karena Kapolda tengah menjalankan agenda kedinasan di Jakarta, pertemuan diwakili Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Golkar Pangarso Rahardjo yang turun langsung menemui massa aksi.
Didampingi sejumlah pejabat utama, Wakapolda berdialog dengan mahasiswa di depan gerbang Mapolda. Ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kapolda sekaligus mengapresiasi aspirasi yang disampaikan.
Perwakilan mahasiswa, Muhammad Arifin, menyampaikan sejumlah tuntutan. Di antaranya meminta penindakan tegas terhadap anggota Polri yang terbukti melakukan pelanggaran pidana melalui proses hukum yang transparan serta evaluasi menyeluruh terhadap institusi kepolisian di Kalimantan Selatan.
“Hapus juga praktik saling melindungi,” ungkap Arifin.
Menanggapi hal tersebut, Wakapolda menegaskan bahwa reformasi di tubuh Polri terus berjalan, sehingga tidak ada toleransi terhadap setiap pelanggaran. Perbaikan dari sisi SDM maupun tata kelola terus dilakukan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Adam Erwindi menyatakan bahwa pihaknya menghormati penyampaian aspirasi mahasiswa sebagai bagian dari dinamika demokrasi.
“Aksi berjalan aman dan kooperatif. Aspirasi yang telah disampaikan akan kami kaji dan tindak lanjuti sesuai kewenangan serta mekanisme yang berlaku,” kata Adam.
Setelah berorasi dan berdialog lebih dari dua jam, massa mahasiswa membubarkan diri secara tertib sekitar pukul 18.00 Wita.

