PUBLIKAINDONESIA.COM, KOTABARU – Upaya pemerintah membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui Program Sekolah Rakyat terus menjadi bahan evaluasi.


Salah satu tantangan utama yang muncul adalah kesiapan mental dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan sistem sekolah berasrama yang berlokasi jauh dari keluarga.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kotabaru melalui Sekretaris Dinas Sosial, Trianto, mengungkapkan bahwa pihaknya sebelumnya diberi ruang untuk mengusulkan calon peserta didik ke Sekolah Rakyat Rintisan. Namun, dalam praktiknya tidak semua anak mampu bertahan mengikuti sistem pendidikan tersebut.
“Memang bukan kuota khusus, tetapi kami dipersilakan mengusulkan anak. Setelah beberapa kali dianjurkan, ada yang tidak tahan. Kemungkinan karena jauh dari rumah atau memang belum memiliki keinginan kuat untuk bersekolah,” ujar Trianto, Kamis (15/1/2026).
Dari anak-anak yang sempat diusulkan, tercatat tiga orang akhirnya kembali ke rumah, sementara enam anak asal Kabupaten Kotabaru hingga kini masih bertahan dan mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Rintisan.
Trianto menjelaskan, mekanisme pengusulan calon siswa tidak bisa dilakukan secara instan. Pengajuan hanya dapat dilakukan apabila masih tersedia kuota kosong, baik untuk jenjang SD, SMP, maupun SMA, serta harus melalui tahapan awal.
“Prosesnya dimulai dari penjajakan, mendatangi anak dan keluarganya, memberikan pemahaman tentang Sekolah Rakyat, hingga adanya persetujuan dari orang tua dan anak. Setelah itu barulah anak diantar ke lokasi sekolah,” jelasnya.
Selain kesiapan mental, calon peserta didik juga harus memenuhi kriteria usia sekolah sesuai jenjang pendidikan dan berasal dari keluarga tidak mampu. Data acuan yang digunakan adalah Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), khususnya masyarakat miskin yang masuk dalam desil 1 dan desil 2.

*DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial): Ini adalah database pemerintah yang berisi data seluruh penerima bantuan sosial dan potensi sumber kesejahteraan sosial, menjadi dasar penyaluran berbagai program.
“Selama masih ada kuota, silakan didaftarkan. Biasanya menjelang tahun ajaran baru akan ada permintaan tambahan siswa,” tambahnya.
Trianto berharap program Sekolah Rakyat yang saat ini masih berstatus rintisan dapat terus berlanjut dan dikembangkan lebih luas. Ke depan, Sekolah Rakyat direncanakan akan dibangun di setiap kabupaten/kota, termasuk di Kotabaru.
“Kami berharap Sekolah Rakyat bisa dibangun di daerah masing-masing, sehingga anak-anak tidak perlu lagi sekolah jauh ke Banjarmasin. Dari sisi jarak, orang tua tentu berpikir karena anak-anak ini berasal dari keluarga kurang mampu,” tutupnya.
