PUBLIKAINDONESIA.COM– Sepanjang tahun 2025, Indonesia benar-benar berada dalam “mode siaga”. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 43.439 kejadian gempabumi terjadi di berbagai wilayah Tanah Air.


Dari puluhan ribu gempa tersebut, 973 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat, dan 25 kejadian dilaporkan menimbulkan kerusakan. Fakta ini disampaikan langsung Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Sidang Kabinet bersama Presiden Prabowo Subiantondi Istana Negara, Jakarta.
“Sepanjang 2025, mayoritas gempa berkekuatan kecil, namun tetap perlu diwaspadai karena sebagian di antaranya berdampak langsung ke masyarakat,” ungkap Faisal.
BMKG merinci, dari total 43.439 gempa:
-43.286 gempa berkekuatan di bawah Magnitudo 5 (M<5)
-153 gempa berkekuatan Magnitudo 5 ke atas (M≥5)
Meski sebagian besar tergolong gempa kecil, dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Data BMKG menunjukkan bahwa gempa yang dirasakan dan merusak tetap terjadi akibat faktor kedalaman dan kedekatan dengan permukiman.
🔍 10 Ribu Lebih Alat Pantau Aktif 24 Jam
Faisal menjelaskan, akurasi pemantauan ini ditopang oleh lebih dari 10.000 alat deteksi yang tersebar di seluruh Indonesia. Perangkat tersebut beroperasi di 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG, memantau gempa bumi, cuaca ekstrem, hingga potensi tsunami secara real-time.
“Semua terpantau di UPT BMKG dan stasiun-stasiun yang tersebar di 191 daerah dengan lebih dari 10 ribu alat pemantau,” jelasnya.
Tak hanya itu, BMKG juga memasang lightning detector atau alat pendeteksi petir di 38 UPT, guna memetakan lokasi dan intensitas sambaran petir secara akurat.
⚠️ Prakiraan Cuaca Tak Sekadar Hujan dan Panas
Menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang makin kompleks, BMKG kini mengembangkan Sistem Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak atau Impact-Based Forecast (IBF).
Berbeda dengan prakiraan cuaca konvensional, sistem IBF tidak hanya menyampaikan kondisi cuaca, tetapi juga potensi dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat dan sektor strategis.
“Dengan sistem ini, kita bisa memprediksi di mana dan kapan petir terjadi berdasarkan kondisi cuaca di sekitarnya,” kata Faisal.
BMKG menjelaskan, inti dari sistem IBF adalah konsep risiko, yakni irisan antara:
-Bahaya (hazard)
-Keterpaparan (exposure)
-Kerentanan (vulnerability)
Melalui sistem ini, BMKG akan memberikan rekomendasi langkah cepat yang bisa diambil pemerintah daerah, sektor terkait, hingga masyarakat untuk meminimalkan dampak bencana.
🌍 Sejalan Standar Global
Pengembangan IBF merupakan implementasi dari panduan World Meteorological Organization (WMO) serta komitmen Indonesia terhadap UN Hyogo Framework for Action dan UN Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030.
BMKG berharap, sistem prakiraan berbasis dampak ini mampu menekan risiko bencana hidrometeorologi secara signifikan, sekaligus menjadi dasar perencanaan kegiatan di berbagai sektor, dari transportasi hingga energi.
#gempaindonesia #kaleidoskopgempa #gempa #BMKG #MitigasiBencana
