PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Ramadan selalu punya cerita. Tentang azan magrib yang dinanti, tentang meja makan yang penuh warna, dan tentu saja tentang takjil manis yang pertama kali menyentuh lidah setelah seharian berpuasa.


Di antara deretan kue tradisional khas Banjar, ada satu yang tak pernah gagal mencuri perhatian: Amparan Tatak Lakatan.
Kue ini unik. Bukan hanya karena tampilannya yang dua lapis, tapi juga karena perpaduan teksturnya yang kontras namun harmonis. Bagian bawahnya padat dan legit dari beras ketan (lakatan), sementara bagian atasnya lembut gurih dengan sentuhan santan matang yang manis alami.
Dua Lapis, Dua Sensasi
Lapisan pertama dibuat dari 250 gram beras ketan yang direndam minimal satu hingga dua jam. Setelah dikukus setengah matang, ketan diaron dengan santan kental yang sudah direbus bersama garam dan daun pandan. Aroma santan berpadu wangi pandan langsung menyeruak, menghadirkan sensasi khas dapur Banjar.
Ketan kemudian dikukus kembali hingga benar-benar tanak. Rahasianya ada pada proses pemadatan di Loyang ketan harus ditekan hingga benar-benar padat agar tak terpisah saat disiram adonan atas.
Di sinilah fondasi rasa dibangun: legit, gurih, dan mengenyangkan. Cocok sebagai pembuka energi setelah seharian menahan lapar.
Lapis Atas yang Lembut dan Wangi
Bagian atasnya tak kalah menggoda. Campuran tepung beras dan sedikit tepung terigu dipadukan dengan gula pasir, garam, vanili, santan, serta telur kocok. Adonan ini diaduk hingga licin.
Adonan kemudian dituangkan perlahan di atas lapisan ketan, lalu dikukus kembali selama 30 hingga 40 menit. Tutup dandang dibungkus kain agar air tak menetes detail kecil yang menentukan tekstur akhir kue.
Sabar Adalah Kunci
Setelah matang, satu hal penting: jangan tergoda memotong saat masih panas. Amparan Tatak Lakatan harus didinginkan sempurna, bahkan lebih baik jika masuk kulkas selama dua hingga tiga jam. Hasilnya? Potongan rapi, tidak lembek, dan setiap lapisan terlihat jelas menggoda.
Saat disajikan, perpaduan ketan yang padat dan lapisan atas yang lembut menyatu di mulut. Manisnya pas, gurihnya terasa, dan aroma santan-pandannya membangkitkan nostalgia.
Cocok Jadi Primadona Takjil
Di bulan Ramadan, kue ini terasa begitu relevan. Teksturnya yang mengenyangkan membuatnya pas sebagai menu buka puasa sebelum lanjut ke hidangan utama. Rasanya yang manis-gurih juga tidak berlebihan, sehingga tetap nyaman di perut.
Amparan Tatak Lakatan adalah bagian dari identitas kuliner Banjar warisan rasa yang tetap bertahan di tengah gempuran dessert modern.
Saat azan magrib berkumandang, sepotong kue dua lapis ini bisa jadi teman terbaik untuk mengawali berbuka. Hangat, sederhana, dan penuh kenangan.
Tips Anti Gagal
- Padatkan ketan agar tidak terangkat saat ditimpa adonan cair.
- Rebus santan lebih dulu agar aroma keluar maksimal dan kue tidak cepat basi.
- Dinginkan sebelum dipotong agar hasilnya rapi dan cantik disajikan.
#AmparanTatakLakatan #KueBanjar #TakjilRamadan #MenuBukaPuasa #KulinerBanjar #Ramadan1447H #ResepTradisional #KueTradisionalIndonesia #TakjilLegit #InspirasiBukaPuasa

