PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana belajar di Kalimantan Selatan bakal sedikit berbeda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan resmi menerbitkan surat edaran (SE) tentang penyesuaian kegiatan belajar mengajar selama bulan puasa.


Kebijakan ini tak sekadar mengatur jam masuk sekolah, tetapi juga menghadirkan program khusus bernuansa religi untuk para siswa.
Libur Awal Ramadan Khusus Siswa
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menjelaskan bahwa siswa akan mendapatkan libur awal Ramadan selama empat hari, terhitung mulai 18 hingga 21 Februari 2026.
Namun ada catatan penting: libur ini hanya berlaku untuk peserta didik.
“Libur 18 sampai 21 Februari itu hanya untuk peserta didik saja. Sedangkan guru dan tenaga kependidikan tetap masuk seperti biasa mengikuti aturan jam kerja ASN,” ujar Tantri, Jumat (13/2/2026).
Artinya, meski siswa rehat sejenak menyambut awal puasa, aktivitas administrasi dan persiapan akademik di sekolah tetap berjalan normal.
Jam Sekolah Lebih Singkat
Memasuki Ramadan, ritme belajar juga ikut disesuaikan. Jika biasanya kegiatan belajar berlangsung hingga siang atau sore hari, selama bulan puasa jam operasional sekolah dipangkas.
Proses belajar mengajar dijadwalkan mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WITA. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stamina dan konsentrasi siswa selama menjalankan ibadah puasa, tanpa mengurangi esensi pembelajaran.
Ada Pesantren Ramadan
Tak hanya soal jam belajar, sekolah juga akan menggelar program Pesantren Ramadan. Program ini dirancang untuk memperkuat karakter sekaligus memperdalam pemahaman nilai-nilai keagamaan siswa.
Menurut Tantri, momen Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan positif dan meningkatkan kualitas spiritual peserta didik.
“Program ini bertujuan memberikan penguatan karakter dan pendalaman nilai-nilai agama bagi para siswa selama bulan suci,” tambahnya.
Khusus SMA, Libur Tak Terlalu Lama
Menariknya, kebijakan ini tidak sepenuhnya sama di semua jenjang pendidikan. Untuk tingkat SMA, durasi dan pola pengaturan libur dibuat lebih proporsional.
Disdikbud menilai siswa SMA sudah berada di fase menuju dewasa, sehingga efektivitas pembelajaran tetap harus dijaga.
“Untuk anak SMA mungkin sedikit berbeda karena mereka sudah menuju dewasa, jadi jangan terlalu lama libur. Kita atur agar tetap fokus pada pelajaran agama dan kegiatan bermanfaat lainnya melalui Pesantren Ramadan,” pungkas Tantri.
Dengan skema ini, Disdikbud Kalsel berharap Ramadan tetap berjalan khidmat tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. Penyesuaian dilakukan, namun semangat belajar tetap dijaga.
#Ramadan2026 #RamadanKalsel #DisdikbudKalsel #LiburSekolah #PesantrenRamadan #InfoPendidikan #BeritaKalsel #KalimantanSelatan #JadwalSekolah #TrendingKalsel
