PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Pagi masih basah oleh sisa hujan ketika sebuah perahu kecil meluncur pelan di Sungai Martapura.


Di atasnya, seorang nelayan sungai tradisional menarik jaring dengan gerakan yang telah ia hafal sejak puluhan tahun lalu. Namun, seperti hari-hari belakangan, jaring itu tak membawa kabar baik.
Bukan haruan, patin, atau baung yang terangkat ke permukaan. Yang mendominasi justru ikan sapu-sapu ikan yang tak bernilai jual dan kini menjelma menjadi “penghuni tetap” Sungai Martapura.
Fenomena ini menjadi penanda senyap menurunnya kualitas sungai. Sebuah krisis ekologis yang berlangsung perlahan, nyaris tanpa suara, namun dampaknya terasa nyata bagi nelayan yang menggantungkan hidup di sungai yang membelah Kota Banjarmasin itu.
Sungai Martapura sejak lama menjadi nadi kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat Banjar. Sungai Martapura adalah ruang hidup tempat nelayan mencari nafkah, pasar terapung tumbuh, dan tradisi diwariskan lintas generasi.
Namun kini, sungai itu memikul beban berat. Pencemaran dari limbah domestik, aktivitas industri, sampah rumah tangga, hingga tekanan pembangunan kota terus menggerus kualitas air.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan secara konsisten menyoroti kondisi Sungai Martapura sebagai cerminan krisis ekologis di wilayah tersebut. Walhi menilai Sungai Martapura menghadapi ancaman serius akibat pencemaran berat, pendangkalan, dan kerusakan daerah tangkapan air.

Sementara bagi nelayan tradisional, kondisi ini berdampak langsung: hasil tangkapan menurun, ikan bernilai ekonomis semakin langka, dan biaya hidup kian tak sebanding dengan hasil melaut.
Sejumlah kajian ilmiah bahkan mengungkap keberadaan partikel mikroplastik di aliran Sungai Martapura.
Mikroplastik ini berpotensi mengganggu ekosistem perairan, kesehatan ikan, hingga berujung pada risiko kesehatan manusia sebuah ancaman berlapis yang sering luput dari perhatian.
Cerita nelayan lama di kawasan Martapura menyebutkan, ikan endemik seperti belida Borneo kini semakin sulit didapat. Jika dulu tangkapan bisa diandalkan setiap pekan, kini dalam sebulan belum tentu sekali.
Di sisi lain, risiko keselamatan nelayan juga tak bisa diabaikan. Aktivitas menangkap ikan di sungai yang arusnya berubah-ubah, ditambah cuaca ekstrem dan padatnya lalu lintas perairan, membuat profesi ini semakin rawan.
Kasus nelayan pelunta ikan yang sempat dilaporkan hilang di Sungai Martapura menjadi pengingat betapa rentannya kehidupan di atas air.
Urbanisasi di Banjarmasin mendorong pertumbuhan permukiman di sepanjang bantaran sungai. Ruang hidup kian padat, sementara daya dukung lingkungan kian terbatas.

Sungai yang dulu lapang kini menyempit, kualitas habitat ikan tertekan, dan produktivitas nelayan pun ikut menurun.
Ancaman lain datang dari perubahan iklim. Kenaikan muka air laut secara bertahap membuka potensi intrusi air asin ke wilayah perairan tawar.
Jika tak diantisipasi, perubahan kadar salinitas bisa mengganggu keseimbangan ekosistem sungai dan mempercepat degradasi populasi ikan air tawar.
Di tengah tantangan itu, secercah peluang tetap ada. Pemerintah Kota Banjarmasin mulai mendorong pengembangan wisata sungai melalui penataan siring dan kawasan tepian Sungai Martapura.
Upaya ini diharapkan tak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat bantaran, termasuk nelayan tradisional.
Festival budaya seperti Pasar Terapung Lok Baintan pun masih menjadi magnet. Ribuan jukung tradisional yang hilir mudik membawa hasil bumi dan tangkapan ikan menunjukkan bahwa sungai belum sepenuhnya kehilangan denyut kehidupannya.
Namun pertanyaannya, apakah nelayan tradisional bisa ikut menikmati peluang itu? Ataukah mereka hanya menjadi saksi perubahan, sementara ruang hidupnya kian menyempit?
Di tengah denyut kota yang terus bergerak, Sungai Martapura menyimpan cerita sunyi tentang nelayan yang bertahan, sementara alam perlahan menyerah.
Dominasi ikan sapu-sapu dalam jaring nelayan bukan fenomena biologis, melainkan sinyal kuat bahwa keseimbangan ekosistem sedang terganggu.
Sungai martapura belum mati. Tapi jelas, ia sedang lelah.
Dan di atas perahu-perahu kecil itu, nelayan Sungai Martapura terus bertaruh antara bertahan dengan cara lama, atau berubah di tengah arus zaman yang tak selalu berpihak.
#NelayanMartapura #SungaiMartapura #NelayanTradisional #Banjarmasin #KotaSeribuSungai #KrisisLingkungan #PencemaranSungai #EkologiSungai #PasarTerapung #WisataSungai #BanuaKita #Kalsel #PerikananTradisional #EkonomiLokal #Lingkungan #BanuaKita #KalselBicara
