PUBLIKAINDONESIA.COM, TANAH LAUT – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan melalui pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan silvopastura sebagai bagian dari dukungan terhadap Program RBP REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus).


Program ini menjadi langkah strategis untuk menekan laju deforestasi dan degradasi hutan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Komoditas yang dikembangkan meliputi kopi, kemiri, serta integrasi peternakan sapi dan kambing dalam sistem silvopastura.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di sejumlah wilayah kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), di antaranya KPH Tanah Laut, KPH Kusan, KPH Hulu Sungai, dan KPH Tabalong.
Pelaksanaannya melibatkan kelompok tani hutan (KTH) sebagai penerima manfaat utama, dengan dukungan penuh dari pemerintah desa setempat.
Selain pengembangan sentra produksi HHBK, program ini juga didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana produksi hingga pascapanen.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil hutan sekaligus mendorong pengelolaan hutan yang lebih produktif dan ramah lingkungan.
Melalui pendekatan ini, Dinas Kehutanan Kalsel menegaskan komitmennya untuk menjadikan hutan tidak hanya sebagai penyangga ekologi, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
#REDDPlus #HHBKKalsel #HutanLestari #DinasKehutananKalsel #Silvopastura #KehutananBerkelanjutan #EkonomiHijau #KalimantanSelatan
