PUBLIKAINDONESIA.COM, TANAH BUMBU – Suasana halaman depan Masjid Agung Al Falah, Senin (23/2/2026), mendadak lebih hidup dari biasanya. Aroma kue tradisional menyeruak di udara, tawa warga bersahut-sahutan, dan lapak-lapak UMKM berjajar rapi dalam tajuk besar: Pasar Wadai Ramadan “Aksi Bejual Wadai.”


Pasar Ramadan tahunan ini resmi dibuka langsung oleh Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif. Momen ini menjadi penegasan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah spiritual tetapi juga kebangkitan ekonomi kerakyatan.
Dalam sambutannya, Bupati menekankan bahwa Pasar Wadai bukan hanya ruang transaksi kuliner.
“Tradisi ini tumbuh dari nilai kebersamaan, kearifan lokal, dan semangat berbagi,” ujarnya.
Di setiap kuliner yang tersaji dari kue klasik khas Banua hingga menu berbuka kekinian tersimpan cerita lintas generasi. Bukan hanya rasa manisnya yang dijual, tetapi juga identitas dan sejarah yang diwariskan turun-temurun.
Pasar Wadai tahun ini bukan hanya tentang berburu takjil favorit. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara budaya, ekonomi, dan spiritualitas.
Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata berkomitmen menjaga tradisi ini tetap hidup dan relevan. Sebab di sinilah pelaku UMKM punya panggung untuk menunjukkan kreativitas produk lokalnya.
Perputaran uang selama Ramadan dinilai mampu mendongkrak pendapatan masyarakat secara signifikan. Efek dominonya terasa: produksi meningkat, pemasaran meluas, dan roda ekonomi berputar lebih cepat.
Bagi warga, Pasar Wadai adalah nostalgia.
Bagi pelaku usaha, ini momentum cuan.
Bagi pemerintah, ini fondasi ekonomi berbasis budaya.
Ramadan di Tanah Bumbu tahun ini bukan hanya bulan penuh berkah tetapi juga bulan penuh peluang.
#PasarWadaiTanbu #AksiBejualWadai #RamadanTanahBumbu #UMKMBangkit #EkonomiKerakyatan #KulinerBanua #BeritaTanahBumbu #Ramadan1447H

