PUBLIKAINDONESIA,BANJARMASIN – Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) melalui Kantor Wilayah DJPb Provinsi Kalimantan Selatan melaporkan kondisi ekonomi dan fiskal Kalimantan Selatan menunjukkan performa positif pada awal tahun 2026. Hingga akhir Januari 2026, daerah ini dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.


Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Wibowo, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada Triwulan IV 2025 mencapai 5,46 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) atau 5,22 persen secara kumulatif (c-to-c). Capaian tersebut menempatkan Kalsel sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di regional Kalimantan.
“Pertumbuhan ini menunjukkan fondasi ekonomi Kalimantan Selatan tetap kuat dan resilien. Di tengah berbagai tantangan, aktivitas ekonomi daerah masih mampu tumbuh di atas rata-rata nasional,” ujarnya di Banjarmasin, Jumat (27/2/2026).
Dari sisi fiskal, realisasi Belanja Negara hingga Januari 2026 mencapai Rp2,82 triliun atau 9,81 persen dari total pagu Rp28,77 triliun. Porsi terbesar dialokasikan untuk penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp2,51 triliun.
Menurut Catur, percepatan belanja di awal tahun menjadi sinyal positif dalam menjaga daya dorong ekonomi daerah. “Belanja negara yang mulai efektif digulirkan sejak awal tahun diharapkan mampu menopang aktivitas ekonomi serta mendukung program prioritas pembangunan di daerah,” jelasnya.
Sementara itu, kinerja APBD pada awal tahun mencatatkan surplus sebesar Rp1,21 triliun. Surplus tersebut menunjukkan ruang fiskal daerah yang sehat serta memberikan fleksibilitas bagi pemerintah daerah dalam membiayai program pembangunan.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Kalimantan Selatan hingga Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$877,35 juta. Meski mengalami kontraksi tipis 1,10 persen (yoy), surplus tetap terjaga. Nilai ekspor Januari tercatat US$948,19 juta, terkontraksi 4,7 persen akibat penurunan volume komoditas utama seperti batubara dan CPO, sedangkan nilai impor tercatat US$70,84 juta.
Di sektor harga, inflasi Kalimantan Selatan pada Januari 2026 tercatat 4,66 persen (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,28, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy). Secara bulanan (month-to-month), Kalsel mengalami inflasi 0,20 persen, berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang mencatat deflasi 0,15 persen.
“Tekanan inflasi bulanan terutama dipicu kenaikan harga emas perhiasan, bayam, dan daging ayam ras. Namun beberapa komoditas seperti bawang merah, cabai merah, dan tarif angkutan udara turut memberikan andil deflasi sehingga membantu menahan laju inflasi,” jelas Catur.
Ia menegaskan, capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,46 persen (yoy) pada Triwulan IV 2025—lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,39 persen—menjadi bukti resiliensi ekonomi Kalimantan Selatan.
“Kami optimistis, dengan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah serta pengelolaan fiskal yang prudent, momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga sepanjang 2026,” pungkasnya.

