PUBLIKAINDONESIA.COM – Persepsi bahwa Kalimantan relatif aman dari ancaman gempa kini harus ditinjau ulang. Data terbaru dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) menunjukkan peningkatan jumlah sesar aktif di Pulau Kalimantan secara signifikan.


Dibanding peta tahun 2017 yang hanya mencatat 3 sesar aktif, revisi 2024 mengungkap 10 sesar aktif tersebar di berbagai wilayah Kalimantan. Perubahan ini menjadi dasar penting untuk strategi mitigasi gempa dan edukasi bahaya gempa Indonesia.
Pembaharuan pada peta gempa 2024 bukan hanya soal angka. Metodologi dan data terbaru telah diintegrasikan, menjadikan pemetaan sesar lebih detail, akurat, dan relevan dengan kondisi geologi terkini.
Jumlah sumber gempa dangkal di Indonesia pun meningkat dari 273 (2017) menjadi 401 (2024) mengindikasikan pemahaman yang lebih tajam terhadap kerentanan gempa di berbagai wilayah termasuk Kalimantan.
Sesar aktif adalah patahan atau rekahan di kerak bumi yang masih bergerak secara tektonik. Pergerakan sesar ini dapat memicu gempa meskipun tidak sebesar di zona subduksi seperti di Sumatra atau Jawa.
Aktivitasnya sering menghasilkan gempa dangkal di dekat permukiman, yang berpotensi menimbulkan kerusakan lebih nyata dibanding gempa dalam.
Berdasarkan data hasil pembaruan dan temuan BMKG serta studi sebelumnya, berikut beberapa sesar aktif yang diidentifikasi di Pulau Kalimantan:
✔️ Sesar Meratus membentang panjang di selatan Kalimantan, terkait gempa yang mengguncang wilayah Banjar pada 2024.
✔️ Sesar Mangkalihat berada di bagian timur Kalimantan, dikenal dari peta lama dan tetap relevan.
✔️ Sesar Tarakan tercatat sebagai salah satu zona paling aktif, dengan catatan gempa besar sejak awal abad ke-20.
Selain itu, sesar-sesar lain yang kini masuk dalam peta 2024 menunjukkan aktifnya struktur geologi di wilayah Kalimantan Barat, Tengah, dan Utara, meskipun intensitas gempa umumnya lebih rendah dibanding bagian utara Indonesia.


Sejarah gempa di Kalimantan mendukung rekomendasi peta baru ini. Misalnya:
📌 Tarakan mencatat gempa besar pada 1923, 1925, 1936, bahkan hingga 2025 dengan magnitudo hingga M7,0, menunjukkan adanya ancaman seismik nyata di utara Kalimantan.
📌 Sesar Meratus juga pernah memicu gempa M4,7 yang terasa luas di Kalimantan Selatan pada Februari 2024.
Kedua contoh tersebut mempertegas bahwa Kalimantan bukan sepenuhnya “aman gempa”aktivitas sesar lokal tetap memegang peranan penting terhadap seismisitas regional.
Masyarakat di Kalimantan kini dihadapkan pada tantangan baru: memahami bahwa gempa bisa terjadi meskipun frekuensinya lebih rendah dibanding Sumatra atau Jawa. Intensitas gempa dangkal yang dekat permukiman dapat berpotensi merusak tergantung pada kualitas struktur bangunan dan kesiapan mitigasi lokal.
Pemetaan sesar yang lebih komprehensif diharapkan membantu otoritas setempat, perencana kota, dan masyarakat umum dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana, memperkuat bangunan tahan gempa, dan membangun budaya sadar risiko seismik di Kalimantan.
❗Peringatan : Post ini adalah kajian potensi gempa. Waktu kejadian gempa dan tsunami tidak dapat diprediksi secara tepat.
#GempaKalimantan #SesarAktif #PetaGempa2024 #PuSGeN #BMKG #SesarMeratus #SesarTarakan #SesarMangkalihat #MitigasiBencana #BorneoSeismicRisk #KalimantanAware #BeritaKalimantan #RisikoGempaIndonesia
