PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Ramai diperbincangkan di media sosial, komunitas penggemar klub Italia Torino FC, Indotorino, akhirnya buka suara. Melalui pernyataan resminya, mereka meluruskan sejumlah pertanyaan sekaligus komentar miring yang belakangan muncul.


Dalam rilis yang disampaikan admin komunitas, Indotorino menegaskan bahwa mereka bukan komunitas dadakan.
Indotorino menyebut telah berdiri sejak 2014. Aktivitas komunitas memang lebih banyak berlangsung di platform seperti Twitter (X) dan Instagram, sehingga tidak semua pecinta sepak bola Indonesia familiar dengan keberadaan mereka.
“Indotorino sudah berdiri sejak 2014, hanya saja lebih aktif di Twitter dan Instagram,” tulis pernyataan tersebut.
Komunitas ini bahkan telah beberapa kali mendapat sorotan media, baik nasional maupun internasional, seperti Tempo, The Jakarta Post, hingga La Stampa dari Italia.
Tak hanya sebatas komunitas biasa, Indotorino juga mengungkapkan bahwa sejak 2020 mereka telah terdaftar sebagai fan base resmi yang diakui langsung oleh Torino Football Club.
Pengakuan tersebut menjadi legitimasi bahwa komunitas ini memiliki hubungan formal dengan klub berjuluk Il Toro tersebut.
Menanggapi komentar warganet yang mempertanyakan alasan mendukung Torino klub yang tak sebesar Juventus atau AC Milan di Italia, Indotorino menegaskan bahwa komunitas ini terdiri dari lebih dari 20 orang dengan latar belakang berbeda.
Alasan mereka pun beragam. Ada yang mengidolakan mantan pemain seperti Marco Ferrante, ada yang terkesan dengan Ciro Immobile, bahkan ada yang mulai menyukai Torino lewat gim Football Manager (FM).
“Jangan menghakimi selera orang. Selama tidak merugikan siapa pun, dukungan terhadap klub adalah hak masing-masing,” tulis admin.
Komunitas ini juga menepis anggapan bahwa mereka fans musiman. Rata-rata anggota Indotorino berusia di atas 30 tahun, dengan domisili yang tersebar di berbagai kota seperti Bekasi, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga ada yang rutin bepergian Turin–Bali.
Artinya, komunitas ini diisi oleh penggemar yang serius dan memiliki kedekatan emosional dengan klub tersebut.
Dalam pernyataannya, Indotorino memberikan analogi sederhana: selera sepak bola sama seperti selera musik. Ada yang menyukai Dewa 19, ada pula yang menyukai King Nassar.
“Ini soal preferensi. Kita tidak perlu menghakimi kenapa seseorang menyukai sesuatu,” tulis mereka.
Menutup klarifikasinya, Indotorino menyampaikan pesan toleransi dalam dunia sepak bola:
“layaknya beragama, Klub favorit kamu urusan kamu, klub favorit kami urusan kami.”
Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa perbedaan pilihan dalam sepak bola seharusnya menjadi warna, bukan sumber perpecahan.
#Indotorino #TorinoFC #SerieA #FansTorino #KomunitasSepakBola #SepakBolaItalia #BeritaBola #FanbaseIndonesia #TorinoFans #ViralMedsos #FootballCulture
