PUBLIKAINDONESIA.COM – OPINI


Di Bumi Lambung Mangkurat tanah yang dipenuhi banjirnya sungai, budaya yang kuat, dan ritme kehidupan yang damai namun berenergi musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.
Lagu bukan hanya tentang hiburan, tetapi pengantar ingatan, penanda waktu, dan saksi perjalanan kehidupan. Di antara sekian banyak nama musisi yang akrab di telinga Banua, Sheila On 7 memiliki tempat khusus: bukan hanya sebagai band favorit, tapi sebagai bagian dari kisah kolektif generasi.
Sejak era 90-an dan awal 2000-an, lagu-lagu Sheila On 7 berulang kali mengalun di radio-radio lokal, warung kopi, kamar-kamar remaja, hingga ruang keluarga.
Lagu seperti Dan, Kita, dan Pemuja Rahasia bukan hanya didengar ia dirasakan dalam nadi kehidupan sehari-hari. Ketika anak muda menunggu bus damri, atau ketika hujan turun di malam hari, nada-nada itu muncul seketika sebagai soundtrack tanpa disadari.
Dalam konteks ini, Bumi Lambung Mangkurat menjadi lebih dari sekadar lokasi konser. Ia menjadi ruang hidup di mana musik dan kehidupan bersinggungan melahirkan kenangan, keterikatan emosional, dan hubungan lintas generasi.
Setelah hampir 7 tahun absen memenuhi panggung Borneo, Sheila On 7 kembali dijadwalkan tampil pada Buzz Youth Fest #4 di Amanah Borneo Park, Banjarbaru pada 24 Januari 2026.
Kabar ini disambut antusias oleh para Sheila Gank, julukan untuk basis penggemar setia mereka yang tersebar di Kalimantan Selatan bahkan luar pulau.
Sejarah kehadiran Sheila On 7 di Bumi Lambung Mangkurat tak selalu manis. Pada 23 Februari 2004, sebuah konser mereka di Stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin berubah menjadi tragedi.
Ribuan penonton yang keluar bersamaan pasca pertunjukan menyebabkan empat orang remaja tewas terinjak dan puluhan lainnya luka karena desakan massa.
Kejadian naas itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan komunitas musik di Banua. Seharusnya musik menjadi ruang bahagia, tetapi sekaligus menegaskan bahwa keramaian tanpa pengelolaan dan keselamatan yang kuat bisa berujung pada kehilangan yang tak terkatakan.
Tragedi ini kemudian meredam kegiatan konser besar di wilayah tersebut selama beberapa waktu, menjadi pelajaran penting tentang kesiapan pengamanan, kapasitas venue, dan kesadaran publik.
Sheila On 7 sempat menjadi penanda zaman melampaui usia hit, melodi, dan lirik. Bagi generasi yang kini menjadi orang tua, lagu-lagu mereka adalah pengingat masa muda; bagi generasi baru, ia adalah jendela menuju masa ketika cinta, persahabatan, dan mimpi masih dibicarakan tanpa filter digital.
Meski tragedi pernah terjadi, musik mereka tetap hidup. Ia tak hanya menciptakan nostalgia, tetapi menjadi medium refleksi tentang bagaimana konser dan budaya populer harus dipandang secara utuh: lengkap dengan tawa, kenangan, dan tanggung jawab keselamatan.
Kembalinya Sheila On 7 ke Kalimantan Selatan adalah cermin dari hubungan emosional yang kuat antara musik dan masyarakat Banua. Ini adalah momen pertemuan kembali dengan sejarah, pengingat masa-masa yang penuh warna, dan penanda bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyatukan dalam suka maupun duka.
Musik bukan hanya suara ia adalah cerita, pengingat, dan sejarah yang masih hidup di setiap sudut Bumi Lambung Mangkurat.
Hadi Wiranata Pimpinan Publika Indonesia
#SheilaOn7 #BuzzYouthFest2026 #Banjarbaru #BorneoMusic #KonserSheilaOn7 #SheilaGank #StadionLambungMangkurat #MusikIndonesia #SejarahMusik
