PUBLIKAINDONESIA.COM – Ketegangan geopolitik antara Uni Eropa (EU) dan Amerika Serikat (AS) memanas di tengah klaim terbaru Presiden AS Donald Trump terkait Greenland, sebuah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Pusat perdebatan ini bukan sekadar soal wilayah tapi juga masa depan aliansi militer paling penting di Barat: NATO.


Laporan terbaru menunjukkan bahwa pejabat Uni Eropa tengah menyiapkan rencana strategis untuk menghadapi kemungkinan konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat, jika upaya AS untuk menguasai atau memperluas kendali atas Greenland berlanjut.
Pernyataan itu muncul di tengah tekanan diplomatik dan kekhawatiran bahwa konfrontasi tersebut bisa menjadi “momen yang mengubah aturan main” dalam hubungan transatlantik yang telah berlangsung lebih dari delapan dekade sejak berdirinya NATO.
🇪🇺 Eropa Siap Bela Greenland
Sejumlah pemimpin di Eropa menyuarakan bahwa Greenland bukan untuk diperjualbelikan atau diambil alih secara sepihak. Bahkan, Komisioner Uni Eropa untuk Pertahanan dan Luar Angkasa menyatakan bahwa jika Amerika mencoba menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih wilayah tersebut, hal itu berpotensi mengakhiri keberadaan NATO secara faktual sebuah organisasi yang menjadi pilar keamanan Eropa dan Amerika sejak Perang Dunia II.
Pernyataan ini mendapat dukungan parlemen dan diplomasi di Eropa, yang menegaskan bahwa Greenland harus menentukan nasibnya sendiri, di bawah Denmark atau sekutu yang menghormati hak dan kedaulatannya.
🇺🇸 AS dengan Klaim dan Tekanan
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump secara berulang kali menyebut bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan nasional Amerika, terutama dalam konteks persaingan dengan kekuatan seperti Rusia dan China di wilayah Arktik.
Meski belum ada kepastian langkah militer, Trump tidak menutup kemungkinan penggunaan segala opsi, termasuk yang tegas, untuk memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut.
Ketegangan ini semakin pelik karena Greenland sendiri, melalui pemerintahnya, telah menegaskan kehendak kuat untuk tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan di bawah payung NATO, sambil membuka dialog damai dengan semua pihak yang berkepentingan.
🌍 Risiko Geopolitik Global Lebih Luas
Situasi ini bukan hanya sekadar perselisihan bilateral. Banyak analis internasional melihatnya sebagai titik kritis dalam hubungan transatlantik, yang berpotensi menguji kembali solidaritas dan nilai-nilai dasar kerja sama antara Eropa dan Amerika Serikat.
Jika terjadi konflik terbuka tentang Greenland, bukan hanya hubungan NATO yang bisa terkoyak posisi geopolitik kedua belah pihak secara global bisa berubah drastis.
Eropa dan AS: Damai atau Ketegangan?
Meski isu ini masih berkembang dan tidak pasti apakah akan berujung pada konfrontasi militer, apa yang terjadi menunjukkan dinamika baru dalam hubungan internasional abad ke-21: ketika sekutu lama bisa saling bersitegang, bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga identitas, kedaulatan, keamanan, dan masa depan aliansi yang sudah berumur puluhan tahun.
Catatan: Beberapa laporan media internasional juga menyebut bahwa meskipun EU mempersiapkan diri dan meningkatkan kesiapsiagaan, banyak pemimpin Eropa tetap meragukan bahwa AS benar-benar akan menggunakan kekuatan militer secara langsung untuk menyelesaikan klaimnya atas Greenland.
