PUBLIKAINDONESIA.COM – Purwokerto – Oslo – Solo mungkin tidak pernah berada dalam satu kalimat yang sama. Namun dunia black metal membuktikan bahwa lintas benua bukan halangan untuk menciptakan momen-momen tak terduga. Dua band berbeda benua menghadirkan “pertukaran budaya” yang sama-sama unik: Santet menebar “sihir hitam” di Eropa, sementara Belphegor justru terpikat… oleh pohon pisang di Solo.

Unit black metal Santet, yang sudah berdiri sejak 1997, tengah memulai tur Eropa mereka pada November ini. Band asal Purwokerto itu dijadwalkan tampil di Revolver Mollergata, Oslo, pada 21 November, kemudian lanjut ke Gamla Enskede Brygeri, Stockholm, 22 November.
Kehadiran Santet di Eropa bukan sekadar tur biasa. Mereka dikenal dengan karakter black metal yang pekat oleh nuansa okultisme Jawa penuh atmosfer gelap, ritualistik, dan tanpa kompromi. Identitas itulah yang menjadikan Santet salah satu kekuatan paling mencolok di kancah underground Indonesia.

Di sisi lain, kedatangan band blackened death metal Austria Belphegor ke Indonesia justru menelurkan kejadian yang tak kalah mengejutkan. Usai mendarat di Solo untuk tampil di Rock In Solo 2025, para personelnya tiba-tiba membuat permintaan yang bikin panitia terheran-heran: mereka ingin berfoto di depan pohon pisang.
Permintaan itu diungkap oleh Sylvia, salah satu tim festival. Menurutnya, Belphegor menganggap pemandangan pohon pisang sangat eksotis dan jarang ditemukan di negara asal mereka.
Tak lama kemudian, foto para personel Belphegor berpose dengan latar pohon pisang diunggah ke akun resmi band tersebut. Postingan itu langsung viral, memicu gelak tawa dan keheranan para penggemar yang tak menyangka band se-sangar itu bisa terpukau oleh kebun sederhana di Solo.
Meski tidak sedramatis kisah kelam rilisan-rilisan Mayhem, momen “pertukaran budaya” ini jelas menjadi salah satu kejadian paling unik di skena metal tahun ini. Dan kemungkinan besar momen kayak begini mungkin nggak bakal terulang lagi.
