PUBLIKAINDONESIA.COM, BANJARBARU – Anggota DPRD Kota Banjarbaru Komisi II, Emila Sari, menyoroti kelangkaan bahan bakar jenis Pertamax yang dalam beberapa pekan terakhir dikeluhkan masyarakat di sejumlah SPBU di Banjarbaru. Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan BBM nonsubsidi, bahkan dari Banjarbaru hingga kawasan Ulin.

Emila Sari menyampaikan bahwa dirinya juga mengalami langsung sulitnya mendapatkan Pertamax saat mengisi BBM sepulang dari kantor.
“Sepanjang SPBU yang saya lewati itu sering habis. Awalnya saya curiga, tapi kok makin ke sini makin sulit didapat,” ujarnya.
Ia mengaku sudah melakukan komunikasi dengan pihak Pertamina untuk meminta penjelasan sekaligus solusi atas kondisi di lapangan.
Berdasarkan penjelasan Pertamina, kelangkaan ini disebabkan adanya perpindahan signifikan pengguna dari Pertalite ke Pertamax, menyusul maraknya isu terkait dugaan Pertalite oplosan
beberapa waktu terakhir.
“Menurut Pertamina, peningkatan pengguna Pertamax cukup tinggi karena masyarakat mulai beralih akibat isu-isu soal Pertalite oplosan itu. Jadi tingkat penggunaan naik, sementara pasokan belum mengikuti,” jelasnya.
Untuk meredam kondisi tersebut, Pertamina disebut telah menambah pasokan Pertamax hingga sekitar 40 persen untuk wilayah Kalimantan Selatan, termasuk Banjarbaru.
Selain itu, Emilasari juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi pemberitaan mengenai kualitas Pertalite yang beredar di media sosial. Ia menegaskan bahwa kepercayaan publik menjadi faktor penting yang harus dijaga oleh Pertamina.
“Jangan sampai terjadi panic buying. Pertamina harus bisa membuktikan bahwa pemberitaan itu tidak benar dan memberikan penjelasan yang jelas ke publik. Ini penting supaya masyarakat tidak panik,” tegasnya.
Tambahan Penjelasan Emilasari Terkait Kebijakan Pertalite
Emilasari mengungkapkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah lama mengikuti aturan pemerintah terkait pembatasan Pertalite, seperti kewajiban pendaftaran kendaraan hingga pembatasan nominal pembelian. Kondisi ini otomatis mendorong sebagian besar pengguna beralih ke Pertamax.
“Pertalite itu sudah ada pembatasan pengguna sejak dulu. Tidak semua kendaraan bisa dapat, harus daftar dulu. Bahkan pernah ada aturan hanya boleh mengisi Rp100 ribu. Dengan kebijakan seperti itu, wajar banyak yang pindah ke Pertamax,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa kondisi kelangkaan seharusnya tidak terjadi apabila pasokan mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan.
“Kalau masyarakat sudah diarahkan beralih, ya pasokannya juga harus mampu menjaga agar tetap mencukupi. Ini PR Pertamina untuk memastikan pasokan aman, dan lebih penting lagi, memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas BBM yang mereka produksi,” pungkasnya.
