( Intermezo Imajiner Local Wisdom)


Oleh : Yuri Muryanto Soedarno *).
Hampir tak terasa lebih dari dua puluh tahun tinggal di Pulau Laut, pulau yang berada di sebelah tenggara pulau terbesar ke tiga di bumi (Pulau Kalimantan).
Istri dan anak saya tahu, pulau ini secara pribadi, saya menyebutnya “Sweet Litle Island” (Pulau Kecil yang Menawan).
Dulu, ketika tahun pertama di pulau ini, panorama lautnya membuat gandrung, (maklum, sebelumnya tinggal di daerah yang tak mempunyai laut).
Setelah puluhan tahun tinggal, melihat laut merupakan hal itu sudah mulai biasa.
Bahkan dari rumah pun saya bisa langsung melihat selat laut dan bukit serta gunung gemunung di pulau ini.
Sore itu, saya agak kangen melihat ruang terbuka kota (Siring Laut) yang di bangun dengan menambah daratan, dan kemudian tidak menambah pengurukan laut sebagai daratan, tetapi berkonstruksi tiang pancang dan cor beton bertulang di atas laut.
Ketika pertama hadir di pulau ini, bangunan itu belum ada.
Ada satu hal yang menggelitik hati saya siang itu. Keinginan itu seperti ada daya aneh.
Waktu anak saya masih kecil, tempat inilah yang menjadi favorit untuk mengajaknya liburan (refreshing ) di pagi atau sore pada hari minggu.
Pandangan menatap diantara tonggak tonggak pohon ulin sebagai penahan penambahan daratan, yang menancap di antara urugan tanah dengan tiang pancang bangunan di atas laut.
Pohon Ulin ( Eusideroxylon Zwageri ), ada yang menyebutnya Pohon Kayu Besi atau menyebutnya Pohon Balian, yang konon sengaja di tancapkan untuk menahan tanah dan lumpur pada awal pembangunannya.

Dari pintu gerbang ruang terbuka, bila di tarik garis lurus ada tulisan SIRING LAUT dan KOTABARU. Anggaplah tulisan Siring Laut di sisi kiri, dan Kotabaru di sisi kanan.
Di belakang, tulisan Siring Laut Kotabaru, ada maskot Ikan Todak / Swordfish (Nama Ilmiah : Xiphias Gladius ; yang berasal dari bahasa Yunani :Xipho, dan Latin : Gladius, yang berarti ‘pedang’ merujuk pada moncongnya yang memanjang, pipih dan runcing yang menyerupai pedang).
Entah hal apa yang membuat saya menghitung jumlah kayu pohon ulin yang . berupa kayu log / gelondongan.
Semua nya berjumlah 46, (itu yang terlihat saja. Dulu konon, lebih banyak dari jumlah tersebut).
Tonggak penahan itu 9 disebelah kiri dan 37 di kanan.
Saat itu seorang teman, alumni Tehnik Sipil dari universitas terkenal di Kalimantan, turut juga menghitung tonggak tonggak yang terlihat.
Entah pikiran aneh dari mana, saya menerawang liar.
Gabungan jumlah tonggak adalah 46 (4+6= 10), sebelah kanan 37 (3+7= 10), sebelah kiri 9 (angka tunggal 9).
Apakah itu sinyal bahwa perbuatan kanan (baik) harus banyak dilakukan daripada perbuatan kiri (tidak baik). Walaupun kanan atau kiri sebenarnya milik-NYA juga.

Apakah ini suatu imajiner yang nyeleneh saja, apakah ini pertanda di pulau ini perbuatan baik harus lebih banyak dilakukan daripada perbuatan tidak baik.
Walaupun hal tersebut sudah barang tentu di manapun di muka bumi manusia harus banyak menabur benih kebaikan dari pada benih keburukan, karena apapun yang ditabur, itulah yang dituai.

Karena waktu masih sore, kami menuju bukit, dengan pemandangan menawan, (saya menyebutnya Swordfish Highlands, secara umum di sebut Bukit Mamake, oleh masyarakat di sekitar lokasi itu.
Entah kenapa, secara kebetulan bertemulah dengan teman yang sudah lama tak bersua (mantan Kepala Desa / Kades) di tempat tersebut, yang di panggil Pak Oyong (Pak Abdul Muluk).
Dulu, pertama bertemu, rasanya masih jadi Kades.
Lagi lagi secara kebetulan pula.
Dia memulai dengan obrolan tentang Pohon Ulin, yang merupakan salah satu pohon yang akan di tanam secara masal di suatu lokasi.
” Agar anak dan cucu atau buyut bisa tahu dan melihat langsung dengan pohon Ulin Mas”, katanya sambil tersenyum

Sekitar setengah jam sebelum azan magrib, sampailah di rumah dan duduk di gazebo, di satu kursi, yang berbahan limbah akar pohon Ulin.
Pikiran saya teringat pada suatu artikel, yang menjelaskan bahwa ada jenis pohon yang pertumbuhannya relatif lambat.
Pohon itu adalah Ulin, dengan peningkatan diameter hanya sekitar 0.058 cm hingga 0,1 cm setiap tahun.
Pertumbuhan yang relatif lambat, membuat pohon Ulin tersebut sulit berkembang biak secara cepat, sehingga keberadaannya menjadi semakin langka.
Diperlukan usia ratusan tahun, sampai menjadi pohon besar.
Di Kalimantan Timur, Kutai Timur, Taman Nasional Kutai, pada Wisata Alam Sangkima, ada pohon Ulin yang berusia 1.000 (seribu) tahun, berdiameter 2,7 meter, tinggi 20 meter.
Adalah wajar Pohon Ulin menjadi saksi sejarah bagi perjalanan waktu di Kalimantan dengan kearifan lokalnya, dan telah mengetahui sejarah proses peradaban, dengan kebersahajaan sebagai pohon yang sangat penting bagi manusia.
Berarti adalah wajar pohon ini harus dilestarikan. —
Secara kebetulan, tulisan ini juga terilhami dari suatu desa, yang bersebelahan dengan desa yang bernama Gunung Ulin.
(Dusun Bukit Global, Sweet Litle Island, Southeast Kalimantan)
*). Yuri Muryanto, (akrab di panggil Ceppe / Utuh Iyur), alumni FISIP ULM, pernah mengajar di SMK dan di beberapa Perguruan Tinggi serta pernah sebagai Kepala LP3M di salah satu Akademi, pernah bekerja di beberapa perusahaan konsultan / swasta lainnya, pernah menjuarai beberapa lomba karya ilmiah / fiksi / sastra ; kadang menulis tentang lingkungan, traveling, puisi, cerpen, serta menyikapi fenomena sekitar, salah satu Pelopor Mahasiswa Pecinta Alam Fisipioneer, sekarang tinggal di Pulau Laut, mengerjakan yang dia suka.
____________

